1.
Hubungan
antara Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan
tidak sama dengan keyakinan. Baik pengetahuan maupun keyakinan sama-sama
merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang
disadarinya sebagai ada atau terjadi. Hanya saja, dalam hal keyakinan, objek
yang disadari sebagai ada itu, tidak perlu harus ada sebagaimana adanya.
Sebaliknya, dalam hal pengetahuan, objek yang disadari itu memang ada
sebagaimana adanya. Keyakinan bisa saja keliru tetapi sah saha dianut sebagai
keyakinan. Sebaliknya, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena begitu
suatu pengetahuan terbukti salah atau keliru, tidak bisa lagi dianggap sebagai
pengetahuan. Pengetahuan selalu mengandung kebenaran, harus ditunjang oleh
bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dan
sebagainya.
Apa yang
dianggap sebagai pengetahuan lalu dirumuskan sebagai proposisi. Proposisi atau
hipotesis adalah pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan/atau
diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut. Pengetahuan bukan
sekedar sikap mental karena setiap pernyataan atau proposisi yang merupakan
pengetahuan harus selalu mengandung kebenaran dan karena itu selalu punya acuan
pada realitas.
Tetapi
sehubungan dengan hal ini, timbul dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama,
subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu. Dalam kasus mengira atau
menebak, proposisi yang diajukan memang dalam kenyataannya benar, tapi itu
hanya sekedar kebetulan saja, dan bukan suatu pengetahuan. Ketika kita tahu
tentang sesuatu kita memang harus tahu bahwa kita tahu.
Pendapat kedua,
tidak perlu ada kesadaran bahwa subjek itu tahu. Anak kecil bisa saja tahu
banyak hal tanoa mengetahui bahwa mereka tahu. Menurut Plato, pengetahuan akan
kebenaran adalah mengingat kembali apa yang sudah diketahui sebelumnya. Maka,
pada akhirnya pengetahuan selalu menuntut adanya kesadaran bahwa si subjek itu
sendiri tahu. Si subjek harus tahu bahwa dia tahu. Tahu benar-benar menjadi
pengetahuan ketika si subjek tahu dengan pasti tanpa keraguan.
Atas dasar ini,
kita dapat melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa sampai tingkat
tertentu pengetahuan selalu mengandung keyakinan, yaitu keyakinan mengenai
kebenaran pengetahuan itu.
22.
Macam-macam
Pengetahuan Menurut Polanya
a.
Tahu
bahwa
Pengetahuan
tentang informasi tertentu. Singkatnya, tahu bahwa p, dan bahwa p
memang benar. Jenis pengetahuan ini disebut juga pengetahuan teoritis,
pengetahuan ilmiah, walaupun masih pada tingkat yang tidak begitu mendalam.
Maka, kekuatan pengetahuan ini adalah informasi atau data yang dimilikinya.
b.
Tahu
bagaimana
Bagaimana
melakukan sesuatu. Pengetahuan ini berkaitan dengan ketrampilan atau lebih
tepat keahlian dan kemahiran teknis dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan jenis
ini berkaitan dengan praktek, maka disebut juga pengetahuan praktis.
Pengetahuan jenis ini punya landasan atau asumsi teoritis tertentu, hanya saja
asumsi dan konsep teoritis itu telah diaplikasikan menjadi pengetahuan praktis.
c.
Tahu
akan/mengenai
Yang
dimaksudkan dengan jenis pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat spesifik
menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau
pengenalan pribadi.
Ciri
pengetahuan model ini, pertama, pengetahuan ini mempunyai tingkat ibjektivitas
yang cukup tinggi. Apa yang diklaim sebagai pengetahuan memang betul-betul
didasarkan pada pengenalan dan pengalaman langsung si subjek. Bisa saja objek
yang sama dikenal oleh dua subjek secara berbeda.
Kedua, subjek
mampu membuat penilaian tertentu atas objeknya karena pengenalan dan pengalaman
pribadi yang bersifat langsung dengan objek.
Ketiga, jenis
pengetahuan ini bersifat singular, yaitu hanya berkaitan dengan barang atau
objek khusus. Artinya, pengetahuan ini terutama terbatas pada objek yang
dikenal secara langsung dan personal dan bukan menyangkut objek serupa lainnya
d.
Tahu
mengapa
Berkaitan
dengan “pengetahuan bahwa”. Hanya saja, “tahu mengapa” jauh lebih mendalam dan
serius daripada “tahu bahwa” karena “tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan.
“tahu mengapa” jauh lebih kritis, sudah sampai pada tingkat mengaitkan dan
menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada.
Pengetahuan
model terakhir ini merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam dan
sekaligus juga merupakan pengetahuan ilmiah. Menurut Plato dan Aristoteles,
dalam berhadapan dengan benda-benda di alam semesta ini, manusia pada dasarnya
digerakkan oleh tiga perasaan; perasaan terkejut, perasaan ingin tahu, dan
perasaan kagum.
33.
Hubungan
di antara Empat Macam Pengetahuan
a.
Antara
“tahu bahwa” dan “tahu bagaimana”
Antara
“pengetahuan bahwa” dan “pengetahuan bagaimana” terdapat hubungan yang sangat
erat yaitu bahwa “pengetahuan bagaimana” selalu mengandaikan “pengetahuan
bahwa”. “pengetahuan bahwa” yaitu pengetahuan hanya demi pengetahuan. Sedangkan
“pengetahuan bagaimana” justru telah melangkah lebih jauh untuk menerapkan
“pengetahuan bahwa” tadi sehingga berguna bagi manusia.
b.
Antara
“tahu bahwa” dan “tahu akan”
Supaya apa yang
kita ketahui itu sungguh-sungguh merupakan suatu pengetahuan yang didukung oleh
fakta, kita tidak hanya mendasarkan diri pada informasi yang kita peroleh dari
orang lain. Maka, pada akhirnya pengetahuan kita bahwa sesuatu terjadi atau
bahwa p , harus benar-benar juga didasarkan pada bukti dan fakta yang
kita sendiri tahu dan peroleh secara pribadi.
c.
Antara
“tahu bagaimana” dan “tahu akan”
Dengan
mengetahui sesuatu secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu
bagaimana bertindak secara tepat.
d.
Antara
tahu mengapa dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
Pertama, supaya
mengetahui pengetahuan kita bahwa sesuatu itu terjadi bagaimana adanya
benar-benar akurat, kita membutuhkan “pengetahuan mengaoa”. Setelah kita tahu
mengapa sesuatu terjadi sebagaimana adanya, kita secara sah dan pasti dapat
mengatakan bahwa kita tahu bahwa seuatu terjadi. “pengetahuan mengapa” juga
mengandaikan “tahu bahwa”.
Kedua, untuk
bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui
mengapa sesuatu terjadi. “tahu bagaimana” sesungguhnya merupakan aplikasi dan
konsekuensi dari pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi, yaitu
mengenai sebab dan akibat.
Ketiga, untuk
bisa mempunyai “pengetahuan mengapa” sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai
pengenalan pribadi, kita perlu “tahu akan”, yaitu tahu secara mendalam tentang
hal itu.
Kita dapat
menyimpulkan bahwa keempatnya saling berkaitan saru sama lain untuk
memungkinkan manusia sampai pada pengetahuan yang semakin akurat dan sempurna.
44.
Skeptisme
Sikap dasar
skeptisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apapun. Dengan kata lain,
skeptisme meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena
tidak ada bukti yang cukup untuk mempertahankan bahwa manusia benar-benar tahu
tentang sesuatu. Skeptisme terutama muncul karena anggapan bahwa pengetahuan
menyangkut kepastian.
Pertama-tama,
perlu kita katakan bahwa skeptisisme telah menyumbangkan sesuatu yang sangat
berharga bagi ilmu pengetahuan, yaitu sikap meragukan secara positif setiap
klaim dan bukti yang kita peroleh, menujukkan sikap kritis. Pada bab berikut,
sikap ini dikembangkan lebih lanjut oleh Rene Descartes. Sikap yang sama juga
sedikit banyak dianut oleh Karl. Popper.
Pertama, skeptisisme
keliru beranggapan bahwa kalau kita tahu sesuatu kita tidak bisa salah.
Kedua,
kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada konsep yang berpasangan hitam dan putih,
benar dan salah, kecil dan besar, berat dan ringan, tahu dan tidak tahu.
Ketiga,
skeptisisme yang radikal akan melahirkan berbagai kontradiksi.
Kaum skeptis beranggapan bahwa
pengetahuan manusia perlu diragukan. Ini berarti pengetahuan kaum skeptis bahwa
semua pengetahuan perlu diragukan, juga harus diragukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar