
JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Terorisme ( BNPT) Suhardi Alius mengaku tidak bisa memantau
warga negara Indonesia yang dideportasi oleh pemerintah Turki lantaran tidak
bisa menyeberang ke Suriah.
"Memang enggak bisa seterus-terusnya
(dipantau). Bentangannya kan besar sekali ya," ujar Suhardi di Kompleks
Istana Presiden, Jakarta, Selasa (22/5/2018).
BNPT hanya bisa memantau mereka ketika tiba di
Indonesia. Setelah mereka tiba di Jakarta, pihak BNPT menampung terlebih dahulu
di Panti Sosial Bina Laras Cipayung, Jakarta Timur. Di sana, BNPT mendata
mereka kemudian melaksanakan program deradikalisasi selama satu bulan. "Di
sana kita kasih psikolog, konseling anak-anak. Satu bulan itu kita lihat, kita
tanya, nah hasilnya beda-beda memang," lanjut dia.
Setelah sebulan, BNPT menyerahkan mereka ke dinas
sosial pemerintah daerah tempat mereka tinggal.
"Kami sampai mengikutinya ke alamat dan
tujuan. Kita minta Kemendagri kirim pejabat dari Pemkot, Pemkab untuk menjemput
supaya tahu persis di mana mereka tinggal dan bergaulnya sama siapa dan sebagainya,"
ujar Suhardi. Setelah itu, BNPT dibantu Polri dan TNI memantau hingga batas
waktu tertentu. Di saat itulah pemerintah tidak bisa terus menerus memantau
mereka.
"Itu yang sekarang kita sedang cari polanya,
bagaimana supaya begitu mereka kembali, kita bisa terus monitoring," ujar
Suhardi.
Selengkapnya baca di : https://nasional.kompas.com/read/2018/05/22/22185961/bnpt-mengaku-tak-bisa-terus-pantau-wni-yang-gagal-masuk-suriah.
Selengkapnya baca di : https://nasional.kompas.com/read/2018/05/22/22185961/bnpt-mengaku-tak-bisa-terus-pantau-wni-yang-gagal-masuk-suriah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar