Beberapa studi menunjukkan rata-rata setiap orang akan mengatakan
satu atau dua kebohongan per harinya. Mengenai kebohongan dan presentasi diri
personal ataupun organisasi, Internet yang mempunyai dan memberikan kebebasan
kepada semua orang, mampu menyajikan fasilitas bagi orang-orang untuk melakukan
manipulasi terhadap identitasnya.
Definisi Penipuan Digital
Penipuan atau pembohongan digital mengacu pada pengendalian
informasi yang disengaja dalam pesan yang dimediasi oleh media untuk
menciptakan kepercayaan palsu terhadap penerima pesan. Jadi media digital bisa
membagikan informasi sesuai yang diinginkan oleh si pemberi informasi, mekipun
informasi tersebut adalah tidak benar dan bisa membangun kepercayaan dari si
penerima pesan. Karakteristik pertama adalah tindakan pembohongan bisa dengan
disengaja. Pemberian informasi atau identitas palsu bisa dengan cara si pemberi
informasi memang memiliki intensitas untuk berbohong. Karakteristik kedua
adalah pembohongan dirancang untuk menyesatkan atau membuat kepercayaan palsu
kepada beberapa target. Di sini kebohongan yang dibuat memang agar memunculkan
dan mendapatkan kepercayaan dari target.
Pembohongan digital juga memberikan karakteristik tambahan, yaitu
kontrol atau manipulasi informasi dalam pembohongan diteteapkan dalam pesan
yang dimediasi secara teknologi. Ini berarti pesan yang disampaikan dalam
bentuk digital atau teknologi yang lebih daripada sekedar pengaturan tatap
muka.
Pembohongan digital dibagi menjadi dua tipe, yaitu yang bedasarkan
identitas komunikator, dan yang berdasarkan pesan aktual dalam komunikasi.
Pemalsuan identitas yaitu mengacu pada manipulasi informasi atau tampilan dari
identitas seseorang maupun organisasi. Sedangkan pemalsuan pesan yaitu
pembohongan dalam komunikasi antara dua atau lebih dimana informasi pesan yang
ditukarkan atau diberikan sebenarnya dimanipulasi.
Memang pesan dalam sebuah komunikasi bisa berfungi meningkatkan
penipuan atau pembohongan tentang identitas dan ketika pemalsuan identitas
digital diberlakukan, pesan yang terbentuk dalam komunikasi akan cenderung juga
menipu.
Identitas, berdasarkan pembohongan digital
Komunikasi online via internet mampu menyajikan kepada pengguna nya
berbagai kesempatan unik untuk memanipulasi indetitas maupun meng-eksplor sense
of self mereka. Setiap orang mampu berbohong atas identitasnya, menjadi
seperti apa yang mereka mau. Contohnya ketika seseorang mendaftarkan akun media
sosialnya, dengan bebas ia bisa memasang foto siapapun, meskipun itu bukan
fotonya sendiri, untuk dijadikan foto profil.
Pun penyembunyian identitas juga mengacu pada menyembunyikan atau
menghilangkan aspek identitas seseorang, seperti menggunakan nama samaran saat
mengeposkan, untuk melindungi identitas seseorang.
Tidak hanya identitas individu ataupun organisasi, pembohongan
digital di internet juga berkembang
sampai kepada transaksi bisnis dan finansial. Perkembangan ini pun dimanfaatkan
untuk melakukan tindakan kriminal yang serius dalam penipuan digital.
Grazioli dan Jarvenpaa (2003) telah mengidentifikasi tujuh taktik
penipuan pada umumnya. Tiga taktik pertama berfokus pada mengaburkan sifat
barang yang akan ditransaksikan, dan meliputi
1.
Masking, mengeliminasi informasi penting mengenai suatu barang.
2.
Dazzling, mengaburkan informasi penting mengenai suatu barang.
3.
Decoying, men-distraksi perhatian korban dari transaksi
Empat tipe taktik lainnya melibatkan manipulasi informasi terhadap
transaksi itu sendiri, dan meliputi
1.
Mimicking, mengasumsi identitas orang lain atau memodifikasi transakti
sehingga tampak sah.
2.
Inventing, membangun informasi tentang transaksi tersebut.
3.
Relabeling, mendeskripsikan transaksi yang jelas-jelas menyesatkan.
4.
Double
play, meyakinkan korban jika dia mendapatkan keuntungan dari si penipu.
Di sini menunjukkan, internet menawarkan lingkungan yang fleksibel dalam
bentuk penipuan berbasis identitas yang dapat menyulitkan pengguna teknologi
untuk mendeteksi penipuan.
Mengingat sejauh mana teknologi informasi dan komunikasi mencakup
banyak aspek dalam kehidupan kita, mungkin sulit untuk memperkirakan dampak
teknologi yang mungkin terjadi di salah satu aspek kehidupan manusia, yaitu penipuan.
Diperlukan penelitian tambahan untuk meneliti secara sistematis berbagai faktor
yang telah diidentifikasi oleh literatur sebagai dampak penipuan terhadap tatap
muka, termasuk, antara lain, motivasi untuk mendeteksi penipuan, hubungan
antara penipu dan target, jenis dan besaran dari penipuan, peran kecurigaan dan
pengalaman dengan media.
Demikian pula, saat teknologi baru dikembangkan dan digunakan,
fitur dan kemampuan mereka sehubungan dengan penipuan perlu diidentifikasi.
Misalnya, bagaimana situs kencan online, di mana orang memposting profil mereka
sendiri, mempengaruhi penipuan dan persepsi, seberapa sering orang berbohong
dalam profil mereka, dan kebohongan macam apa yang dianggap dapat diterima.
Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan, penelitian sampai
saat ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan mengenai persilangan
penipuan dan teknologi memiliki jawaban yang rumit, namun penelitian tersebut
juga menunjukkan bahwa teknologi komunikasi memang mempengaruhi seberapa sering
kita berbohong, tentang apa dan kepada siapa. Data juga menunjukkan bahwa
deteksi penipuan akan menjadi rumit, jika tidak lebih, online karena bersifat
tatap muka, walaupun potensi deteksi penipuan yang dibantu komputer dapat
menciptakan jalan baru untuk masalah ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar