Butler lies adalah sebuah kebohongan yang memungkinkan inisiasi sopan atau penghentian sebuah percakapan, terutama dalam komunikasi elektronik seperti pesan instan.
Instant Message (IM) atau pesan instan adalah cara yang umum dan populer untuk kolega kerja, teman, dan keluarga agar tetap berhubungan, namun sifat "selalu online" terkadang membuat orang merasa terlalu terekspos atau terlalu mudah tersedia untuk percakapan dengan orang lain. Hal ini, dapat menyebabkan orang menipu orang lain tentang status atau ketersediaan mereka sebenarnya. Disini menyajikan hasil dari studi lapangan terhadap 50 pengguna IM, di mana peserta menilai setiap pesan mereka pada saat pengiriman untuk mengindikasikan apakah tindakan tersebut menipu atau tidak. Sekitar sepersepuluh dari semua pesan IM dinilai sebagai kebohongan dan, dari jumlah ini, sekitar seperlima adalah kebohongan butler lies. Hasil ini menunjukkan bahwa butler lies adalah praktik sosial yang penting dalam IM, dan bahwa pendekatan yang ada terhadap kesadaran interpersonal, yang berfokus pada penilaian ketersediaan yang akurat, mungkin perlu mempertimbangkan penipuan dan praktik sosial lainnya.
Menjadi terus-terusan dilakukan membuat butler lies diperlukan untuk banyak orang, dan peneliti Cornell menyimpulkan dalam sebuah studi berikutnya bahwa ambiguitas yang melekat dalam teks tradisional juga membuat mereka lebih mudah. Pengirim pesan biasanya tidak tahu kapan pesannya dibaca, di mana penerima mereka atau apa yang mereka lakukan.
Teknologi sudah mengepung butler lies. Layanan seperti BlackBerry Messenger memungkinkan pengguna untuk mengetahui apakah teks mereka sudah terbaca atau belum, sehingga mampu membantah alasan "maaf, telepon saya mati semalam" dari si penerima pesan. Aplikasi "Friend tracking" seperti Google Latitude memungkinkan orang untuk menentukan secara geografis dimana ponsel teman mereka. Tidak ada alasan lagi "terjebak dalam lalu lintas" padahal sebenarnya malah ketiduran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar