Pertumbuhan autobiografi, jurnalisme ‘konfesional’ adalah salah
satu unsur penting yang paling mencolok dalam jurnalisme kontemporer.
Jurnalisme ini memberikan rincian pribadi dari para penulis tentang kehidupan
personal dan emosional. Tidak ada subjek terlarang atau tidak ada batasan dalam
keintiman yang dipersiapkan oleh penulis untuk dibagikan.
Tiga puluh taun yang lalu jenis kolom ini hampir tidak ada,
terutama pada koran ber-tema serius. Sekarang malah menjadi elemen pokok dari
bagian features dan suplemen akhir pekan, bahkan dikenal sebagai sebuah
genre khusus. Menurut Bendorf, genre ini merupakan sebuah bentuk fleksibel dan
esai personal sebagai cara untuk berbagi atas peristiwa maupun relasi kehidupan
dalam bentuk yang terhubung dengan pembaca.
·
Bangkitnya
Jurnalisme Otobiografi
Muncul dan bangkitnya jurnalisme autobiografi (menulis pengalaman
orang pertama) adalah salah satu perubahan dramatis dalam dunia jurnalisme
cetak beberapa tahun belakangan. Genre ini sekarang ada di mana-mana, bahkan
dalam surat kabar. Banyak koran yang memasukkan bagian berjuluk “Kehidupan
nyata, “Orang Pertama, ataupun “Nilai Relatif”.
Suplemen akhir minggu dari tabloid pasar menengah dan surat kabar
berisi kolom yang hampir seperti buku catatan personal. Terkadang isi nya hanya
sekedar tentang apa saja yang dihadapi dan dilewati oleh si penulis sepanjang
hari, minat mereka dalam jurnalisme yang membuat diri mereka terlihat ‘lucu’.
Akan tetapi, semakin banyak tulisan seperti ini justru kemungkinan
berasal dari jurnalis yang sering membahas topik serius. Ini mungkin tampak
menjadi bagian tren yang dijelaskan oleh beberapa ahli teori media sebaga ‘dumbing
down’. Teoiritis ini menyatakan jika ‘hard news’ dan jurnalisme
bertopik serius – yang memerlukan penelitian mendalam, investigasi dan
verifikasi’ – telah digeser oleh proliferasi dari ‘soft’ features. Soft
journalism sendiri didefinisikan sebagai berita yang lebih subjektif, tidak
memerlukan banyak penelitian, lebih banyak opini dan personal.
Secara tradisional, jurnalisme telah diasosiasikan dengan
penelitian terhadap dunia luar – maupun yang lain – dan melaporkannya kembali
kepada pembacanya. Walaupun pemahaman naif ini telah ditentang oleh banyak
akademisi, ini masihmenjadi kepercayaan umum bagi para praktisi tentang arti
yang tepat dari jurnalisme. “Wartawan”, disebutkan oleh Andrew Marr (2004:5)
“adalah orang-orang yang berusaha untuk mencari kebenaran terhadap dunia di
sekeliling mereka, dan kemudian menginformasikan kepada masyarakat – dengan
objektivitas, akurasi dan keseimbangan terbaik. Bahkan setelah interogasi
kritis tentang bias (sadar dan tidak), ini tetap menjadi nilai inti jurnalis
yang paling penting dan masih diajarkan dalam kebanyakan mata kuliah
jurnalistik kejuruan.
·
Masyarakat
Otobiografi
Jurnalisme bukanlah sebuah fenomena yang terisolir. Terdapat
keasyikan yang mendasari sebagian area ranah budaya, keduannya budaya populer
dan ‘tinggi’, dengan diri sendiri, subjektivitas dan identitas, dengan siapa
kita, darimana kita berasal, dan terutama apa yang kita rasakan. Keasyikan ini
dengan sendirinya bukan hanya dengan diri kita sendiri. Kita hendak menyaksikan
orang lain mencari tahu siapa mereka, apa bentuknya, dan apakah mereka bisa
berubah.
Menurut Plummer (2001), dimulainya abad ke-20 ditandai dengan
sebuah obsesi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menceritakan,
menyaksikan dan (yang penting) merekam cerita kehidupan. Ini telah “menjadi
bisnis besar yang bahkan bisa kita mulai
dengan berbicara sesuatu seperti ‘masyarakat auto/biografi : kisah hidup
ada dimana-mana.” (2001 : 78). Realisasi individu yang merasa ‘memiliki’, dalam
pergerakan yang jauh dari struktur organisasi dan pemerintahan lain berarti
bahwa narasi pribadi semacam itu telah mengambil makna baru.”
Meskipun masyarakat pengakuan autobiografis mungkin berasal dari
awal abad ke-20, tahun 1980-an menyaksikan lompatan kuantum. Pergeseran inilah
yang akhirnya mengikis nilai jurnalistik tradisional yang menganggap ranah
personal dan emosional berada di luar bisnis jurnalistik yang tepat.
Literatur feminis juga mengambil peran di mana pemaknaan yang luas
tentang otobiogradi wanita selama dekade terakhir ini mengenalkan banyak
penulis yang sebelumnya dikecualikan dari diskusi, sambil mengungkapkan
bagaimana tradisi otobiografi dan kritiknya. Perubahan dalam jurnalisme ini
sangat penting dalam memperluas akses dan membawa masalah yang sebelumnya tidak
diperhatikan ke dalam perhatian utama: kesehatan, gaya hidup, waktu luang,
domestik. Linda Christmas (1997) berpendapat bahwa mereka adalah bukti bahwa
wanita memiliki pengaruh lebih besar terhadap konten dan gaya hidup profesinya,
sebuah proses positif dari feminism.
·
Masyarakat
Konfesional
Lebih dari sekedar pengakuan sederhana akan pentingnya dunia
emosional, lebih dari sekedar interogasi politik terhadap posisi penilaian,
kita memiliki budaya mengakar daging yang disibukkan dengan kebiasaan
menyaksikan bagaimana individu bereaksi, menangani, dan merasakan pengalaman,
terutama pada hal-hal sulit.
Seolah-olah dalam budaya yang tidak lagi di bawah arahan moral yang
ketat daru penguasa yang mapan seperti gereja, orang tua, negara mulai bertanya
bagaimana kita harus bereaksi, tapi bagaimana kita akan bereaksi? Kita
membutuhkan kisah nyata untuk disaksikan dan dengan demikian menguji diri kita
sendiri.
·
Keaslian
dan Otobiografi
Keaslian
adalah inti dari masalah ini. Dari berbagai waxana yang mempromosikan
otobiografi, banyak yang jatuh ke dalam bayangan ketidaktahuan. Terdapat banyak
lagi tentang apa yang oleh wartawan Catherine Bennett sebut sebagai “sub-genre
yang berkembang: memoar kehidupan sejati yang menyedihkan dari kebenaran yang
patut dipertanyakan atau diperebutkan”. Keaslian dan kebenaran menyeluruh,
kemampuan untuk “merekonstruksi fakta” membuat ini menjadi otobiografi dan
bukan fiksi.
Jurnalisme yang terbaik dikaitkan dengan memaparkan fakta dan tidak
mengada-ada. Jurnalistik memberikan nuansa orisinil. Wartawan dimaksudkan untuk
menjadi jujur dan beroperasi dalam profesi yang menghargai kebenaran lebih
tinggi daripada hal lainnya.
·
Konvensi
Jurnalisme Otobiografi
Sebenarnya penulisan otobiogradi ini menjamin kejujurannya
sebagaimana terikatnya dengan konvensi pada genre penulisan lainnya.
·
Kesimpulan
Jurnalistik otobiografi seringkali terlihat terlalu narsistik
apabila dibandingkan dengan seni kontemporer, sering kali mengarah pada
pengeksposan diri daripada refleksi. Namun ini adalah bagian dari fenomena
budaya yang lebih luas yang berkaitan dengan menyelidiki dan mengasimilasi
emosi serta pengalaman kedalam berbagai masalah sosial dan politik, serta
merupakan bagian penting dari perkembangan budaya dengan pendekatan yang lebih
inklusif dan emosional terhadap pengalaman manusia.
Kolom “Aku, Aku, Aku” ini dikendarai oleh sebuah konvensi, sebagai
kolom akhir pekan yang menyenangkan yang membutuhkan penyangkalan diri yang
palsu dan kisah ketidakmampuan.
Jurnalisme memiliki peran penting dalam masyarakat dalam memberikan
suasana dan etos keaslian dan kebenaran. Esensi dari jurnalisme otobiografi
terkekang dari fabrikasi yang berlebihan oleh konvensi profesi. Namun efek
keasliannya bisa berarti bahwa konvensi ini bahkan lebih sulit dideteksi
daripada wacana yang kurang teliti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar