Jumat, 11 Mei 2018

PERSPEKTIF SOSIOLOGIS


Sosiologi adalah pembelajaran sistematis mengenai kehidupan sosial masyarakat. Hal terpenting dalam ilmu sosiologi adalah memandang peristiwa sosial dengan spesial atau disebut dengan perspektif sosiologis. Satu cara terbaik untuk mendefinisikan perspektif sosiologis adalah melihat hal yang umum secara khusus, menjelaskan bahwa sosiologis mencari pola umum dalam perilaku khusus masyarakat.

Ketika seorang lelaki dan perempuan sudah lama berhubungan dekat dan memutuskan untuk menikah, mayoritas masyarakat akan beranggapan bahwa mereka berdua menikah karena saling jatuh cinta. Masyarakat menganggap bahwa tidak dapat bahagia  jika tidak dilandaskan atas dasar cinta. Akan tetapi ilmu sosiologi memandang dari sudut berbeda, memiliki perspektif sendiri. Ahli sosiologi menemukan bahwa masyarakat, terutama remaja, akan menikah dengan seseorang yang usianya tidak terpaut jauh dan biasanya mempertimbangkan hal-hal rasial, seperti latar belakang sosial, tingkat pendidikan, ketertarikan fisik, dan lain sebagainya. Seperti ada pola-pola umum dalam masyarakat yang mendorong mereka memutuskan dan melakukan apa yang mereka pilih. Seperti itulah perspektif sosiologi yang melihat pola-pola umum dalam masyarakat tertentu.
Pola-pola umum dalam masyarakat tersebut membentuk individu untuk memutuskan bertindak. Contoh lain adalah kenapa penduduk wanita di negara dengan pendapatan per kapita rendah memiliki anak yang cukup banyak jika dibandingkan dengan negara maju. Hal ini bukan karena hanya sekedar keinginan semata. Sekali lagi kita lihat dari kacamata sosiologi. Negara dengan pendapatan per kapita rendah cenderung tidak memberikan akses pendidikan yang layak atau bahkan tidak ada untuk warga, lapangan kerja yang sangat sedikit, wanita hanya melakukan aktifitas di rumah, dan tidak memiliki akses untuk melakukan kontrasepsi. Oleh karena hal-hal tersebut mereka memiliki anak yang cukup banyak.
Intinya adalah di mana kita tinggal dengan berbagai pola-pola umum bermasyarakat akan mendorong individu melakukan suatu hal. Itulah yang dilihat dalam perspektif sosiologi.

PENTINGNYA PERSPEKTIF GLOBAL
Perspektif global adalah ilmu yang mempelajari tentang dunia yang lebih luas dan masyarakat didalamnya. Pertama, kesadaran global adalah perluasan logis dari perspektif sosiologis. Sosiologi menunjukkan kepada kita tempat dalam bentuk masyarakat sosial pengalaman kita sendiri. Dan, posisi masyarakat kita di dunia yang lebih besar mempengaruhi semua orang di dunia. Semakin saling terhubung, kita dapat memahami diri kita sendiri hingga kita juga dapat memahami orang lain.
Mengaplikasikan perspektif sosiologis dalam kehidupan nyata sangat berguna di segala hal. Pertama, sosiologi merupakan pedoman bagi penegak hukum dan kebijakan yang dalam pembentukan hidup kita. Kedua, dalam konteks individual, mendorong kita untuk lebih dewasa dan memperluas kesadaran. Ketiga, belajar sosiologi adalah persiapan luar biasa untuk menghadapi dunia kerja.
Sosiologi dan Kebijakan Publik, sosiologi telah membantu membentuk kebijakan publik dalam segala aspek, dari segregasi ras dan penyiksaan di sekolah hingga mengatur hukum perceraian. Sosiologi membantu membentuk kebijakan hukum dan mengatur masyarakat dalam berkomunikasi dan bekerja. Sosiologi dan Kedewasaan Manusia, dengan mengaplikasikan perspektif sosiologis dalam kehidupan kita, akan lebih baik menjadi lebih aktif dan sadar untuk berpikir lebih kritis dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan keuntungan sosiologi dalam empat cara; membantu kita untuk mengkaji kebenaran dari akal sehat, melihat keuntungan, memberdayakan untuk aktif dalam masyarakat dan membantu kita untuk hidup dalam dunia yang berbeda-beda.
MENERAPKAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI
Perspektif sosiologi sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Pertama, sosiologi membantu dalam membentuk kebijakan umum. Perbedaaan ras yang sejak lama lebih meninggikan kulit putih dan sangat merendahkan kulit hitam akhirnya dihilangkan dengan membuat undang-undang mengenai kekerasan rasis yang berlaku di seluruh dunia. Contoh lain adalah ahli sosiologi, Lenone Weitzman (1985, 1996) meneliti bahwa perceraian memengaruhi pendapatan wanita yang bercerai berkurang. Oleh karena itu, banyak negara bagian yang memberlakukan hukum hak kepemilikan sang Ibu saat menikah dan kewajiban sang Ayah untuk memberikan bantuan untuk membesarkan anak mereka. Kedua, sosiologi dapat mengembangkan pribadi seseorang. Kita akan menjadi lebih aktif dan sadar untuk berfikir kritis dalam menyikapi kejadian-kejadian dalam keseharian kita.
ASAL MULA SOSIOLOGI
Perubahan sosial yang sangat cepat di Abad XVIII dan XIX membuat masyarakat lebih sadar dan mengamati terhadap apa yang ada di sekelilingnya dan membantu memicu perkembangan sosiologi. Beberapa hal itu adalah peningkatan ekonomi industri yang berpindah dari rumah ke pabrik, meledaknya pertumbuhan penduduk di kota yang menciptakan beberapa masalah seperti criminal dan gelandangan, dan perubahan politik berdasarkan kepada kebebasan pemikiraan individu dan hak-hak individu mendorong masyarakat untuk ingin tahu tentang struktur sosial.
August Comte, yang kita tahu sebagai Bapak Sosiologi, menamai sosiologi di tahun 1838 untuk menjelaskan cara baru dalam memandang masyarakat. Hal ini membuat sosiologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang lebih dulu ada, jauh sebelum ilmu sejarah, fisika, atau ekonomi.
Comte melihat sosiologi sebagai produk dari tiga tahap bermasyarakat. Berawal dari tahap theologi, orang memandang dari segi religius yaitu masyarakat adalah hasil espresi dari keinginan Tuhan. Selanjutnya, masa rennaisans abad XV, orang memandang masyarakat sebagai sesuatu yang alami dari manusia bukan suatu sistem supranatural. Kemudian Comte menerapkan pendekatan ilmiah yang disebut positivism, yaitu cara untuk mengetahui berdasarkan ilmu pengetahuan. Comte percaya bahwa masyarakat bekerja berdasarkan hukum yang mereka buat. Mulai pada awal Abad XX sosiologi menyebar di Amerika Serikat dan memperlihatkan pengaruh dari pemikiran Comte.
TEORI SOSIOLOGI
Pemahaman dalam mempelajari sosiologi dibutuhkan landasan berupa teori-teori. Teori adalah sebuah penyataan bagaimana dan mangapa fakta-fakta berhubungan yang digunakan untuk menjelaskan perilaku sosial dalam dunia nyata. Dalam membangun teori, ahli sosiologi melihat dua pertanyaan dasar: issu apa yang perlu dipelajari? Dan bagaimana kita menghubungkan fakta-fakta? Dalam proses dalam manjawab pertanyaan tersebut, ahli-ahli sosiologi melihat satu atau lebih pendekatan sebagai gambaran dasar dari masyarakat yang memandu berfikir dan meneliti.
Ahli-ahli sosiologi menggunakan tiga teori pendekatan utama: pendekatan struktural-fungsional, pendekatan konflik sosial, dan pendekatan interaksi simbolik.
Pendekatan struktural fungsional adalah kerangka untuk membangun teori yang melihat masyarakat sebagai sebuah sistem kompleks dimana bagian-bagiannya bekerja bersama untuk membangun kekompakan dan keseimbangan. Sesuai dengan namanya, pendekatan ini menuju kepada struktur sosial di mana terdapat pola perilaku sosial yang stabil. Herbert Spencer (1820-1903) membandingkan masyarakat dengan tubuh manusia. Tubuh manusia terdiri dari berbagai organ yang memiliki peran masing-masing. Organ-organ tersebut saling berhubungan dan bekerjasama untuk bertahan hidup. Begitu juga struktur sosial yang saling bekerjasama untuk memelihara kesatuan masyarakat. Lalu pendekatan stuktural fungsional digunakan para ahli sosiologi untuk mengidentifikasi berbagai struktur masyarakat dan menginvestigasi peran masing-masing organ.
Robert K. Merton (1910-2003) memperluas pengertian tentang konsep peran sosial dengan menunjuk pada berbagai macam struktur sosial mungkin memiliki banyak fungsi, sebagian jelas fungsinya dari yag lain. Dia membedakannya menjadi fungsi manifest, yaitu fungsi yang diketahui dan disengaja, dan fungsi laten, fungsi yang tidak diketahui dan tidak disengaja. Contohnya fungsi manifest dari pendidikan adalah untuk memberikan informasi dan skill kepada pemuda yang dibutuhkan untuk terjun ke dunia kerja.sedangkan fungsi laten dari pendidikan adalah untuk mengurangi pengangguran.
Tetapi Merton juga berpendapat bahwa tidak semua pengaruh struktur sosial itu baik, yaitu jika terjadi disfungsi sosial. Disfungsi sosial adalah pola-pola sosial yang dapat mengganggu jalannya masyarakat atau organ-organ masyarakat tidak bekerja sesuai perannya dalam masyarakat tersebut.
Pendekatan konflik sosial adalah sebuah kerangka untuk membangun teori yang memandang masyarakat sebagai tempat di mana di dalamnya memiliki ketidaksamaan yang dapat membuat konflik dan perubahan. Sebuah masyarakat pasti tidak selamanya dalam keadaan seimbang dan statis, namun akan mengalami kegoncangan atau konflik di dalamnya. Konflik tersebut akan membuat suatu perubahan dalam masyarakat.
Salah satu jenis konflik sosial yang penting adalah konflik gender, yaitu ketidaksamaan dan konflik antara pria dan wanita. Kita tahu bahwa dalam kehidupan kita, pria berada di atas wanita atau memiliki kekuatan yang lebih kuat: di rumah (pria sebagai kepala keluarga), di tempat kerja (pria berpenghasilan lebih dan memiliki kendali), dan di media massa (di Amerika Serikat, lebih banyak bintang hip-hop pria dibanding wanita).
Sejak dahulu wanita lebih dipandang sebagai seorang yang menikah, hanya di rumah, dan melahirkan. Akan tetapi semenjak didengungkannya emansipasi wanita atau kesamaan gender, salah satunya oleh Harriet Martineau (1802-1876) seorang wanita ahli sosiologi yang membela hak-hak wanita, wanita memiliki kesempatan hidup yang sama dengan pria.
Hal lain yang tidak terlepas daripendekatan konflik sosial adah konflik ras, yaitu pembedaan masyarakat berdasarkan ras dan etnik. Dalam konflik ini golongan kulit putih tinggi derajatnya dibandingkan golongan kulit kuning dan kulit hitam. Pengastaan ini meletakkan kulit putih pada posisi tertinggi yang merendahkan kulit hitam. Konflik ini sudah berlangsung sangat lama walaupun sekarang sudah ada tindakan hokum atas tindakan rasis nyatanya masih saja terjadi walau frekuensinya sedikit.
Kedua pendekatan tersebut adalah berorientasi pada level makro atau menyeluruh. Sosiologi juga menggunakan orientasi pada level mikro yaitu berfokus pada interaksi sosial pada situasi yang bersifat spesifik.
Pendekatan insteraksi simbolis adalah kerangka untuk membangun teori yang memandang masyarakat sebagai produk dari interaksi sehari-hari tiap individu. Pendekatan ini tidak menyarankan teori-teori besar tentang masyarakat karena yang dapat dipelajari secara langsung adalah interaksi masyarakat tersebut. Pendekatan ini lebih mengarah ke pemahaman individu atau kelompok kecil dalam suatu masyarakat, bukan kelompok besar. Masyarakat menggunakan simbol-simbol khusus dalam berkomunikasi, baik itu verbal maupun non-verbal. Simbol verbal berupa percakapan lisan, berupa bahasa, antar individu atau antarkelompok. Sedang simbol non-verbal berupa selain percakapan lisan, dapat berupa tulisan, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan lain sebagainya, antar individu atau antarkelompok.
MENERAPKAN PENDEKATAN : SOSIOLOGI OLAHRAGA
Kita dapat mengaplikasikan pendekatan tersebut pada olahraga. Pedekatan struktural fungsional mengarahkan perhatian kita untuk cara dimana bidang olahraga membantu sosiologi berjalan. Fungsi manifesnya yaitu menyediakan hiburan sekaligus mendapatkan kesehatan fisik dan cara yang baik untuk mengeluarkan keringat. Sedangkan fungsi latennya yaitu membantu masyarakat untuk membangun hubungan sosial dan menciptakan banyak pekerjaan. Berpartisipasi dalam olahraga membantu meningkatkan semangat kompetisi dan mengejar kesuksesan, keduanya merupakan nilai yang penting untuk cara hidup kita dalam masyarakat.
Analisis konflik sosial pada olahraga menunjukkan bahwa permainan yang dimainkan oleh masyarakat bukan hanya mengenai tentang pilihan individu tetapi juga mencerminkan status sosial.. Seperti tennis, berenang, golf, berlayar dan ski merupakan olahraga yang mahal, sehingga hanya orang tertentu yang mampu, sedangkan sepakbola, bisbol atau basket merupakan suatu olahraga yang dapat dilakukan oleh semua kalangan.
Pada tingkat mikro, olahraga merupakan sesuatu yang kompleks, interaksi saling bertatap muka. Permainan menuntun pemain pada posisi yang ditugaskan dan mengikuti aturan, tetapi pemain juga seorang yang spontan dan tidak terduga. Mengikuti pendekatan interaksi simbolik kita melihat olahraga bukan sebagai sebuah sistem tetapi sebuah proses berlanjut.
Ketiga teori pendekatan struktural fungsional, konflik sosial dan interaksi simbolik memberikan perbedaan penglihatan pada bidang olahraga dan tidak ada yang lebih benar dari yang lain atau ketiganya adalah sama rata. Jika menerapkannya pada isu apapun, setiap pendekatan menimbulkan intrepretasi masing-masing sehingga kita harus menjadi lebih akrab atau terbiasa dengan ketiga pendekatan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar