Sabtu, 05 Mei 2018

SOSIALISASI


Ahli sosiologi menggunakan istilah sosialisasi untuk merujuk pada pengalaman kehidupan sosial yang lama dimana masyarakat meningkatkan potensi manusia mereka dan belajar mengenai kebudayaan. Manusia membutuhkan pengalaman sosial untuk mempelajari kebudayaan mereka dan untuk bertahan hidup. Pengalaman sosial juga merupakan dasar dari kepribadian, pola tetap seseorang dalam bertindak, berpikir dan merasakan.
            Namun, satu abad lalu orang keliru percaya bahwa manusia telah dilahirkan dengan naluri yang dapat menentukan kepribadian dan perilaku mereka. Menurut studi Charles Darwin tahun 1859 tentang evolusi, menggambarkan bahwa perilaku manusia lahir dari naluriah sendiri dan juga peran alam. Dari ide-ide tersebut menyebabkan klaim bahwa AS mencerminkan daya saing manusia naluriah bahwa perempuan itu alami ‘emosional’ dan pria alami ‘rasional’.
            Psikolog John B. Watson, mengembangkan sebuah teori yang disebut behaviorisme, Secara singkat, Watson menjelaskan perilaku manusia itu bukan sifat dasar tetapi pengaruh. Tanpa menyangkal pentingnya alam, maka dapat mengatakan pengaruh lebih penting dalam pembentukan perilaku manusia. Secara lebih tepatnya, pengaruh adalah sifat dasar kita.
Sosialisasi adalah proses yang kompleks dan abadi. Berikut merupakan hasil-hasil diskusi dari 6 peneliti Sigmund Freud, Jean Piaget, Lawrence Kohlberg, Carol Gilligan, George Herbert Mead, dan Erik H.Erikson.

Ø  UNSUR-UNSUR DARI KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUND FREUD
·      Kebutuhan dasar manusia
Freud menyatakan bahwa ilmu biologi memerankan bagian terpenting dalam perkembangan manusia walaupun tidak dalam naluri yang spesifik seperti halnya pada spesies lain. Sebaliknya ia berteori bahwa manusia memiliki 2 kebutuhan dasar yang ada sejak lahir. Yang pertama adalah kebutuhan seksual dan emosional atau yang disebut dengan naluri hidup. Yang kedua adalah sifat agresif atau yang disebut naluri kematian.

·      Model Kepribadian Freud
Freud menggabungkan kebutuhan dasar dan pengaruh masyarakat menjadi model kepribadian dalam tiga bagian yaitu id, ego dan superego.
1. Id (bahasa latin dari "itu") yaitu dorongan dasar manusia, yang tidak sadar dan menuntut kepuasan segera.
2. Ego adalah upaya sadar seseorang untuk menyeimbangkan bawaan kesenangan, mencari dorongan dengan tuntutan masyarakat.
3. Superego adalah nilai-nilai kebudayaan dan norma-norma yang diinternalisasi oleh individu. Superego beroperasi sebagai hati nurani dan memberitahu kita mengapa kita tidak bisa memiliki segala sesuatu yang kita inginkan.
·      Mengembangkan Kepribadian
Id dan superego tetap dalam konflik, tetapi pada orang yang baik dan mudah menyesuaikan, ego mengelola dua kekuatan yang berlawanan. Jika konflik tidak terselesaikan dalam masa kanak-kanak, Freud menyatakan konflik tersebut akan muncul dikemudian hari.

Ø  TEORI PENGEMBANGAN KOGNITIF DARI JEAN PIAGET
Seorang psikolog swiss yakni Jean piaget belajat tentang bagaimana orang berpikir dan memahami. Piaget mengidentifikasi 4 pengembangan kognitif:
1.      Tahap Sensorimotor
Tahap dimana manusia berkembang dengan pengalaman masing-masing hanya melalui pengindraan mereka. Selama sekitar dua tahun pertama kehidupan, bayi hanya mengenal dunia melalui panca indera: menyentuh, merasakan, mencium, melihat, dan mendengar.
2.      Tahap Praoperasional
Di umur 2 tahun, anak-anak memasuki tahap praopersional, yaitu tingkat pembangunan manusia di mana individu pertama kali menggunakan bahasa dan simbol-simbol lainnya. Mereka dapat mengidentifikasikan mainan sebagai benda kesukaan mereka, namun tidak dapat menjelaskan jenis mainan apa yang mereka sukai.
3.      Tahap Operasional Konkret
Tahap operasional konkret yaitu tahap pembangunan manusia di mana individu pertama melihat hubungan kausal pada keadaan sekitar. Berkisar pada usia tujuh dan sebelas, anak-anak fokus pada bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi. Selain itu, anak-anak sekarang melampirkan lebih dari satu simbol untuk acara tertentu atau objek.

4.      Tahap Operasional Formal
Tahap terakhir dalam model Piaget adalah tahap operasional formal,tingkat pembangunan manusia di mana individu berpikir secara abstrak dan logis. Pada sekitar usia dua belas tahun, anak-anak muda mulai membuat alasan yang abstrak daripada hanya memikirkan situasi konkret.

Ø  TEORI LAWRENCE KOHLBERG PENGEMBANGAN MORAL
Lawrance Kohlberg membangun pada pekerjaan Piaget untuk mempelajari penalaran moral, bagaimana individu menilai situasi sebagai benar atau salah. Disini lagi, pengembangan terjadi secara bertahap. Anak-anak yang mengalami masa sakit dan kesenangan berada pada tahap prakonvensional perkembangan moral. Sementara tahap konvensional muncul pada masa remaja. Anak-anak muda kehilangan beberapa keegoisan mereka karena mereka belajar untuk menentukan benar dan salah dalam hal apa yang menyenangkan orang tua dan sesuai norma-norma budaya. Individu pada tahap ini juga mulai menilai niat dalam penilaian pencapaian moral dan bukan hanya melihat apa yang orang lain lakukan. Dalam tahap akhir Kohlberg tentang perkembangan moral, tingkatposkonvensional, orang bergerak di luar norma-norma masyarakat mereka untuk mempertimbangkan abstrakprinsip-prinsip etika. Sekarang mereka berpikir tentang kebebasan, atau keadilan, mungkin dengan alasan bahwa apa yang legal masih mungkin dianggap tidak benar.

Ø  TEORI CORAL GILLIGAN TENTANG GENDER DAN PENGEMBANGAN MORAL
Carol Gilligan membandingkan perkembangan moral laki-laki dan wanita dan menyimpulkan bahwa dua jenis kelamin tersebut menggunakan standar yang berbeda terhadap kebenaran. Laki-laki memiliki sebuah pandangan keadilan, percaya pada aturan formal untuk menentukan benar dan salah. Sedangkan wanita memiliki kepedulian dan tanggung jawab, menghakimi sebuah situasi dengan hubungan personal dan loyalitas. Gilligan memberi catatan bahwa aturan impersonal mendominasi kehidupan laki-laki di tempat kerja, tetapi hubungan personal sangat relevan untuk kehidupan wanita sebagai ibu dan pemberi perhatian.



Ø  TEORI GEORGE HERBERT MEAD TENTANG PENGALAMAN SOSIAL
George Herbert Mead mengembangkan teori sosial behaviorisme untuk menjelaskan
bagaimana pengalaman sosial mengembangkan individu.
·           Diri. Pusat dari konsep Mead adalah mandiri, bagian dari kepribadian seorang individu terdiri dari kesadaran diri dan citra diri. Kecerdasan berpikir yang dimiliki Mead bearada pada kemampuan melihat ‘self’ menjadi sebuah hasil dari pengalaman sosial.
1.      ‘The self’ tidak didapat sejak lahir, melainkan dikembangkan.
2.      ‘The self’ berkembang hanya dengan pengalaman sosial.
3.      Pengalaman sosial adalah pertukaran dari lambang/gambaran.
4.      Gambaran kesimpulan berasal dari tindakan seseorang, membayangkan tujuan yang mendasari mereka.
5.      Memahami tujuan membutuhkan kemampuan untuk membayangkan sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda.
·           Mengaca Diri. Saat kita berinteraksi dengan orang lain, orang disekitar kita menjadi cerminan diri kita. Apa yang kita pikirkan tentang diri kita sendiri bergantung pada bagaimana kita berpikir bagaimana orang lain melihat kita.
·           I dan Me. Poin keenam Mead yaitu ‘mengambil tindakan dengan yang lain’, menjadikan tumbuhnya kesadaran diri. Dalam hal ini, terdapat 2 bagian. Yang pertama, menjadi subjek atau persoalan, dengan menjadi aktif dan spontan (tanpa diminta). Mead menamai sisi aktif dalam diri ini dengan “I’. Bagian dari diri yang menjadi objek/sasaran/tujuan adalah bagaimana cara kita membayangkan orang lain dalam memandang kita. Mead menamai bagian ini dengan “Me”
·           Pengembangan Diri. Menurut Mead, kunci pengembangan diri adalah mengambil peran orang lain.

Ø  TEORI TAHAP PERKEMBANGAN MENURUT ERIK H. ERIKSON
Erik H. Erikson (1902-1994) mengambil pandangan yang luas terhadap sosialisasi. Dia menjelaskan bahwa kita menghadapi tantangan semuanya adalah rangkaian hidup.
1)      Infansi (masa kecil), tantagan kepercayaan (melawan ketidakpercayaan)
2)      Toddlerhood (masa belajar berjalan), tantangan otonomi (melawan ragu dan malu)
3)      Prasekolah, tantangan inisiati (melawan kesalahan)
4)      Praremaja, tantangan ketekunan (melawan inferioritas)
5)      Remaja, tantangan menguntunkan diri (melawan kebingungan)
6)      Masa Dewasa Awal, tantangan kerukunan (melawan isolasi)
7)      Masa Dewasa Tengah, tantangan membuat perbedaan (melawan absorpsi)
8)      Masa Tua (Dewasa Akhir), tantangan integrasi (melawan keputusasaan)

¨        Agen Sosialisasi
1.      Keluarga : mempengaruhi sosialisasi pada beberapa cara. Terdiri dari pengaruh pada usia dini, ras dan kelas.
2.      Sekolah : sekolah memperluas dunia sosial anak untuk mengikutsertakan orang lain dengan latar belakang yang berbeda dari mereka. Anak-anak datang untuk memahami pentingnya faktor-faktor seperti ras dan posisi sosial. Sekolah terdiri dari Gender dan apa yang anak-anak pelajari.
3.      Kelompok Sebaya : Saat mereka masuk ke sekolah, anak-anak bergabung dengan teman sebayanya, yaitu grup sosial dimana anggota nya memiliki kesamaan minat, posisi sosial, dan usia.
4.      Media Massa : Media massa dimaksudkan untuk menyalurkan komunikasi komunikasi impersonal untuk khalayak luas. Yaitu, terdiri dari tingkat paparan media masa, televisi dan politik, dan televisi dan kekerasan.

¨        Sosialisasi dan Perjalanan Hidup
1.      Masa Kanak-kanak
            Kita mempertahankan ide kanak-kanak kita karena anak-anak secara biologis tidak dewasa. Tapi melihat kembali dalam waktu dan seluruh dunia menunjukkan bahwa konsep masa kanak-kanak tidak terkurung atau terpaku dalaam biologi tetapi dalam budaya. Di negara maju, tidak semua orang harus bekerja, jadi masa kanak-kanak dapat memberi waktu pada anak muda untuk mempelajari kemampuan yang dibutuhkan untuk tempat kerja berteknologi tinggi.
2.      Masa Remaja
Masa remaja muncul sebagai penyangga antara masa kanak-kanak dan dewasa.Kita umumnya menghubungkan remaja, atau masa remaja, dengan emosional dan gejolak sosial sebagai orang muda berjuang untuk mengembangkan sendiri identitas. Sekali lagi, kita tergoda untuk menunjuk pemberontakan remaja dan kebingungan dengan perubahan biologis pubertas. Tapi itu sebenarnya hasil inkonsistensi budaya.Remaja adalah waktu kontradiksi sosial, ketika orang tidak lagi anak-anak tetapi belum dewasa. Seperti halnya semua tahap kehidupan, remaja bervariasi sesuai dengan latar belakang sosial.
3.      Dewasa
Jika tahapan perjalanan hidup didasarkan pada perubahan biologis, itu akan mudah untuk mendefinisikan dewasa. Terlepas dari kapan tepatnya dimulai, dewasa adalah waktu ketika sebagian besar prestasi hidup berlangsung, termasuk mengejar karier dan berkeluarga.
Tahap awal kedewasaan. Selama masa ini-sampai sekitar 40 tahun- orang dewasa belajar bagaimana mengatur hari demi hari sendiri, yang seringkali menyulap prioitas yang saling bertentangan seperti: sekolah, pekerjaan, pasangan, anak, maupun orang tua. Tahap tengah kedewasaan. Pada masa ini yang sekitar usia 40-65-orang merasakan bahwa keadaan hidup mereka telah cukup baik. Mereka juga menjadi lebih sadar akan kesehatan. Wanita yang telah menghabiskan bertahun-tahun membesarkan sebuah keluarga telah menemukan sebuah cobaan emosional. Anak-anak tumbuh dan membutuhkan lebih sedikit perhatian, serta suami menjadi lebih sibuk dalam karir mereka. Sehingga tidak banyak waktu untuk anak maupun istrinya. Dan ini menyebabkan banyak kasus perceraian yang tinggi.
4.      Usia Tua
Pada masa ini merupakan tahap akhir kehidupan sendiri yang dimulai sekitar pertengahan tahun enam puluhan. Usia tua berbeda dalam cara yang penting dari tahap-tahap awal dalam perjalanan hidup. Tumbuh biasanya berarti memasuki peran baru dan mengambil tanggung jawab baru, tetapi menjadi tua adalah kebalikan pengalaman—meninggalkan peran yang disediakan baik kepuasan dan identitas sosial.
5.      Kematian
            Sepanjang sebagian besar sejarah manusia, rendahnya standar hidup dan terbatasnya teknologi medis berarti bahwa kematian akibat kecelakaan atau penyakit bisa datang pada setiap tahap kehidupan. Pada titik saat manusia mulai menerima bahwa dia akan mati, tidak lagi lumpuh oleh ketakutan dan kecemasan, orang yang hidupnya berakhir menetapkan untuk menemukan kedamaian dan menggunakan waktunya sebaik mungkin selama hidup.
¨        Tujuan Hidup : Pola dan Variasi
            Melihat dengan singkat pada titik-titik kehidupan menunjuk pada dua kesimpulan besar :
1.      Walaupun setiap tahap kehidupan ini terkait dengan proses biologis penuaan, perjalanan hidup sebagian besar merupakan konstruksi sosial. Untuk alasan ini, orang dalam berbagai masyarakat mungkin pernah mengalami tahap kehidupan berbeda atau tidak sama sekali.
2.      Dalam masyarakat apapun, tahapan perjalanan hidup menimbulkan masalah tertentu dan transisi yang melibatkan belajar sesuatu yang baru dan, dalam banyak kasus, tidak mempelajarirutinitas yang rutin.

¨             Resosialisasi : Jumlah Lembaga
Menurut Erving Goffman (1961), jumlah lembaga memiliki tiga karakteristik penting.
1.      Anggota staf mengawasi semua aspek dari kehidupan sehari-hari, termasuk kapan dan di mana penduduk.
2.      Kehidupan di institusi total dikontrol dan standar, dengan makanan yang sama, seragam, dan kegiatan untuk semua orang.
3.      Aturan formal mendikte kapan, di mana, dan bagaimana narapidana melakukan rutinitas sehari-hari mereka.Tujuan dari rutinitas yang kaku tersebut adalah resosialisasi, radikal mengubah kepribadian narapidana dengan hati-hati mengendalikan lingkungan.
Jumlah lembaga mempengaruhi orang-orang dengan cara yang berbeda. Beberapa tahanan mungkin berakhir "direhabilitasi" atau "pulih," tetapi yang lain bisa berubah sedikit, dan masih ada yang lain yang dapat menjadi bermusuhan dan pahit. Lebih panjang periode waktu, hidup di lingkungan kaku yang terkendali dapat membuat beberapa orang dilembagakan, tanpa kapasitas untuk hidup mandiri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar