Senin, 07 Mei 2018

Penipuan Digital : Kenapa, Kapan dan Bagaimana Orang Berbohong Secara Online?


Beberapa studi menunjukkan rata-rata setiap orang akan mengatakan satu atau dua kebohongan per harinya. Mengenai kebohongan dan presentasi diri personal ataupun organisasi, Internet yang mempunyai dan memberikan kebebasan kepada semua orang, mampu menyajikan fasilitas bagi orang-orang untuk melakukan manipulasi terhadap identitasnya.

Definisi Penipuan Digital
Penipuan atau pembohongan digital mengacu pada pengendalian informasi yang disengaja dalam pesan yang dimediasi oleh media untuk menciptakan kepercayaan palsu terhadap penerima pesan. Jadi media digital bisa membagikan informasi sesuai yang diinginkan oleh si pemberi informasi, mekipun informasi tersebut adalah tidak benar dan bisa membangun kepercayaan dari si penerima pesan. Karakteristik pertama adalah tindakan pembohongan bisa dengan disengaja. Pemberian informasi atau identitas palsu bisa dengan cara si pemberi informasi memang memiliki intensitas untuk berbohong. Karakteristik kedua adalah pembohongan dirancang untuk menyesatkan atau membuat kepercayaan palsu kepada beberapa target. Di sini kebohongan yang dibuat memang agar memunculkan dan mendapatkan kepercayaan dari target.
Pembohongan digital juga memberikan karakteristik tambahan, yaitu kontrol atau manipulasi informasi dalam pembohongan diteteapkan dalam pesan yang dimediasi secara teknologi. Ini berarti pesan yang disampaikan dalam bentuk digital atau teknologi yang lebih daripada sekedar pengaturan tatap muka.
Pembohongan digital dibagi menjadi dua tipe, yaitu yang bedasarkan identitas komunikator, dan yang berdasarkan pesan aktual dalam komunikasi. Pemalsuan identitas yaitu mengacu pada manipulasi informasi atau tampilan dari identitas seseorang maupun organisasi. Sedangkan pemalsuan pesan yaitu pembohongan dalam komunikasi antara dua atau lebih dimana informasi pesan yang ditukarkan atau diberikan sebenarnya dimanipulasi.
Memang pesan dalam sebuah komunikasi bisa berfungi meningkatkan penipuan atau pembohongan tentang identitas dan ketika pemalsuan identitas digital diberlakukan, pesan yang terbentuk dalam komunikasi akan cenderung juga menipu.
Identitas, berdasarkan pembohongan digital
Komunikasi online via internet mampu menyajikan kepada pengguna nya berbagai kesempatan unik untuk memanipulasi indetitas maupun meng-eksplor sense of self mereka. Setiap orang mampu berbohong atas identitasnya, menjadi seperti apa yang mereka mau. Contohnya ketika seseorang mendaftarkan akun media sosialnya, dengan bebas ia bisa memasang foto siapapun, meskipun itu bukan fotonya sendiri, untuk dijadikan foto profil.
Pun penyembunyian identitas juga mengacu pada menyembunyikan atau menghilangkan aspek identitas seseorang, seperti menggunakan nama samaran saat mengeposkan, untuk melindungi identitas seseorang.
Tidak hanya identitas individu ataupun organisasi, pembohongan digital di internet  juga berkembang sampai kepada transaksi bisnis dan finansial. Perkembangan ini pun dimanfaatkan untuk melakukan tindakan kriminal yang serius dalam penipuan digital.
Grazioli dan Jarvenpaa (2003) telah mengidentifikasi tujuh taktik penipuan pada umumnya. Tiga taktik pertama berfokus pada mengaburkan sifat barang yang akan ditransaksikan, dan meliputi
1.      Masking, mengeliminasi informasi penting mengenai suatu barang.
2.      Dazzling, mengaburkan informasi penting mengenai suatu barang.
3.      Decoying, men-distraksi perhatian korban dari transaksi
Empat tipe taktik lainnya melibatkan manipulasi informasi terhadap transaksi itu sendiri, dan meliputi
1.      Mimicking, mengasumsi identitas orang lain atau memodifikasi transakti sehingga tampak sah.
2.      Inventing, membangun informasi tentang transaksi tersebut.
3.      Relabeling, mendeskripsikan transaksi yang jelas-jelas menyesatkan.
4.      Double play, meyakinkan korban jika dia mendapatkan keuntungan dari si penipu.
Di sini menunjukkan, internet menawarkan lingkungan yang fleksibel dalam bentuk penipuan berbasis identitas yang dapat menyulitkan pengguna teknologi untuk mendeteksi penipuan.
Mengingat sejauh mana teknologi informasi dan komunikasi mencakup banyak aspek dalam kehidupan kita, mungkin sulit untuk memperkirakan dampak teknologi yang mungkin terjadi di salah satu aspek kehidupan manusia, yaitu penipuan. Diperlukan penelitian tambahan untuk meneliti secara sistematis berbagai faktor yang telah diidentifikasi oleh literatur sebagai dampak penipuan terhadap tatap muka, termasuk, antara lain, motivasi untuk mendeteksi penipuan, hubungan antara penipu dan target, jenis dan besaran dari penipuan, peran kecurigaan dan pengalaman dengan media.
Demikian pula, saat teknologi baru dikembangkan dan digunakan, fitur dan kemampuan mereka sehubungan dengan penipuan perlu diidentifikasi. Misalnya, bagaimana situs kencan online, di mana orang memposting profil mereka sendiri, mempengaruhi penipuan dan persepsi, seberapa sering orang berbohong dalam profil mereka, dan kebohongan macam apa yang dianggap dapat diterima.
Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan, penelitian sampai saat ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang diajukan mengenai persilangan penipuan dan teknologi memiliki jawaban yang rumit, namun penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi komunikasi memang mempengaruhi seberapa sering kita berbohong, tentang apa dan kepada siapa. Data juga menunjukkan bahwa deteksi penipuan akan menjadi rumit, jika tidak lebih, online karena bersifat tatap muka, walaupun potensi deteksi penipuan yang dibantu komputer dapat menciptakan jalan baru untuk masalah ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar