Barusan ketemu senior yang sekarang aktif sebagai influencer
politik anak muda. Dimana saya berkaca banyak dari sosoknya. Proses beliau belajar tanpa henti
dari kehidupan, terus berpikir untuk meluaskan wawasan dan pandangan.
Orang yang ngeracunin saya dengan ideologi, pemikiran, ide, gagasan
gila nya, sebagai individu maupun makhluk sosial. Sampe pernah kena marah
temennya sendiri, karena kalau ngobrol kebablasan temennya takut kita jadi
'keracunan' beneran.
Mantan 'hampir' atheis yang sekarang jadi pengagum Gus Dur, Gus Mus
dan Cak Nun. Yang selalu pesen, banyak baca buku dan banyak berteman, kurangi
garis belenggu yang membatasi pikiran.
Salah satu omongannya tadi yang saya ingat, "Dalam hidup itu
sbenernya kita nggak punya pilihan.
Kalau kita bener-bener punya pilihan, disaat kita milih, waktu akan
berhenti. Tapi ini kan nggak, waktu tetap berjalan. Mau nggak mau skenario
takdir lah yang berbicara. Itulah kuasa Tuhan.
Tuhan cuma pingin tau sejauh mana kita berusaha."
Well, kalau kita nggak berusaha, bakalan kayak mayat yang dipaksa
hidup. Tidak ada jejak eksistensi nya. Tenggelam oleh sejarah begitu saja.
*Kemudian semalem ada yang nambahin, "Sejauh mana kita
berusaha utk merubah takdir itu jd lebih baik.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar