Minggu, 20 Mei 2018

PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN


1.        Hubungan antara Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan tidak sama dengan keyakinan. Baik pengetahuan maupun keyakinan sama-sama merupakan sikap mental seseorang dalam hubungan dengan objek tertentu yang disadarinya sebagai ada atau terjadi. Hanya saja, dalam hal keyakinan, objek yang disadari sebagai ada itu, tidak perlu harus ada sebagaimana adanya. Sebaliknya, dalam hal pengetahuan, objek yang disadari itu memang ada sebagaimana adanya. Keyakinan bisa saja keliru tetapi sah saha dianut sebagai keyakinan. Sebaliknya, pengetahuan tidak bisa salah atau keliru karena begitu suatu pengetahuan terbukti salah atau keliru, tidak bisa lagi dianggap sebagai pengetahuan. Pengetahuan selalu mengandung kebenaran, harus ditunjang oleh bukti-bukti berupa acuan pada fakta, saksi, memori, catatan historis, dan sebagainya.
Apa yang dianggap sebagai pengetahuan lalu dirumuskan sebagai proposisi. Proposisi atau hipotesis adalah pernyataan yang mengungkapkan apa yang diketahui dan/atau diyakini sebagai benar yang perlu dibuktikan lebih lanjut. Pengetahuan bukan sekedar sikap mental karena setiap pernyataan atau proposisi yang merupakan pengetahuan harus selalu mengandung kebenaran dan karena itu selalu punya acuan pada realitas.
Tetapi sehubungan dengan hal ini, timbul dua pendapat yang berbeda. Pendapat pertama, subjek yang bersangkutan harus sadar bahwa dia tahu. Dalam kasus mengira atau menebak, proposisi yang diajukan memang dalam kenyataannya benar, tapi itu hanya sekedar kebetulan saja, dan bukan suatu pengetahuan. Ketika kita tahu tentang sesuatu kita memang harus tahu bahwa kita tahu.
Pendapat kedua, tidak perlu ada kesadaran bahwa subjek itu tahu. Anak kecil bisa saja tahu banyak hal tanoa mengetahui bahwa mereka tahu. Menurut Plato, pengetahuan akan kebenaran adalah mengingat kembali apa yang sudah diketahui sebelumnya. Maka, pada akhirnya pengetahuan selalu menuntut adanya kesadaran bahwa si subjek itu sendiri tahu. Si subjek harus tahu bahwa dia tahu. Tahu benar-benar menjadi pengetahuan ketika si subjek tahu dengan pasti tanpa keraguan.
Atas dasar ini, kita dapat melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa sampai tingkat tertentu pengetahuan selalu mengandung keyakinan, yaitu keyakinan mengenai kebenaran pengetahuan itu.

22.      Macam-macam Pengetahuan Menurut Polanya
a.    Tahu bahwa
Pengetahuan tentang informasi tertentu. Singkatnya, tahu bahwa p, dan bahwa p memang benar. Jenis pengetahuan ini disebut juga pengetahuan teoritis, pengetahuan ilmiah, walaupun masih pada tingkat yang tidak begitu mendalam. Maka, kekuatan pengetahuan ini adalah informasi atau data yang dimilikinya.
b.    Tahu bagaimana
Bagaimana melakukan sesuatu. Pengetahuan ini berkaitan dengan ketrampilan atau lebih tepat keahlian dan kemahiran teknis dalam melakukan sesuatu. Pengetahuan jenis ini berkaitan dengan praktek, maka disebut juga pengetahuan praktis. Pengetahuan jenis ini punya landasan atau asumsi teoritis tertentu, hanya saja asumsi dan konsep teoritis itu telah diaplikasikan menjadi pengetahuan praktis.
c.    Tahu akan/mengenai
Yang dimaksudkan dengan jenis pengetahuan ini adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman atau pengenalan pribadi.
Ciri pengetahuan model ini, pertama, pengetahuan ini mempunyai tingkat ibjektivitas yang cukup tinggi. Apa yang diklaim sebagai pengetahuan memang betul-betul didasarkan pada pengenalan dan pengalaman langsung si subjek. Bisa saja objek yang sama dikenal oleh dua subjek secara berbeda.
Kedua, subjek mampu membuat penilaian tertentu atas objeknya karena pengenalan dan pengalaman pribadi yang bersifat langsung dengan objek.
Ketiga, jenis pengetahuan ini bersifat singular, yaitu hanya berkaitan dengan barang atau objek khusus. Artinya, pengetahuan ini terutama terbatas pada objek yang dikenal secara langsung dan personal dan bukan menyangkut objek serupa lainnya
d.   Tahu mengapa
Berkaitan dengan “pengetahuan bahwa”. Hanya saja, “tahu mengapa” jauh lebih mendalam dan serius daripada “tahu bahwa” karena “tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan. “tahu mengapa” jauh lebih kritis, sudah sampai pada tingkat mengaitkan dan menyusun hubungan-hubungan tak kelihatan antara berbagai informasi yang ada.
Pengetahuan model terakhir ini merupakan pengetahuan paling tinggi dan mendalam dan sekaligus juga merupakan pengetahuan ilmiah. Menurut Plato dan Aristoteles, dalam berhadapan dengan benda-benda di alam semesta ini, manusia pada dasarnya digerakkan oleh tiga perasaan; perasaan terkejut, perasaan ingin tahu, dan perasaan kagum.

33.      Hubungan di antara Empat Macam Pengetahuan
a.    Antara “tahu bahwa” dan “tahu bagaimana”
Antara “pengetahuan bahwa” dan “pengetahuan bagaimana” terdapat hubungan yang sangat erat yaitu bahwa “pengetahuan bagaimana” selalu mengandaikan “pengetahuan bahwa”. “pengetahuan bahwa” yaitu pengetahuan hanya demi pengetahuan. Sedangkan “pengetahuan bagaimana” justru telah melangkah lebih jauh untuk menerapkan “pengetahuan bahwa” tadi sehingga berguna bagi manusia.
b.    Antara “tahu bahwa” dan “tahu akan”
Supaya apa yang kita ketahui itu sungguh-sungguh merupakan suatu pengetahuan yang didukung oleh fakta, kita tidak hanya mendasarkan diri pada informasi yang kita peroleh dari orang lain. Maka, pada akhirnya pengetahuan kita bahwa sesuatu terjadi atau bahwa p , harus benar-benar juga didasarkan pada bukti dan fakta yang kita sendiri tahu dan peroleh secara pribadi.
c.    Antara “tahu bagaimana” dan “tahu akan”
Dengan mengetahui sesuatu secara pribadi, seseorang pada akhirnya semakin tahu bagaimana bertindak secara tepat.
d.   Antara tahu mengapa dan ketiga jenis pengetahuan lainnya
Pertama, supaya mengetahui pengetahuan kita bahwa sesuatu itu terjadi bagaimana adanya benar-benar akurat, kita membutuhkan “pengetahuan mengaoa”. Setelah kita tahu mengapa sesuatu terjadi sebagaimana adanya, kita secara sah dan pasti dapat mengatakan bahwa kita tahu bahwa seuatu terjadi. “pengetahuan mengapa” juga mengandaikan “tahu bahwa”.
Kedua, untuk bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu, dalam banyak kasus kita perlu mengetahui mengapa sesuatu terjadi. “tahu bagaimana” sesungguhnya merupakan aplikasi dan konsekuensi dari pengetahuan kita mengenai mengapa sesuatu terjadi, yaitu mengenai sebab dan akibat.
Ketiga, untuk bisa mempunyai “pengetahuan mengapa” sesuatu terjadi, kita perlu mempunyai pengenalan pribadi, kita perlu “tahu akan”, yaitu tahu secara mendalam tentang hal itu.
Kita dapat menyimpulkan bahwa keempatnya saling berkaitan saru sama lain untuk memungkinkan manusia sampai pada pengetahuan yang semakin akurat dan sempurna.

44.      Skeptisme
Sikap dasar skeptisme adalah bahwa kita tidak pernah tahu tentang apapun. Dengan kata lain, skeptisme meragukan kemungkinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup untuk mempertahankan bahwa manusia benar-benar tahu tentang sesuatu. Skeptisme terutama muncul karena anggapan bahwa pengetahuan menyangkut kepastian.
Pertama-tama, perlu kita katakan bahwa skeptisisme telah menyumbangkan sesuatu yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan, yaitu sikap meragukan secara positif setiap klaim dan bukti yang kita peroleh, menujukkan sikap kritis. Pada bab berikut, sikap ini dikembangkan lebih lanjut oleh Rene Descartes. Sikap yang sama juga sedikit banyak dianut oleh Karl. Popper.
Pertama, skeptisisme keliru beranggapan bahwa kalau kita tahu sesuatu kita tidak bisa salah.
Kedua, kenyataan menunjukkan bahwa selalu ada konsep yang berpasangan hitam dan putih, benar dan salah, kecil dan besar, berat dan ringan, tahu dan tidak tahu.
Ketiga, skeptisisme yang radikal akan melahirkan berbagai kontradiksi.
Kaum skeptis beranggapan bahwa pengetahuan manusia perlu diragukan. Ini berarti pengetahuan kaum skeptis bahwa semua pengetahuan perlu diragukan, juga harus diragukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar