Rabu, 16 Mei 2018

Komunikasi atau ‘Spin’? Hubungan Sumber – Media Dalam Jurnalisme Keilmuan


Bab ini membahas kontribusi dari kajian interaksi sumber-media dan untuk ilmu jurnalistik kontemporer. Ini mengkaji beberapa teori yang berkaitan dengan dinamika sumber-jurnalis dan bukti terbaru tentang proses produksi berita keilmuan, membuat referensi tertentu yang mengacu pada temuan pada berita genetika medis. Kontroversi terbaru tentang sifat dan keaukratan pemberitaan terkait isu kloning, sel induk embrionik, dan nanoteknologi yang telah menyoroti keperluan wartawan dalam mengembangkan pemahaman in-depth dari proses sosial yang mempengaruhi praktek mereka.

Ø  Memetakan Bidanng
Sejak pertengahan 1990-an interaksi antara sumber berita dan media berita telah menjadi bidang penelitian yang semakin penting dalam studi jurnalistik. Dengan bertumbuhnya industri public relations, dan politik ‘memutar’, perhatian lebih telah difokuskan terhadap cara-cara dimana suara yang bersaing berusaha untuk menyampaikan pesan mereka melalui media berita.
Menyadari pentingnya memahami proses produksi berita, para ilmuwan semakin mengalihkan perhatian pada aktivitas dari sumber berita dan hubungannya dengan media berita. Sebuah penelitian besar telah berfokus pada bagaimana organisasi memanfaatkan media berita untuk menantang penggambaran isu. Ini termasuk kesehatan (Conrad 1999; Miller dan Williams 1993; Nisbet and Lewenstein 2002), lingkungan (Anderson 1997), peradilan pidana (Ericson et al. 1989; Schlesinger dan Tumber 1994) serta serikat buruh (Davis 2000). Pertanyaan tentang sejauh mana persaingan kelompok dan organisasi mampu membuat suara mereka didengar, dan berhasil mendapatkan akses ke media berita merupakan isu kunci bagi sosiologi jurnalistik. Apalagi, isu akses media berita sangat penting untuk menunjukkan perhatian yang lebih luas tentang kewarganegaraan dan demokrasi.

Ø  Produksi Berita dan Strategi Sumber
Teori demokratis liberal dan berbagai alur teori kritis berbagi perhatian mendasar dengan isu representasi berita dan akses sumber. Pertanyaan tentang suara siapa yang menonjol, dan siapa yang suaranya dibungkam ataupun terpinggirkan, serta peran media dalam mewakili ‘opini publik’, adalah subyek perdebatan yang sengit. Model kekuasaan pluralis yang disarankan oleh teori demokrasi liberal mengasumsikan bahwa adanya berbegai kelompok penekan dan kelompok kepentingan memastikan bahwa publik dapat mengakses berbagai pandangan tanpa dominasi dari salah satu organisasi maupun kelompok. Model ini memang memiliki keterbatasan seperti penekanan otonomi individu dan kurang memperhatikan kendala sumber daya material, tapi memang bermanfaat menarik perhatian fluiditas relatif kekuasaan dan cara-cara dimana organisasi memobilisasi sumber-sumber simbolis dan material (Anderson 1997; Manning 2001). Walaupun begitu, ini mengarah pada pengabaian dalam sejauh mana persaingan dan konflik diantara kelompok kampanye yang ingin memperoleh keuntungan akses media berita.
Untuk meringkas secara singkat, Schlesinger (1990) mengidentifikasi lima keterbatasan utama dengan tesis ‘primary definer’: Pertama, gagal untuk memperhitungkan pergeseran jangka panjang dalam akses media. Kedua, gagal memperhitungkan ketidaksetaraan akses dalam sumber terakreditasi’ itu sendiri. Ketiga, ia cenderung menganggap definisi aliran satu arah dari sumber istimewa terhadap media. Keempat, pola akses sumber disimpulkan dari analisis konten kuantitatif yang menyembunyikan aktivitas dibalik layar dari sumber berita. Dan kelima, itu menyiratkan bahwa ada konsensus di antara sumber resmi, tidak menyisakan ruang untuk kasus-kasus tertentu dimana ada konflik kepentingan antara perwakilan institusi. Rekaman briefing off-the record merupakan sumber berita utama.
Dengan menganalisa secara empirik keberhasilan atau lainnya dari strategi media kelompok politik marjinal, kita bisa belajar banyak tentang kelemahan institusi yang mereka hadapi, begitu pula dengan faktor-faktor yang menguntungkan secara institusi merupakan sumber kuat dalam mendapatkan seluruh pandangan mereka (Schlesinger 1990).
Relatif sedikit peneliti yang telah meneliti secara mendalam proses kontestasi dan negosiasi di antara sumber berita yang berdampak pada cakupan sains. Studi kasus etnografi yang diikuti melalui isu-isu tertentu. Dengan menelusuri awal kegiatan pembingkaian sumber berita melalui wawancara dan/atau studi pengamatan sangatlah berharga. Ini menyoroti faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan sumber berita dalam memperoleh cakupan yang menguntungkan selama periode waktu yang berkelanjutan. Secara khusus, karya ini memunculkan pertanyaan penting tentang bagaimana sumber berita didefinisikan sebagai ‘legitimasi’, ‘kredibel’ dan ‘authoritative’, dan seberapa jauh alternatif atau suara oposisi dibatasi oleh terpaan berita bekerja.

Ø  Sumber Berita dan Ilmu Pembingkaian Media
Penelitian yang dilakukan sampai saat ini menunjukkan bahwa sumber yang digunakan jurnalis dibentuk oleh berbagai faktor, termasuk professionalitas dan tuntutan pragmatis, pengetahuan tentang sebuah isu, adanya kontak di lapangan, dan tekanan komersial. Bagian dari orientasi profesional wartawan adalah untuk menumbuhkan sumber yang ‘kredibel’, ‘dapat dipercaya’ dan ‘sah’ di lapangan tanpa terkecuali untuk menjaga integritas laporan mereka.
Bukti-bukti yang ada di lapangan telah menyebabkan beberapa penulis menyarankan agar jurnalisme dan sains menempati dua budaya yang terpisah. Gagasan ‘dua budaya’ menyiratkan bahwa ilmuwan dan jurnalis menghuni dunia yang berbeda, dan selalu memiliki pandangan serta tujuan yang berbeda. Konsekuensinya adalah laporan keilmuan melibatkan proses penerjemahan atau mempopulerkan fakta sains kepada pembaca awam. Namun, penelitian terbaru dalam laporan keilmuan menunjukkan serangkaian proses interaksi yang lebih kompleks (Lewenstein 1995). Untuk awalnya, model pempopuleran sains menunjukkan pemisahan yang jelas antara ‘sains’ dan ‘popularisasi’, yang menyangkal input dari pandangan populer ke dalam penelitian dan penyederhanaan yang merupakan bagian intrinsik dari komunitas ilmiah (Hilgartner 1990: 523-4). Wartawan juga memiliki spesialisasi dibidang mereka dan, dalam beberapa kasus, adalah ilmuwan yang terlatih. Model ini juga mengabaikan cara-cara dimana para ilmuwan, dan kelompok kepentingan lainnya, mungkin mencoba mengendalikan berita melalui berbagai tahap produksinya, contohnya, mengatur arus informasi (melalui siaran pers, berita konferensi, kebocoran berita, dll), dan promosi citra dan klaim tertentu.
Ilmuwan, sebagai sumber, berpotensi mengerahkan banyak kontrol proses produksi berita. Meskipun jurnalis bisa memilih topik sebuah berita, para ilmuwan memiliki kesempatan untuk membantu menentukan batas-batasnya dari sudut pandang dan pilihan cerita yang dibuat (Dunwoody 1999: 63; Friedman dkk. 1986; Peters 1995).
Dengan kata lain, ilmuwan bukan sekedar korban dari penyederhanaan dan pengurangan, tapi juga sebagai peserta aktif dalam produksi ‘populer’ konsepsi tentang pekerjaan mereka sendiri

Ø  Kesimpulan
Kontroversi terbaru seputar sifat dan keakuratan laporan isu seperti kloning, sel induk embrio dan nanoteknologi menekankan pentingnya memahami hubungan sumber-media dalam studi dari berita keilmuan. Banyak ilmuwan telah menyatakan keprihatinannya bahwa media sering ‘hype’, ‘salah menggambarkan’ atau ‘mendistorsi’ riset, sehingga memperkuat ketidakpercayaan publik terhadap keilmuan dan menciptakan reaksi balik melawan penelitian yang berpotensi bermanfaat.
Dalam upaya mengatasi hal tersebut, ilmuwan di Inggris melalui Royal Society telah berusaha mengembangkan panduan untuk membantu wartawan dan ilmuwan dalam melaporkan isu keilmuwan dan kesehatan (http://www. royalsoc.ac.uk/ files/statfiles/document-105.pdf).
Upaya seperti ini mungkin bisa mengarah pada pengembangan konsensus tentang apa yang dimaksud ‘kualitas’ laporan berita keilmuan, dan mungkin menjaga pemahaman yang lebih baik antara ilmuwan, jurnalis dan publik tentang faktor-faktor yang cenderung mempengaruhi cakupannya.
Secara jelas, wartawan bisa mendapatkan keuntungan yang besar dari pemahaman hubungan sumber-media yang lebih dalam, bagaimana hubungan ini membentuk praktik dari ilmu pemberitaan dan kontribusi terhadap ilmu representasi masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar