Akhir-akhir ini banyak sekali kasus terorisme yang bermunculan di
Indonesia. Teror demi teror terjadi, masyarakat pun menjadi semakin resah dan
merasa tidak aman. Teror tidak hanya terjadi di permukiman, tapi juga di tempat
peribadahan bahkan kantor polisi. Ini menandakan bahwa pelaku teror sudah tidak
memiliki batasan dalam memilih korban. Semua orang bisa menjadi tumbalnya,
tanpa terkecuali. Dengan dalih menegakkan hukum agama Islam paling benar versi
mereka, para teroris ini malah memilih menyebarkan permusuhan dan kekacauan.
Padahal, bukankah agama adalah media untuk menyebarkan kebaikan serta kasih
sayang di muka bumi?
Saya teringat oleh ceramah yang disampaikan Said Aqil Siradj,
selaku Ketua Umum PBNU dalam sebuah acara. Beliau menceritakan tentang kejadian
Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib yang menjadi Amirul Mukminin ketika akan keluar
mengimami Sholat Subuh malah dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam. Yang membunuh
bukan preman, penjahat maupun non-muslim, tapi orang yang ahli puasa, ahli
shalat malam dan hafal Qur’an. Alasannya? Dia menyebutkan jika dalam Al Quran
tertulis, “Barang siapa tidak menjalankan hukum Allah maka kafir.” Menurut dia,
Sayyidina Ali sudah kafir, karena jika akan memutuskan masalah menggunakan cara
musyawarah yang berarti menggunakan hukum hasil manusia, bukan hukum Allah. Inilah
bahayanya membaca Qur’an tapi tidak faham substansi-substansinya. Ini pula yang
menjadi awal mula radikalisme/terorisme.
Pemikiran tersebut sama seperti apa yang diungkapkan oleh para
teroris. Mereka kerap kali mengutarakan, jika hukum yang berlaku di Indonesia
adalah thaghut. Padahal sudah disepakati oleh Ulama-ulama terdahulu, yang tentunya
lebih ‘alim dan berilmu dari para teroris ini, jika NKRI adalah harga mati.
Hubbul wathon minal iman, mencintai negara sebagian dari iman. Kenapa? Jika
kita kehilangan tanah air, maka kita akan kehilangan tempat untuk beribadah dan
menyebarkan kebaikan secara damai.
Indonesia adalah rumah kita. Mengutip
ucapan Nusron Wahid dalam salah satu episode ILC, “Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang ada di
Indonesia”. Indonesia adalah tempat dimana kita lahir,
tumbuh besar, berkembang, belajar, beraktivitas dan menjalani hidup. Bahkan
akan ada saatnya nanti kita mati dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, di tanah
Indonesia. Jika Indonesia rusak, maka Islam pun hancur. Maka jika kita ingin
menjalankan agama Islam ataupun agama lain dengan damai serta sekaligus
menyebarkan kebaikan di muka bumi, maka kita harus mempertahankan dan
memperjuangkan keutuhan NKRI, bukan malah merusaknya. Sekali lagi, karena
Indonesia adalah rumah kita.
(Editorial)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar