Selasa, 15 Mei 2018

GOJEK VERSUS GRAB


Jika beberapa tahun lalu kita masih sering menggunakan kendaraan umum konvensional, lain ceritanya dengan sekarang. Hampir di setiap tempat kita bisa menjumpai ojek online. Selain penggunaannya aplikasi dan pemesanan yang mudah, tarif yang tidak terlalu mahal pun menjadi faktor unggulan. Kehadiran oojek onlone memang membuat kita mudah ke mana-mana, praktis dan murah.
Dari sejumlah penyedia layanan transportasi online ini, nama ojek online Go-Jek dan Grab memang masih menjadi yang paling menonjol. Beberapa waktu terakhir, Uber pun bergabung di bawah komando Grab, yang semakin mempersengit persaingan. Sama-sama identik dengan warna hijau, masing-masing punya senjata untuk menarik perhatian konsumen.
Di bawah adalah hasil penelitian penulis tentang perbedaan Go-jek dan Grab.

1. Awal Pendirian
Grab awal mula diciptakan di Malaysia oleh lulusan MBA Harvard Business School, Anthony Tan. Sebelum memulai perusahaan ini pada 2012, Anthony bekerja sebagai kepala marketing di perusahaan keluarganya, Tan Chong & Sons Motor Company. Perusahaan ini dikenal menangani waralaba Nissan dan Subaru, dan mewakili Changan Automobile di Singapura, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Perusahaan ini merupakan anak usaha dari perusahaan di Hong Kong, Tan Chong International. Tan Chong & Sons Motor melayani penjualan mobil, namun tidak untuk motor. Usaha tersebut juga melayani perbaikan dan servis mobil.
Banyak orang bisa saja berpendapat bahwa Anthony memang terlahir sebagai anak konglomerat karena perusahaan keluarganya tersebut. Bagaimanapun, perlu diketahui bahwa Anthony membangun Grab tanpa adanya campur tangan dari bisnis keluarganya. Ia hanya mendapat bantuan dana dari sang ibu. Di ranah startup transportasi Indonesia, kekuatan Anthony terletak pada sumber daya dan infrastruktur Grab. Namun ia belum familier dengan kondisi pasar lokal.
Nadiem Makarim, Founder dan CEO GoJek, terlihat lebih berpengalaman. Nadiem juga merupakan lulusan Harvard Business School (bahkan di tahun yang sama dengan Anthony), lalu ia melanjutkan bekerja di McKinsey setelah meraih gelar MBA. Lalu tiga tahun kemudian direkrut ole Rocket Internet untuk menjadi managing director raksasa e-commerce Zalora. Nadiem bekerja dengan Rocket Internet hampir setahun, lalu memilih bekerja di perusahaan layanan pembayaran Kartuku. Di samping itu, Nadiem juga telah mulai membangun dan menjalankan Go-Jek sejak Maret 2011, bahkan sebelum ia bergabung dengan Zalora. Kini, ia menjabat sebagai CEO Go-Jek.
Bisa dibilang kekuatan Nadiem terletak pada pengalamannya memahami pasar Indonesia dan menjadi pionir bisnis di ranah ini. Kelemahannya, meski sudah mendapat pendanaan yang tidak diungkapkan, Go-Jek tampaknya belum seagresif Grab yang memang mempunyai dana yang cukup besar. Salah satunya strategi promo voucher diskon Grab yang jumlahnya lebih banyak dan lebih sering ketimbang promo diskon Go-Jek.

2. Layanan
Saat ini total ada 13 layanan ditawarkan Go-Jek. Selain layanan utama ojek online Go-Ride, Go-Jek juga menawarkan layanan Go-Car, Go-Send, Go-Food, Go-Mart, Go-Busway, Go-Tix, Go-Box, Go-Clean, Go-Glam, Go-Massage, Go-Med dan Go-Auto.
Dengan jumlah armada sekitar 220 ribu driver lebih, Go-Jek menguasai pasar lokal dengan operasional yang mencakup hampir semua kota-kota besar di Indonesia. Layanan besutan Nadiem Makarim ini tersedia di wilayah Jabodetabek, Bandung, Bali, Surabaya, Makassar, Palembang, Medan, Balikpapan, Yogyakarta, Semarang, Manado, Solo, Samarinda, Malang, Batam serta masih banyak kota-kota kecil lainnya.
Go-Jek memberlakukan jam sibuk atau rush hour yakni pada pagi hari 06.00 – 09.00 dan sore 16.00 – 19.00. Di jam ini, tarif akan lebih mahal sekitar Rp 5.000 dari jam normal.
Untuk menarik minat konsumen, Go-Jek merayu pelanggannya dengan menawarkan diskon tarif perjalanan 50% jika membayar dengan uang elektronik Go-Pay. Sejauh ini, promosi tersebut masih berlaku hingga Januari 2017. Promosi ini juga dilakukan Go-Jek untuk mendorong lebih banyak orang beralih ke cashless experience alias non tunai.
Update dari potongan tarif jika menggunakan Go-Pay, ternyata di awal tahun 2018 ini mengalami penurunan. Dari pengalaman penulis potongan dengan menggunakan Go-Pay ini hanya sekitar Rp 2000 dari biaya sekitar Rp 50.000, jadi hanya dapat potongan sekitar 5%.
Berbicara pengalaman menggunakan aplikasi, sayangnya pada aplikasi Go-Jek masih kerap ditemui eror. Terkadang, orderan driver tersendat atau malah terjadi dobel order yang sering membingungkan pengguna dan driver.
Untuk komunikasi di antara driver dan penumpang, Go-Jek masih mengandalkan konektivitas selular. Jadi, ini akan memakan pulsa tambahan di luar paket data internet ketika driver dan penumpang perlu menelepon atau SMS. Di sisi lain, hal ini memungkinkan nomor telepon penumpang bisa diketahui driver.
Catatan lainnya, pada aplikasi Go-Jek tidak dicantumkan plat nomor kendaraan driver, sehingga menyulitkan pengguna menemukan driver yang menjemput mereka. Kondisi ini dipersulit dengan ketidakdisiplinan beberapa driver yang tidak menggunakan seragam.
Update aplikasi Go-Jek terbaru sudah menyertakan plat nomer Driver Go-Jek, walau masih sering penulis temui banyak pengemudi Gojek yang tidak membawa motor yang sesuai dengan plat nomer yang terdaftar di dalam aplikasinya.
Sedangkan Grab saat ini menawarkan tujuh layanan, GrabBike, GrabCar, GrabHitch, GrabExpress, GrabFood, Grab Promo dan Grab.
Jumlah armadanya kurang lebih 250 ribu lebih, namun angka itu mencakup penyebarannya di Asia Tenggara. Startup yang dipimpin Anthony Tan ini masih kalah dengan dominasi armada Go-Jek di pasar lokal.
Grab memang tak hanya fokus di Indonesia, melainkan mengincar pasar Asia Tenggara. Layanan ride sharing tersebut saat ini hadir di Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filiphina.
Sebagai pesaing Go-Jek, Grab berupaya mengambil hati konsumen dengan memberikan berbagai diskon secara agresif. Grab kerap membuat kampanye tematik yang memasukkan kode tertentu untuk mendapatkan diskon, bahkan menggratiskan tarif perjalanan.
Sama seperti Go-Jek, Grab juga memberlakukan jam sibuk atau rush hour yakni pada pagi hari 06.00 – 09.00 dan sore 16.00 – 19.00. Di jam ini, tarif akan lebih mahal sekitar Rp 5.000 dari jam normal.
Grab Masnya adalah salah satu kampanye promosi dari Grab yang merupakan kampanye promosi diskon Grab. Beralih ke pengalaman menggunakan aplikasi, harus diakui aplikasi Grab relatif lebih smooth dan minim terjadi eror dibandingkan dengan Go-Jek. Nilai plusnya, Grab juga punya fitur chat dan panggilan telepon di dalam aplikasi.
Jadi, tidak perlu biaya tambahan (koneksi seluler) ketika harus menelepon atau SMS, karena berbasis data internet. Fitur komunikasi ini membuat driver maupun penumpang tidak saling tahu nomor telepon sehingga privasi lebih terjaga.
Grab juga mencantumkan plat nomor kendaraan si driver pada aplikasinya, sehingga memudahkan penumpang menemukan driver yang menjemput. Di sisi lain, rata-rata driver Grab juga terbilang lebih disiplin menggunakan seragam sebagai salah satu tanda pengenalnya.


2. Aplikasi
Baik Go-Jek maupun GrabBike menawarkan in-app user experience yang mirip. Untuk memesan GrabBike, pengguna diharuskan mengunduh aplikasi Grab. Aplikasi ini terhubung dengan GPS smartphone untuk mengetahui lokasi pengguna, dan cukup akurat.
Aplikasi ini akan mengkalkulasi biaya berdasarkan jarak yang ditempuh dan dapat menentukan besarnya tip yang ingin diberikan kepada pengemudi. Pengguna juga dapat memberi catatan pada pengemudi tentang lokasi menunggu atau barang bawaan tambahan. Sepertinya aplikasi ini masih butuh perbaikan atau penambahan pengemudi GrabBike. Ketika saya mencoba melakukan pemesanan, aplikasi ini menampilkan sekitar 10 pengemudi di sekitar lokasi saya, namun saya tetap tidak berhasil mendapatkan ojek. Hal ini dapat membuat pengguna jengkel, dan akhirnya lebih memilih langsung mencari ojek terdekat.
Sedangkan Go-Jek, meski masih jauh dari kesempurnaan, membuat pengguna lebih mudah mendapat ojek. Bisa dibilang, dari sepuluh pemesanan yang saya lakukan, delapan di antaranya berhasil. Gojek tidak menampilkan pilihan untuk memberi tip yang besar, mungkin karena memberi tip bukan hal yang umum di Indonesia. Bagaimanapun, jika pengemudi memberikan pelayanan yang memuaskan, tidak tertutup kemungkinan pelanggan akan memberi tip lebih.
Salah satu masalah dari Go-Jek adalah pengenalan fitur peta untuk daerah tujuan. Setiap kali saya memesan, aplikasi masih sulit menemukan lokasi tujuan. Hal ini terkadang membuat pengguna dan pengemudi bingung, dan sedihnya, tarif pembayaran bisa saja tidak sesuai karena tujuan sebenarnya ternyata lebih jauh atau lebih dekat. Secara keseluruhan, bagaimanapun, sepertinya Go-Jek memiliki keunggulan dari segi user experience di Indonesia.

3. Pengalaman di pasar lokal
Untuk saat ini, adil rasanya mengatakan Go-Jek memiliki poin lebih dibandingkan GrabBike. Go-Jek telah memiliki setidaknya 2.500 armada ojek di Jakarta, dan “ojek jaket hijau” telah familier untuk masyarakat di ibukota. Go-Jek telah lama membangun infrastruktur untuk menyediakan berbagai layanan, termasuk layanan kurir, belanka, dan pengantaran makanan yang disebut Go-Food (yang menjadi pesaing dari FoodPanda). Go-Jek juga telah merambah bisnis ke daerah lain seperti Bandung, Bali, dan Surabaya.
Namun, Grab tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan banyaknya dana dan reputasi besar (bahkan sampai mengakuisisi layanan transportasi online Uber), GrabBike juga berpotensi mengungguli Go-Jek jika mengembangkan teknologi yang lebih bagus, merekrut lebih banyak pengemudi, dan menggencarkan upaya marketing. Semua hal tersebut tentunya bisa dilakukan dengan mudah oleh perusahaan sekelas Grab. Semuanya tergantung dari seberapa besar Anthony Tan ingin menyaingi Go-Jek di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar