Sosiologis telah mempelajari perilaku bullying selama beberapa
dekade terakhir. Mereka tidak menyebutya sebagai ‘bully’, tapi mereka
menyebutnya sebagai perilaku dominasi. Di mana orang lain mencoba mengalahkan
yang lain, perilaku mendominasi dimana orang-orang mencoba berkuasa diatas
orang lain.
Memahami perilaku dominasi ini akan membantu kita dalam bertindak.
Para ahli (peneliti perilaku bullying) setuju pada satu hal, bahwa
bullying terjadi jika ada ketidakseimbangan kekuatan. Mereka, para pelaku,
ingin melihat korbannya kalah, mereka ingin menang dari kamu.
Semakin korban tersebut marah dan emosi, semakin mereka senang.
Tapi apa yang terjadi jika kita SABAR, KUAT secara emosional,
TANGGUH secara mental. Apapun yang dikatakan, kita tidak peduli. Digoda,
diejek, dibully tanpa henti dan kita memutuskan untuk tidak peduli.
Bullying is nothing more than just a game, tentang kalah dan
menang. Dan cara untuk menang adalah dengan tidak marah, tidak emosi. Dengan
begitu pem-bully akan kalah, dan pergi menjauh. It’s so simple!
Jangan marah, apapun yang mereka katakan. Saya tidak bilang itu
mudah, tapi itu harus. It’s very simple!
Kecuali kalo ada seseorang datang dan tiba-tiba menampar, menonjok
atau melukai secara fisik, itu bukan bullying. Itu kriminal! Dan pelaku
kriminal harus dihukum. Jika kamu merasa hidupmu dalam bahaya, kamu harus
melaporkannya ke pihak berwenang.
Ini semua adalah skill sosial yang semua orang harus belajar.
Kalau kamu bisa menguasai hal tersebut, otomatis kamu akan
mendapatkan 3 hal sekaligus :
1.
Harga
diri (Self-esteem)
2.
Kepercayaan
diri (Self-confidence)
3.
Penghormatan
diri (Self-respect)
Kamu akan mendapatkan itu semua, kalau kamu bisa menyelesaikan
masalah sosialmu sendiri.
Itu hal yang setiap korban bullying harus belajar dan lakukan.
Karena korban bullying memiliki hak untuk diajarkan dalam menyelesaikan masalah
sosialnya sendiri, dan itu adalah hal yang kita butuhkan untuk menjadi pribadi
yang lebih baik kedepannya.