Sabtu, 19 Mei 2018

SUMBER PENGETAHUAN : RASIONALISME DAN EMPIRISME


Dalam sejarah filsafat, ada dua aliran pemikiran yaitu Rasionalisme yang lebih dikenal dengan filsafat Kontinental karena tokoh-tokohnya berasal dari Eropa Daratan, seperti Rene Descartes, W.G. Leibniz, dan Barukh Spinoza. Kemudian ada Empirisme yang lebih dikenal dengan filsafat Inggris karena tokoh-tokoh nya berasal dari Inggris, seperti John Locke, David Hume dan Barkley.

11.      RASIONALISME
Pandangan rasionalisme beranggapan bahwa hanya dengan menggunakan dan mengandalkan akal budi kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, bahkan sumber-satu-satu nya, adalah akal budi manusia. Mereka menolak anggapan bahwa kita bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra kita.
a.       Plato
Menurut Plato, satu-satunya pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu pengetahuan tunggal dan tak berubah, sesuai dengan ide-ide abadi. Pengetahuan adalah pengenalan kembali akan hal yang sudah diketahui dalam Ide Abadi.
b.      Rene Descartes
Descartes adalah filsuf yang meneruskan sikap kaum skeptis. Descartes beranggapan bahwa hanya akal budi yang dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia, ada dasar untuk merada pasti dan yakin akan apa yang diketahui. Menurut Descartes, kalau metode yang digunakan dalam ilmu ujut, yang mengandalkan deduksi akal budi, bisa berhasil untuk sampai pada kebenaran-kebenraran yang tak bisa diragukan, mengapa metode yang sama tidak bisa digunakan dalam bidang ilmu yang lain. Descartes sadar bahwa kalau dia meragukan banyak hal, dia mesti ada supaya bisa meragukan hal-hal itu. Maka, kata Descartes : Cogito ergo sum. Saya berpikir maka saya ada.

c.       Beberapa hal penting
Pertama, bagi kaum rasionalis, matematika dan ilmu ukur adalah model bagi pengetahuan dan pemahaman manusia. Intinya adalah bahwa kita bisa sampai pada pengetahuan yang dapat diandalkan hanya dengan menggunakan akal budi kita.
Kedua, konsekuensi nya, kaum rasionalis meremehkan peran pengalaman dan pengamatan pancaindra bagi pengetahuan.
Semua pengetahuan adalah pengetahuan apriori yang terutama mengandalkan silogisme.

22.      EMPIRISME
Empirisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber-sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman. Yang paling pokok untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar, menurut kaum empirisis, adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pancaindra kita. Dengan kata lain, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah  yang diperoleh melalui pengalaman dan pengamatan pancaindra.
Pancaindra memainkan peranan terpenting dibandingkan dengan akal budi karena; Pertama, semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang disimpulkan dari pengalaman. Kedua, kita tidak bisa punya konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman.
a.       John Locke
Sebagaimana dikatakannya dalam bukunya An Essay Concerning Human Understanding, ingin “mencari hak yang asli atau kepastian mengenai pengetahuan manusia”. Menurut Locke, semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia, sesungguhnya berasal dari pengalaman manusia. Konsep atau ide-ide ini diperoleh dari pancaindra atau dari refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindra.
Locke membedakan antara dua macam ide; ide-ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang kita tangkap melalui pemciuman, penglihatan, rabaan, dan semacamnya. Ia kemudian mengolah lebih lanjut ide-ide itu, dengan demikian lahirlah refleksi. Refleksi inilah yang memungkinkan ide-ide yang lebih kompleks dari ide-ide sederhana tadi.
Menurut Locke, ide muncul karena akal budi melalui pancaindra menangkap suatu objek. Sebaliknya, kualitas muncul karena objek memproduksi dalam diri kita ide tertentu. Jadi sesungguhnya supaya bisa terjadi pengetahuan, mesti ada kerja sama antara subjek dan objek.
b.      David Hume
Hume, khususnya dalam buku An Equiry Concerning Human Understanding (1748), menganut paham empirisme bahwa semua materi pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi kita.
Hanya saya Hume sedikit berbeda pendapat dengan Locke. Menurut Hume, melalui naluri ilmiah manusia, manusia bisa mencapai kepastian-kepastian yang memungkinkan pengetahuan manusia.
Mirip dengan Locke, Hume membedakan dua proses mental. Yang pertama adalah kesan (impresi), merupakan penerapan pancaindra yang lebih hidup dan langsung sifatnya. Yang kedua adalah pemikiran atau ide yang kurang hidup dan kurang langsung sifatnya. Dari impresi muncul ide-ide sederhana yang berkaitan dengan objek yang kita tangkap secara langsug dengan pancaindra. Selanjutnya, dari ide sederhana itu, akal budi manusia mampu melahirkan ide-ide majemuk tentang hal-hal yang tidak kita tangkap melalui pancaindra kita.
Keterkaitan itu dicapai dengan menggunakan prinsip yang disebut Hume sebagai hukum asosiasi. Pertama, prinsip kemiripan; yang berarti ide tentang suatu objek cenderung melahirkan dalam akal budi kita objek lainnya yang serupa atau mirip.
Kedua, prinsip kontinuitas dalam tempat dan waktu, yaitu kecenderungan akal budi untuk mengingat hal lain yang punya kaitan dengan hal atau peristiwa lainnya.
Ketiga, prinsip sebab akibat. Ide yang satu memunculkan ide yang lain tentang sebab atau akibat dari hal atau peristiwa tersebut.
Semua objek akal budi manusia dapat dibagi menjadi dua; relasi ide-ide dan kenyataan. Menurut Hume, pengetahuan ini dicapai bukan melalui penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman ketika kita menemukan bahwa objek khusus tertentu selalu berkaitan dengan objek lainnya.

c.       Beberapa Hal Penting
Ada beberapa hal penting yang perlu digaris bawahi menyangkut pandangan empirisme. Pertama, kaum empirisis mengakui bahwa persepsi atau proses pengindraan sampai tingkat tertentu tidak dapat diragukan (indubitable). Yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan apa yang ditangkap oleh pancaindra itu.
Kedua, dari empirisisme Hume terlihat jelas bahwa empirisisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan tentang dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia.
Ketiga, karena lebih menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan manusia, pengetahuan yang ditekankan kaum empirisis adalah pengetahuan aposteriori.
Keempat, kepastian mengenai pengetahuan empiris harus dicek berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan bukan berdasarkan akal budi. Bagi kaum empirisis, pengalaman dapat memberikan pembuktian tertentu secara langsung dan pasti tentang proposisi tertentu, dan bahwa dari proposisi ini bisa ditarik proposisi lainnya.

33.      SEBUAH SINTESIS
a.       Beberapa unsur sintesis
Sintesis antara kedua paham yang berbeda ini, sesungguhnya sampai tingkat tertentu telah kita temukan pada Aristoteles. Dengan tegas Aristoteles mengungkapkan sebuah prinsip yang dianggap sebagai dasar paham empirisisme bahwa “Tidak ada sesuatu pun dalam akal budi yang tidak ada terlebih dahulu dalam indra.” Baginya, akal budi hanya melakukan abstraksi atas data yang diperoleh melalui pengamatan. Maka supaya pengetahuan bisa tercapai dibutuhkan baik pengamatan maupun akal budi.
b.      Immanuel Kant
Kant berpendapat, baik pancaindra dan proses pengindraan maupun akal nudi dan proses penalaran sama-sama ikut berperan bagi lahirnya pengetahuan manusia. Kendati pengetahuan berasal dari pengalaman pancaindra, dalam diri manusia sesungguhnya sudah ada kategori-kategori, bentuk, atau form.
Menurut Kant ada dua unsur yang melahirkan pengetahuan manusia. Yang pertama adalah kondisi eksternal manusia yang menyangkut benda-benda yang tidak bisa kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan pancaindra kita. Ini yang disebut objek material dari pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi internal yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Ini yang disebut sebagai objek formal pengetahuan.
Jadi, bagaimanapun juga pengalaman ikut memainkan peranan penting bagi pengertian dan pengetahuan tentang sesuatu tanpa menyangkal pentingnya akal budi dalam mengolah pengalaman itu agar menjadi pengetahuan.

44.      PENGETAHUAN APRIORI DAN PENGETAHUAN APOSTERIORI
Apriori seperti “sebelumnya” dan aposteriori adalah “sesudahnya” . Leibniz menyatakan cara membedakanya adalah aposteriori kebeneran dari fakta sedangkan apriori kebenaran dari akal budi. Proposisi aposterioti adalah proposisi yang kebenaranya hanya bisa diketahui dengan merujuk pada pengalaman tertentu. Sedangkan proposisi apriori yang kebenarannya diketahui lepas dari pengalaman. Dan kant menganggap perbedaan antara apriori dana posteriori berdasarkan pengalaman dan apa yang tidak berdasarkan dari pengalaman, atau suatu konsep yang dibuktikan kebenarannyadengan memberikan alasan atau sebabnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar