Sosiologi adalah pembelajaran sistematis mengenai kehidupan sosial
masyarakat. Hal terpenting dalam ilmu sosiologi adalah memandang peristiwa
sosial dengan spesial atau disebut dengan perspektif sosiologis. Satu cara
terbaik untuk mendefinisikan perspektif sosiologis adalah melihat hal yang umum
secara khusus, menjelaskan bahwa sosiologis mencari pola umum dalam perilaku
khusus masyarakat.
Ketika seorang lelaki dan perempuan
sudah lama berhubungan dekat dan memutuskan untuk menikah, mayoritas masyarakat
akan beranggapan bahwa mereka berdua menikah karena saling jatuh cinta.
Masyarakat menganggap bahwa tidak dapat bahagia
jika tidak dilandaskan atas dasar cinta. Akan tetapi ilmu sosiologi memandang dari
sudut berbeda, memiliki perspektif sendiri. Ahli sosiologi menemukan bahwa
masyarakat, terutama remaja, akan menikah dengan seseorang yang usianya tidak
terpaut jauh dan biasanya mempertimbangkan hal-hal rasial, seperti latar
belakang sosial, tingkat pendidikan, ketertarikan fisik, dan lain sebagainya. Seperti ada pola-pola umum dalam masyarakat yang mendorong mereka
memutuskan dan melakukan apa yang mereka pilih. Seperti itulah perspektif
sosiologi yang melihat pola-pola umum dalam masyarakat tertentu.
Pola-pola umum dalam masyarakat
tersebut membentuk individu untuk memutuskan bertindak. Contoh lain adalah
kenapa penduduk wanita di negara dengan pendapatan per kapita rendah memiliki
anak yang cukup banyak jika dibandingkan dengan negara maju. Hal ini bukan
karena hanya sekedar keinginan semata. Sekali lagi kita lihat dari kacamata
sosiologi. Negara dengan pendapatan per kapita rendah cenderung tidak
memberikan akses pendidikan yang layak atau bahkan tidak ada untuk warga,
lapangan kerja yang sangat sedikit, wanita hanya melakukan aktifitas di rumah,
dan tidak memiliki akses untuk melakukan kontrasepsi. Oleh karena hal-hal
tersebut mereka memiliki anak yang cukup banyak.
Intinya adalah di mana kita tinggal
dengan berbagai pola-pola umum bermasyarakat akan mendorong individu melakukan
suatu hal. Itulah yang dilihat dalam perspektif sosiologi.
PENTINGNYA PERSPEKTIF GLOBAL
Perspektif global adalah ilmu yang
mempelajari tentang dunia yang lebih luas dan masyarakat didalamnya. Pertama,
kesadaran global adalah perluasan logis dari perspektif sosiologis. Sosiologi
menunjukkan kepada kita tempat dalam bentuk masyarakat sosial pengalaman kita
sendiri. Dan, posisi masyarakat kita di dunia yang lebih besar mempengaruhi
semua orang di dunia. Semakin saling terhubung, kita dapat memahami diri kita
sendiri hingga kita juga dapat memahami orang lain.
Mengaplikasikan perspektif sosiologis
dalam kehidupan nyata sangat berguna di segala hal. Pertama, sosiologi
merupakan pedoman bagi penegak hukum dan kebijakan yang dalam pembentukan hidup
kita. Kedua, dalam konteks individual, mendorong kita untuk lebih dewasa dan
memperluas kesadaran. Ketiga, belajar sosiologi adalah persiapan luar biasa
untuk menghadapi dunia kerja.
Sosiologi dan Kebijakan Publik,
sosiologi telah membantu membentuk kebijakan publik dalam segala aspek, dari
segregasi ras dan penyiksaan di sekolah hingga mengatur hukum perceraian.
Sosiologi membantu membentuk kebijakan hukum dan mengatur masyarakat dalam
berkomunikasi dan bekerja. Sosiologi dan Kedewasaan Manusia, dengan mengaplikasikan perspektif
sosiologis dalam kehidupan kita, akan lebih baik menjadi lebih aktif dan sadar untuk
berpikir lebih kritis dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan keuntungan
sosiologi dalam empat cara; membantu kita untuk mengkaji kebenaran dari akal
sehat, melihat keuntungan, memberdayakan untuk aktif dalam masyarakat dan
membantu kita untuk hidup dalam dunia yang berbeda-beda.
MENERAPKAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI
Perspektif sosiologi sangat berguna
dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, sosiologi membantu dalam membentuk
kebijakan umum. Perbedaaan ras yang sejak lama lebih meninggikan kulit putih
dan sangat merendahkan kulit hitam akhirnya dihilangkan dengan membuat
undang-undang mengenai kekerasan rasis yang berlaku di seluruh dunia. Contoh
lain adalah ahli sosiologi, Lenone Weitzman (1985, 1996) meneliti bahwa
perceraian memengaruhi pendapatan wanita yang bercerai berkurang. Oleh karena
itu, banyak negara bagian yang memberlakukan hukum hak kepemilikan sang Ibu
saat menikah dan kewajiban sang Ayah untuk memberikan bantuan untuk membesarkan
anak mereka. Kedua, sosiologi dapat mengembangkan pribadi seseorang. Kita akan
menjadi lebih aktif dan sadar untuk berfikir kritis dalam menyikapi
kejadian-kejadian dalam keseharian kita.
ASAL MULA SOSIOLOGI
Perubahan sosial yang sangat cepat
di Abad XVIII dan XIX membuat masyarakat lebih sadar dan mengamati terhadap apa
yang ada di sekelilingnya dan membantu memicu perkembangan sosiologi. Beberapa
hal itu adalah peningkatan ekonomi industri yang berpindah dari rumah ke
pabrik, meledaknya pertumbuhan penduduk di kota yang menciptakan beberapa
masalah seperti criminal dan gelandangan, dan perubahan politik berdasarkan
kepada kebebasan pemikiraan individu dan hak-hak individu mendorong masyarakat
untuk ingin tahu tentang struktur sosial.
August Comte, yang kita tahu sebagai
Bapak Sosiologi, menamai sosiologi di tahun 1838 untuk menjelaskan cara baru
dalam memandang masyarakat. Hal ini membuat sosiologi sebagai salah satu
disiplin ilmu yang lebih dulu ada, jauh sebelum ilmu sejarah, fisika, atau
ekonomi.
Comte melihat sosiologi sebagai
produk dari tiga tahap bermasyarakat. Berawal dari tahap theologi, orang
memandang dari segi religius yaitu masyarakat adalah hasil espresi dari
keinginan Tuhan. Selanjutnya, masa rennaisans abad XV, orang memandang
masyarakat sebagai sesuatu yang alami dari manusia bukan suatu sistem supranatural.
Kemudian Comte menerapkan pendekatan ilmiah yang disebut positivism, yaitu cara
untuk mengetahui berdasarkan ilmu pengetahuan. Comte percaya bahwa masyarakat
bekerja berdasarkan hukum yang mereka buat. Mulai pada awal Abad XX sosiologi
menyebar di Amerika Serikat dan memperlihatkan pengaruh dari pemikiran Comte.
TEORI SOSIOLOGI
Pemahaman dalam mempelajari
sosiologi dibutuhkan landasan berupa teori-teori. Teori adalah sebuah penyataan
bagaimana dan mangapa fakta-fakta berhubungan yang digunakan untuk menjelaskan
perilaku sosial dalam dunia nyata. Dalam membangun teori, ahli sosiologi
melihat dua pertanyaan dasar: issu apa yang perlu dipelajari? Dan bagaimana
kita menghubungkan fakta-fakta? Dalam proses dalam manjawab pertanyaan
tersebut, ahli-ahli sosiologi melihat satu atau lebih pendekatan sebagai
gambaran dasar dari masyarakat yang memandu berfikir dan meneliti.
Ahli-ahli sosiologi menggunakan tiga
teori pendekatan utama: pendekatan struktural-fungsional, pendekatan konflik
sosial, dan pendekatan interaksi simbolik.
Pendekatan struktural fungsional
adalah kerangka untuk membangun teori yang melihat masyarakat sebagai sebuah
sistem kompleks dimana bagian-bagiannya bekerja bersama untuk membangun
kekompakan dan keseimbangan. Sesuai dengan namanya, pendekatan ini menuju
kepada struktur sosial di mana terdapat pola perilaku sosial yang stabil.
Herbert Spencer (1820-1903) membandingkan masyarakat dengan tubuh manusia.
Tubuh manusia terdiri dari berbagai organ yang memiliki peran masing-masing.
Organ-organ tersebut saling berhubungan dan bekerjasama untuk bertahan hidup.
Begitu juga struktur sosial yang saling bekerjasama untuk memelihara kesatuan
masyarakat. Lalu pendekatan stuktural fungsional digunakan para ahli sosiologi
untuk mengidentifikasi berbagai struktur masyarakat dan menginvestigasi peran
masing-masing organ.
Robert K. Merton (1910-2003)
memperluas pengertian tentang konsep peran sosial dengan menunjuk pada berbagai
macam struktur sosial mungkin memiliki banyak fungsi, sebagian jelas fungsinya
dari yag lain. Dia membedakannya menjadi fungsi manifest, yaitu fungsi yang
diketahui dan disengaja, dan fungsi laten, fungsi yang tidak diketahui dan
tidak disengaja. Contohnya fungsi manifest dari pendidikan adalah untuk
memberikan informasi dan skill kepada pemuda yang dibutuhkan untuk terjun ke
dunia kerja.sedangkan fungsi laten dari pendidikan adalah untuk mengurangi
pengangguran.
Tetapi Merton juga berpendapat bahwa
tidak semua pengaruh struktur sosial itu baik, yaitu jika terjadi disfungsi
sosial. Disfungsi sosial adalah pola-pola sosial yang dapat mengganggu jalannya
masyarakat atau organ-organ masyarakat tidak bekerja sesuai perannya dalam
masyarakat tersebut.
Pendekatan konflik sosial adalah
sebuah kerangka untuk membangun teori yang memandang masyarakat sebagai tempat
di mana di dalamnya memiliki ketidaksamaan yang dapat membuat konflik dan
perubahan. Sebuah masyarakat pasti tidak selamanya dalam keadaan seimbang dan
statis, namun akan mengalami kegoncangan atau konflik di dalamnya. Konflik tersebut
akan membuat suatu perubahan dalam masyarakat.
Salah satu jenis konflik sosial yang
penting adalah konflik gender, yaitu ketidaksamaan dan konflik antara pria dan
wanita. Kita tahu bahwa dalam kehidupan kita, pria berada di atas wanita atau
memiliki kekuatan yang lebih kuat: di rumah (pria sebagai kepala keluarga), di
tempat kerja (pria berpenghasilan lebih dan memiliki kendali), dan di media
massa (di Amerika Serikat, lebih banyak bintang hip-hop pria dibanding wanita).
Sejak dahulu wanita lebih dipandang
sebagai seorang yang menikah, hanya di rumah, dan melahirkan. Akan tetapi
semenjak didengungkannya emansipasi wanita atau kesamaan gender, salah satunya
oleh Harriet Martineau (1802-1876) seorang wanita ahli sosiologi yang membela
hak-hak wanita, wanita memiliki kesempatan hidup yang sama dengan pria.
Hal lain yang tidak terlepas
daripendekatan konflik sosial adah konflik ras, yaitu pembedaan masyarakat
berdasarkan ras dan etnik. Dalam konflik ini golongan kulit putih tinggi
derajatnya dibandingkan golongan kulit kuning dan kulit hitam. Pengastaan ini
meletakkan kulit putih pada posisi tertinggi yang merendahkan kulit hitam.
Konflik ini sudah berlangsung sangat lama walaupun sekarang sudah ada tindakan
hokum atas tindakan rasis nyatanya masih saja terjadi walau frekuensinya
sedikit.
Kedua pendekatan tersebut adalah
berorientasi pada level makro atau menyeluruh. Sosiologi juga
menggunakan orientasi pada level mikro yaitu berfokus pada interaksi
sosial pada situasi yang bersifat spesifik.
Pendekatan insteraksi simbolis
adalah kerangka untuk membangun teori yang memandang masyarakat sebagai produk
dari interaksi sehari-hari tiap individu. Pendekatan ini tidak menyarankan
teori-teori besar tentang masyarakat karena yang dapat dipelajari secara
langsung adalah interaksi masyarakat tersebut. Pendekatan ini lebih mengarah ke
pemahaman individu atau kelompok kecil dalam suatu masyarakat, bukan kelompok
besar. Masyarakat menggunakan simbol-simbol khusus dalam berkomunikasi, baik
itu verbal maupun non-verbal. Simbol verbal berupa percakapan lisan, berupa
bahasa, antar individu atau antarkelompok. Sedang simbol non-verbal berupa
selain percakapan lisan, dapat berupa tulisan, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan
lain sebagainya, antar individu atau antarkelompok.
MENERAPKAN PENDEKATAN : SOSIOLOGI
OLAHRAGA
Kita dapat mengaplikasikan
pendekatan tersebut pada olahraga. Pedekatan struktural fungsional mengarahkan
perhatian kita untuk cara dimana bidang olahraga membantu sosiologi berjalan.
Fungsi manifesnya yaitu menyediakan hiburan sekaligus mendapatkan kesehatan
fisik dan cara yang baik untuk mengeluarkan keringat. Sedangkan fungsi latennya
yaitu membantu masyarakat untuk membangun hubungan sosial dan menciptakan
banyak pekerjaan. Berpartisipasi dalam olahraga membantu meningkatkan semangat
kompetisi dan mengejar kesuksesan, keduanya merupakan nilai yang penting untuk
cara hidup kita dalam masyarakat.
Analisis konflik sosial pada
olahraga menunjukkan bahwa permainan yang dimainkan oleh masyarakat bukan hanya
mengenai tentang pilihan individu tetapi juga mencerminkan status sosial..
Seperti tennis, berenang, golf, berlayar dan ski merupakan olahraga yang mahal,
sehingga hanya orang tertentu yang mampu, sedangkan sepakbola, bisbol atau
basket merupakan suatu olahraga yang dapat dilakukan oleh semua kalangan.
Pada tingkat mikro, olahraga
merupakan sesuatu yang kompleks, interaksi saling bertatap muka. Permainan
menuntun pemain pada posisi yang ditugaskan dan mengikuti aturan, tetapi pemain
juga seorang yang spontan dan tidak terduga. Mengikuti pendekatan interaksi
simbolik kita melihat olahraga bukan sebagai sebuah sistem tetapi sebuah proses
berlanjut.
Ketiga teori pendekatan struktural
fungsional, konflik sosial dan interaksi simbolik memberikan perbedaan
penglihatan pada bidang olahraga dan tidak ada yang lebih benar dari yang lain
atau ketiganya adalah sama rata. Jika menerapkannya pada isu apapun, setiap
pendekatan menimbulkan intrepretasi masing-masing sehingga kita harus menjadi
lebih akrab atau terbiasa dengan ketiga pendekatan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar