Dalam sejarah filsafat, ada dua aliran pemikiran yaitu Rasionalisme
yang lebih dikenal dengan filsafat Kontinental karena tokoh-tokohnya berasal
dari Eropa Daratan, seperti Rene Descartes, W.G. Leibniz, dan Barukh Spinoza.
Kemudian ada Empirisme yang lebih dikenal dengan filsafat Inggris karena
tokoh-tokoh nya berasal dari Inggris, seperti John Locke, David Hume dan
Barkley.
11.
RASIONALISME
Pandangan
rasionalisme beranggapan bahwa hanya dengan menggunakan dan mengandalkan akal
budi kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang
tidak mungkin salah. Menurut kaum rasionalis, sumber pengetahuan, bahkan
sumber-satu-satu nya, adalah akal budi manusia. Mereka menolak anggapan bahwa
kita bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindra kita.
a.
Plato
Menurut Plato, satu-satunya
pengetahuan sejati adalah apa yang disebutnya sebagai episteme, yaitu
pengetahuan tunggal dan tak berubah, sesuai dengan ide-ide abadi. Pengetahuan
adalah pengenalan kembali akan hal yang sudah diketahui dalam Ide Abadi.
b.
Rene
Descartes
Descartes adalah filsuf yang
meneruskan sikap kaum skeptis. Descartes beranggapan bahwa hanya akal budi yang
dapat membuktikan bahwa ada dasar bagi pengetahuan manusia, ada dasar untuk
merada pasti dan yakin akan apa yang diketahui. Menurut Descartes, kalau metode
yang digunakan dalam ilmu ujut, yang mengandalkan deduksi akal budi, bisa
berhasil untuk sampai pada kebenaran-kebenraran yang tak bisa diragukan,
mengapa metode yang sama tidak bisa digunakan dalam bidang ilmu yang lain.
Descartes sadar bahwa kalau dia meragukan banyak hal, dia mesti ada supaya bisa
meragukan hal-hal itu. Maka, kata Descartes : Cogito ergo sum. Saya
berpikir maka saya ada.
c.
Beberapa
hal penting
Pertama, bagi kaum rasionalis,
matematika dan ilmu ukur adalah model bagi pengetahuan dan pemahaman manusia.
Intinya adalah bahwa kita bisa sampai pada pengetahuan yang dapat diandalkan
hanya dengan menggunakan akal budi kita.
Kedua, konsekuensi nya, kaum
rasionalis meremehkan peran pengalaman dan pengamatan pancaindra bagi
pengetahuan.
Semua pengetahuan adalah pengetahuan
apriori yang terutama mengandalkan silogisme.
22.
EMPIRISME
Empirisme
adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber-sumber satu-satunya bagi
pengetahuan manusia adalah pengalaman. Yang paling pokok untuk bisa sampai pada
pengetahuan yang benar, menurut kaum empirisis, adalah data dan fakta yang
ditangkap oleh pancaindra kita. Dengan kata lain, satu-satunya pengetahuan yang
benar adalah yang diperoleh melalui
pengalaman dan pengamatan pancaindra.
Pancaindra
memainkan peranan terpenting dibandingkan dengan akal budi karena; Pertama,
semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau
yang disimpulkan dari pengalaman. Kedua, kita tidak bisa punya konsep atau ide
apapun tentang sesuatu kecuali yang didasarkan pada apa yang diperoleh dari
pengalaman. Ketiga, akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke
realitas atau pengalaman.
a.
John
Locke
Sebagaimana dikatakannya dalam
bukunya An Essay Concerning Human Understanding, ingin “mencari hak
yang asli atau kepastian mengenai pengetahuan manusia”. Menurut Locke,
semua konsep atau ide yang mengungkapkan pengetahuan manusia, sesungguhnya
berasal dari pengalaman manusia. Konsep atau ide-ide ini diperoleh dari
pancaindra atau dari refleksi atas apa yang diberikan oleh pancaindra.
Locke membedakan antara dua macam
ide; ide-ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang
kita tangkap melalui pemciuman, penglihatan, rabaan, dan semacamnya. Ia
kemudian mengolah lebih lanjut ide-ide itu, dengan demikian lahirlah refleksi.
Refleksi inilah yang memungkinkan ide-ide yang lebih kompleks dari ide-ide
sederhana tadi.
Menurut Locke, ide muncul karena
akal budi melalui pancaindra menangkap suatu objek. Sebaliknya, kualitas muncul
karena objek memproduksi dalam diri kita ide tertentu. Jadi sesungguhnya supaya
bisa terjadi pengetahuan, mesti ada kerja sama antara subjek dan objek.
b.
David
Hume
Hume, khususnya dalam buku An
Equiry Concerning Human Understanding (1748), menganut paham empirisme
bahwa semua materi pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi kita.
Hanya saya Hume sedikit berbeda
pendapat dengan Locke. Menurut Hume, melalui naluri ilmiah manusia, manusia
bisa mencapai kepastian-kepastian yang memungkinkan pengetahuan manusia.
Mirip dengan Locke, Hume membedakan
dua proses mental. Yang pertama adalah kesan (impresi), merupakan penerapan
pancaindra yang lebih hidup dan langsung sifatnya. Yang kedua adalah pemikiran
atau ide yang kurang hidup dan kurang langsung sifatnya. Dari impresi muncul
ide-ide sederhana yang berkaitan dengan objek yang kita tangkap secara langsug
dengan pancaindra. Selanjutnya, dari ide sederhana itu, akal budi manusia mampu
melahirkan ide-ide majemuk tentang hal-hal yang tidak kita tangkap melalui
pancaindra kita.
Keterkaitan itu dicapai dengan
menggunakan prinsip yang disebut Hume sebagai hukum asosiasi. Pertama, prinsip
kemiripan; yang berarti ide tentang suatu objek cenderung melahirkan dalam akal
budi kita objek lainnya yang serupa atau mirip.
Kedua, prinsip kontinuitas dalam
tempat dan waktu, yaitu kecenderungan akal budi untuk mengingat hal lain yang punya
kaitan dengan hal atau peristiwa lainnya.
Ketiga, prinsip sebab akibat. Ide
yang satu memunculkan ide yang lain tentang sebab atau akibat dari hal atau
peristiwa tersebut.
Semua objek akal budi manusia dapat
dibagi menjadi dua; relasi ide-ide dan kenyataan. Menurut Hume, pengetahuan ini
dicapai bukan melalui penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman
ketika kita menemukan bahwa objek khusus tertentu selalu berkaitan dengan objek
lainnya.
c.
Beberapa
Hal Penting
Ada beberapa hal penting yang perlu
digaris bawahi menyangkut pandangan empirisme. Pertama, kaum empirisis mengakui
bahwa persepsi atau proses pengindraan sampai tingkat tertentu tidak dapat
diragukan (indubitable). Yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap
dan memutuskan apa yang ditangkap oleh pancaindra itu.
Kedua, dari empirisisme Hume
terlihat jelas bahwa empirisisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan
empiris, yaitu pengetahuan tentang dunia yang berkaitan dengan pengalaman
manusia.
Ketiga, karena lebih menekankan
pengalaman sebagai sumber pengetahuan manusia, pengetahuan yang ditekankan kaum
empirisis adalah pengetahuan aposteriori.
Keempat, kepastian mengenai
pengetahuan empiris harus dicek berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan
bukan berdasarkan akal budi. Bagi kaum empirisis, pengalaman dapat memberikan
pembuktian tertentu secara langsung dan pasti tentang proposisi tertentu, dan
bahwa dari proposisi ini bisa ditarik proposisi lainnya.
33.
SEBUAH SINTESIS
a.
Beberapa
unsur sintesis
Sintesis antara kedua paham yang
berbeda ini, sesungguhnya sampai tingkat tertentu telah kita temukan pada
Aristoteles. Dengan tegas Aristoteles mengungkapkan sebuah prinsip yang
dianggap sebagai dasar paham empirisisme bahwa “Tidak ada sesuatu pun dalam
akal budi yang tidak ada terlebih dahulu dalam indra.” Baginya, akal budi hanya
melakukan abstraksi atas data yang diperoleh melalui pengamatan. Maka supaya
pengetahuan bisa tercapai dibutuhkan baik pengamatan maupun akal budi.
b.
Immanuel
Kant
Kant berpendapat, baik pancaindra
dan proses pengindraan maupun akal nudi dan proses penalaran sama-sama ikut
berperan bagi lahirnya pengetahuan manusia. Kendati pengetahuan berasal dari
pengalaman pancaindra, dalam diri manusia sesungguhnya sudah ada kategori-kategori,
bentuk, atau form.
Menurut Kant ada dua unsur yang
melahirkan pengetahuan manusia. Yang pertama adalah kondisi eksternal manusia
yang menyangkut benda-benda yang tidak bisa kita ketahui sebelum kita
menangkapnya dengan pancaindra kita. Ini yang disebut objek material dari
pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi internal yang ada dalam diri manusia itu
sendiri. Ini yang disebut sebagai objek formal pengetahuan.
Jadi, bagaimanapun juga pengalaman
ikut memainkan peranan penting bagi pengertian dan pengetahuan tentang sesuatu
tanpa menyangkal pentingnya akal budi dalam mengolah pengalaman itu agar
menjadi pengetahuan.
44.
PENGETAHUAN APRIORI DAN PENGETAHUAN APOSTERIORI
Apriori seperti “sebelumnya” dan aposteriori adalah “sesudahnya” .
Leibniz menyatakan cara membedakanya adalah aposteriori kebeneran dari fakta
sedangkan apriori kebenaran dari akal budi. Proposisi aposterioti adalah
proposisi yang kebenaranya hanya bisa diketahui dengan merujuk pada pengalaman
tertentu. Sedangkan proposisi apriori yang kebenarannya diketahui lepas dari
pengalaman. Dan kant menganggap perbedaan antara apriori dana posteriori
berdasarkan pengalaman dan apa yang tidak berdasarkan dari pengalaman, atau
suatu konsep yang dibuktikan kebenarannyadengan memberikan alasan atau sebabnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar