Bab
ini membahas kontribusi dari kajian interaksi sumber-media dan untuk ilmu
jurnalistik kontemporer. Ini mengkaji beberapa teori yang berkaitan dengan
dinamika sumber-jurnalis dan bukti terbaru tentang proses produksi berita keilmuan,
membuat referensi tertentu yang mengacu pada temuan pada berita genetika medis.
Kontroversi terbaru tentang sifat dan keaukratan pemberitaan terkait isu
kloning, sel induk embrionik, dan nanoteknologi yang telah menyoroti keperluan
wartawan dalam mengembangkan pemahaman in-depth dari proses sosial yang
mempengaruhi praktek mereka.
Ø Memetakan Bidanng
Sejak
pertengahan 1990-an interaksi antara sumber berita dan media berita telah
menjadi bidang penelitian yang semakin penting dalam studi jurnalistik. Dengan
bertumbuhnya industri public relations, dan politik ‘memutar’, perhatian
lebih telah difokuskan terhadap cara-cara dimana suara yang bersaing berusaha
untuk menyampaikan pesan mereka melalui media berita.
Menyadari
pentingnya memahami proses produksi berita, para ilmuwan semakin mengalihkan
perhatian pada aktivitas dari sumber berita dan hubungannya dengan media
berita. Sebuah penelitian besar telah berfokus pada bagaimana organisasi
memanfaatkan media berita untuk menantang penggambaran isu. Ini termasuk
kesehatan (Conrad 1999; Miller dan Williams 1993; Nisbet and Lewenstein 2002),
lingkungan (Anderson 1997), peradilan pidana (Ericson et al. 1989;
Schlesinger dan Tumber 1994) serta serikat buruh (Davis 2000). Pertanyaan
tentang sejauh mana persaingan kelompok dan organisasi mampu membuat suara
mereka didengar, dan berhasil mendapatkan akses ke media berita merupakan isu
kunci bagi sosiologi jurnalistik. Apalagi, isu akses media berita sangat
penting untuk menunjukkan perhatian yang lebih luas tentang kewarganegaraan dan
demokrasi.
Ø Produksi Berita dan Strategi Sumber
Teori
demokratis liberal dan berbagai alur teori kritis berbagi perhatian mendasar
dengan isu representasi berita dan akses sumber. Pertanyaan tentang suara siapa
yang menonjol, dan siapa yang suaranya dibungkam ataupun terpinggirkan, serta
peran media dalam mewakili ‘opini publik’, adalah subyek perdebatan yang
sengit. Model kekuasaan pluralis yang disarankan oleh teori demokrasi liberal
mengasumsikan bahwa adanya berbegai kelompok penekan dan kelompok kepentingan
memastikan bahwa publik dapat mengakses berbagai pandangan tanpa dominasi dari
salah satu organisasi maupun kelompok. Model ini memang memiliki keterbatasan
seperti penekanan otonomi individu dan kurang memperhatikan kendala sumber daya
material, tapi memang bermanfaat menarik perhatian fluiditas relatif kekuasaan
dan cara-cara dimana organisasi memobilisasi sumber-sumber simbolis dan
material (Anderson 1997; Manning 2001). Walaupun begitu, ini mengarah pada
pengabaian dalam sejauh mana persaingan dan konflik diantara kelompok kampanye
yang ingin memperoleh keuntungan akses media berita.
Untuk
meringkas secara singkat, Schlesinger (1990) mengidentifikasi lima keterbatasan
utama dengan tesis ‘primary definer’: Pertama, gagal untuk memperhitungkan
pergeseran jangka panjang dalam akses media. Kedua, gagal memperhitungkan
ketidaksetaraan akses dalam sumber terakreditasi’ itu sendiri. Ketiga, ia
cenderung menganggap definisi aliran satu arah dari sumber istimewa terhadap
media. Keempat, pola akses sumber disimpulkan dari analisis konten kuantitatif
yang menyembunyikan aktivitas dibalik layar dari sumber berita. Dan kelima, itu
menyiratkan bahwa ada konsensus di antara sumber resmi, tidak menyisakan ruang
untuk kasus-kasus tertentu dimana ada konflik kepentingan antara perwakilan
institusi. Rekaman briefing off-the record merupakan sumber berita
utama.
Dengan
menganalisa secara empirik keberhasilan atau lainnya dari strategi media
kelompok politik marjinal, kita bisa belajar banyak tentang kelemahan institusi
yang mereka hadapi, begitu pula dengan faktor-faktor yang menguntungkan secara
institusi merupakan sumber kuat dalam mendapatkan seluruh pandangan mereka
(Schlesinger 1990).
Relatif
sedikit peneliti yang telah meneliti secara mendalam proses kontestasi dan
negosiasi di antara sumber berita yang berdampak pada cakupan sains. Studi
kasus etnografi yang diikuti melalui isu-isu tertentu. Dengan menelusuri awal
kegiatan pembingkaian sumber berita melalui wawancara dan/atau studi pengamatan
sangatlah berharga. Ini menyoroti faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan
kegagalan sumber berita dalam memperoleh cakupan yang menguntungkan selama
periode waktu yang berkelanjutan. Secara khusus, karya ini memunculkan
pertanyaan penting tentang bagaimana sumber berita didefinisikan sebagai
‘legitimasi’, ‘kredibel’ dan ‘authoritative’, dan seberapa jauh alternatif atau
suara oposisi dibatasi oleh terpaan berita bekerja.
Ø Sumber Berita dan Ilmu Pembingkaian
Media
Penelitian
yang dilakukan sampai saat ini menunjukkan bahwa sumber yang digunakan jurnalis
dibentuk oleh berbagai faktor, termasuk professionalitas dan tuntutan
pragmatis, pengetahuan tentang sebuah isu, adanya kontak di lapangan, dan
tekanan komersial. Bagian dari orientasi profesional wartawan adalah untuk
menumbuhkan sumber yang ‘kredibel’, ‘dapat dipercaya’ dan ‘sah’ di lapangan
tanpa terkecuali untuk menjaga integritas laporan mereka.
Bukti-bukti
yang ada di lapangan telah menyebabkan beberapa penulis menyarankan agar
jurnalisme dan sains menempati dua budaya yang terpisah. Gagasan ‘dua budaya’
menyiratkan bahwa ilmuwan dan jurnalis menghuni dunia yang berbeda, dan selalu
memiliki pandangan serta tujuan yang berbeda. Konsekuensinya adalah laporan
keilmuan melibatkan proses penerjemahan atau mempopulerkan fakta sains kepada
pembaca awam. Namun, penelitian terbaru dalam laporan keilmuan menunjukkan
serangkaian proses interaksi yang lebih kompleks (Lewenstein 1995). Untuk
awalnya, model pempopuleran sains menunjukkan pemisahan yang jelas antara
‘sains’ dan ‘popularisasi’, yang menyangkal input dari pandangan populer ke
dalam penelitian dan penyederhanaan yang merupakan bagian intrinsik dari
komunitas ilmiah (Hilgartner 1990: 523-4). Wartawan juga memiliki spesialisasi
dibidang mereka dan, dalam beberapa kasus, adalah ilmuwan yang terlatih. Model
ini juga mengabaikan cara-cara dimana para ilmuwan, dan kelompok kepentingan
lainnya, mungkin mencoba mengendalikan berita melalui berbagai tahap produksinya,
contohnya, mengatur arus informasi (melalui siaran pers, berita konferensi,
kebocoran berita, dll), dan promosi citra dan klaim tertentu.
Ilmuwan,
sebagai sumber, berpotensi mengerahkan banyak kontrol proses produksi berita.
Meskipun jurnalis bisa memilih topik sebuah berita, para ilmuwan memiliki
kesempatan untuk membantu menentukan batas-batasnya dari sudut pandang dan
pilihan cerita yang dibuat (Dunwoody 1999: 63; Friedman dkk. 1986; Peters
1995).
Dengan
kata lain, ilmuwan bukan sekedar korban dari penyederhanaan dan pengurangan,
tapi juga sebagai peserta aktif dalam produksi ‘populer’ konsepsi tentang
pekerjaan mereka sendiri
Ø Kesimpulan
Kontroversi
terbaru seputar sifat dan keakuratan laporan isu seperti kloning, sel induk
embrio dan nanoteknologi menekankan pentingnya memahami hubungan sumber-media
dalam studi dari berita keilmuan. Banyak ilmuwan telah menyatakan
keprihatinannya bahwa media sering ‘hype’, ‘salah menggambarkan’ atau
‘mendistorsi’ riset, sehingga memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap
keilmuan dan menciptakan reaksi balik melawan penelitian yang berpotensi
bermanfaat.
Dalam
upaya mengatasi hal tersebut, ilmuwan di Inggris melalui Royal Society telah
berusaha mengembangkan panduan untuk membantu wartawan dan ilmuwan dalam
melaporkan isu keilmuwan dan kesehatan (http://www. royalsoc.ac.uk/
files/statfiles/document-105.pdf).
Upaya
seperti ini mungkin bisa mengarah pada pengembangan konsensus tentang apa yang
dimaksud ‘kualitas’ laporan berita keilmuan, dan mungkin menjaga pemahaman yang
lebih baik antara ilmuwan, jurnalis dan publik tentang faktor-faktor yang
cenderung mempengaruhi cakupannya.
Secara
jelas, wartawan bisa mendapatkan keuntungan yang besar dari pemahaman hubungan
sumber-media yang lebih dalam, bagaimana hubungan ini membentuk praktik dari
ilmu pemberitaan dan kontribusi terhadap ilmu representasi masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar