Kamis, 17 Mei 2018

AKU, AKU, AKU : KEBANGKITAN JURNALISME OTOBIOGRAFI


Pertumbuhan autobiografi, jurnalisme ‘konfesional’ adalah salah satu unsur penting yang paling mencolok dalam jurnalisme kontemporer. Jurnalisme ini memberikan rincian pribadi dari para penulis tentang kehidupan personal dan emosional. Tidak ada subjek terlarang atau tidak ada batasan dalam keintiman yang dipersiapkan oleh penulis untuk dibagikan.

Tiga puluh taun yang lalu jenis kolom ini hampir tidak ada, terutama pada koran ber-tema serius. Sekarang malah menjadi elemen pokok dari bagian features dan suplemen akhir pekan, bahkan dikenal sebagai sebuah genre khusus. Menurut Bendorf, genre ini merupakan sebuah bentuk fleksibel dan esai personal sebagai cara untuk berbagi atas peristiwa maupun relasi kehidupan dalam bentuk yang terhubung dengan pembaca.

·         Bangkitnya Jurnalisme Otobiografi
Muncul dan bangkitnya jurnalisme autobiografi (menulis pengalaman orang pertama) adalah salah satu perubahan dramatis dalam dunia jurnalisme cetak beberapa tahun belakangan. Genre ini sekarang ada di mana-mana, bahkan dalam surat kabar. Banyak koran yang memasukkan bagian berjuluk “Kehidupan nyata, “Orang Pertama, ataupun “Nilai Relatif”.

Suplemen akhir minggu dari tabloid pasar menengah dan surat kabar berisi kolom yang hampir seperti buku catatan personal. Terkadang isi nya hanya sekedar tentang apa saja yang dihadapi dan dilewati oleh si penulis sepanjang hari, minat mereka dalam jurnalisme yang membuat diri mereka terlihat ‘lucu’.

Akan tetapi, semakin banyak tulisan seperti ini justru kemungkinan berasal dari jurnalis yang sering membahas topik serius. Ini mungkin tampak menjadi bagian tren yang dijelaskan oleh beberapa ahli teori media sebaga ‘dumbing down’. Teoiritis ini menyatakan jika ‘hard news’ dan jurnalisme bertopik serius – yang memerlukan penelitian mendalam, investigasi dan verifikasi’ – telah digeser oleh proliferasi dari ‘soft’ features. Soft journalism sendiri didefinisikan sebagai berita yang lebih subjektif, tidak memerlukan banyak penelitian, lebih banyak opini dan personal.

Secara tradisional, jurnalisme telah diasosiasikan dengan penelitian terhadap dunia luar – maupun yang lain – dan melaporkannya kembali kepada pembacanya. Walaupun pemahaman naif ini telah ditentang oleh banyak akademisi, ini masihmenjadi kepercayaan umum bagi para praktisi tentang arti yang tepat dari jurnalisme. “Wartawan”, disebutkan oleh Andrew Marr (2004:5) “adalah orang-orang yang berusaha untuk mencari kebenaran terhadap dunia di sekeliling mereka, dan kemudian menginformasikan kepada masyarakat – dengan objektivitas, akurasi dan keseimbangan terbaik. Bahkan setelah interogasi kritis tentang bias (sadar dan tidak), ini tetap menjadi nilai inti jurnalis yang paling penting dan masih diajarkan dalam kebanyakan mata kuliah jurnalistik kejuruan.

·         Masyarakat Otobiografi
Jurnalisme bukanlah sebuah fenomena yang terisolir. Terdapat keasyikan yang mendasari sebagian area ranah budaya, keduannya budaya populer dan ‘tinggi’, dengan diri sendiri, subjektivitas dan identitas, dengan siapa kita, darimana kita berasal, dan terutama apa yang kita rasakan. Keasyikan ini dengan sendirinya bukan hanya dengan diri kita sendiri. Kita hendak menyaksikan orang lain mencari tahu siapa mereka, apa bentuknya, dan apakah mereka bisa berubah.

Menurut Plummer (2001), dimulainya abad ke-20 ditandai dengan sebuah obsesi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menceritakan, menyaksikan dan (yang penting) merekam cerita kehidupan. Ini telah “menjadi bisnis besar yang bahkan bisa kita mulai  dengan berbicara sesuatu seperti ‘masyarakat auto/biografi : kisah hidup ada dimana-mana.” (2001 : 78). Realisasi individu yang merasa ‘memiliki’, dalam pergerakan yang jauh dari struktur organisasi dan pemerintahan lain berarti bahwa narasi pribadi semacam itu telah mengambil makna baru.”

Meskipun masyarakat pengakuan autobiografis mungkin berasal dari awal abad ke-20, tahun 1980-an menyaksikan lompatan kuantum. Pergeseran inilah yang akhirnya mengikis nilai jurnalistik tradisional yang menganggap ranah personal dan emosional berada di luar bisnis jurnalistik yang tepat.

Literatur feminis juga mengambil peran di mana pemaknaan yang luas tentang otobiogradi wanita selama dekade terakhir ini mengenalkan banyak penulis yang sebelumnya dikecualikan dari diskusi, sambil mengungkapkan bagaimana tradisi otobiografi dan kritiknya. Perubahan dalam jurnalisme ini sangat penting dalam memperluas akses dan membawa masalah yang sebelumnya tidak diperhatikan ke dalam perhatian utama: kesehatan, gaya hidup, waktu luang, domestik. Linda Christmas (1997) berpendapat bahwa mereka adalah bukti bahwa wanita memiliki pengaruh lebih besar terhadap konten dan gaya hidup profesinya, sebuah proses positif dari feminism.

·         Masyarakat Konfesional
Lebih dari sekedar pengakuan sederhana akan pentingnya dunia emosional, lebih dari sekedar interogasi politik terhadap posisi penilaian, kita memiliki budaya mengakar daging yang disibukkan dengan kebiasaan menyaksikan bagaimana individu bereaksi, menangani, dan merasakan pengalaman, terutama pada hal-hal sulit.

Seolah-olah dalam budaya yang tidak lagi di bawah arahan moral yang ketat daru penguasa yang mapan seperti gereja, orang tua, negara mulai bertanya bagaimana kita harus bereaksi, tapi bagaimana kita akan bereaksi? Kita membutuhkan kisah nyata untuk disaksikan dan dengan demikian menguji diri kita sendiri.

·         Keaslian dan Otobiografi
            Keaslian adalah inti dari masalah ini. Dari berbagai waxana yang mempromosikan otobiografi, banyak yang jatuh ke dalam bayangan ketidaktahuan. Terdapat banyak lagi tentang apa yang oleh wartawan Catherine Bennett sebut sebagai “sub-genre yang berkembang: memoar kehidupan sejati yang menyedihkan dari kebenaran yang patut dipertanyakan atau diperebutkan”. Keaslian dan kebenaran menyeluruh, kemampuan untuk “merekonstruksi fakta” membuat ini menjadi otobiografi dan bukan fiksi.

Jurnalisme yang terbaik dikaitkan dengan memaparkan fakta dan tidak mengada-ada. Jurnalistik memberikan nuansa orisinil. Wartawan dimaksudkan untuk menjadi jujur dan beroperasi dalam profesi yang menghargai kebenaran lebih tinggi daripada hal lainnya.

·         Konvensi Jurnalisme Otobiografi
Sebenarnya penulisan otobiogradi ini menjamin kejujurannya sebagaimana terikatnya dengan konvensi pada genre penulisan lainnya.

·         Kesimpulan
Jurnalistik otobiografi seringkali terlihat terlalu narsistik apabila dibandingkan dengan seni kontemporer, sering kali mengarah pada pengeksposan diri daripada refleksi. Namun ini adalah bagian dari fenomena budaya yang lebih luas yang berkaitan dengan menyelidiki dan mengasimilasi emosi serta pengalaman kedalam berbagai masalah sosial dan politik, serta merupakan bagian penting dari perkembangan budaya dengan pendekatan yang lebih inklusif dan emosional terhadap pengalaman manusia.

Kolom “Aku, Aku, Aku” ini dikendarai oleh sebuah konvensi, sebagai kolom akhir pekan yang menyenangkan yang membutuhkan penyangkalan diri yang palsu dan kisah ketidakmampuan.

Jurnalisme memiliki peran penting dalam masyarakat dalam memberikan suasana dan etos keaslian dan kebenaran. Esensi dari jurnalisme otobiografi terkekang dari fabrikasi yang berlebihan oleh konvensi profesi. Namun efek keasliannya bisa berarti bahwa konvensi ini bahkan lebih sulit dideteksi daripada wacana yang kurang teliti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar