Di era globalisasi ini, seakan-akan semua masyarakat di dunia
dengan mudah bisa tersambung menjadi satu melalui teknologi internet. Melalui
teknologi ini pula, setiap individu di belahan dunia bagian manapun mampu membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan
kreasi, berpikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik,
menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas lewat media sosial.
Pesatnya perkembangan media sosial akhir-akhir ini dikarenakan
semua orang seakan bisa memiliki medianya sendiri. Sejak populernya media
sosial, kita seolah tak lagi sungkan membagikan momen-momen kehidupan pribadi
ke ruang publik. Media sosial memberi ruang bagi
kita untuk menunjukkan diri dan juga ada "penontonnya".
Dalam ber-media sosial, kita bebas menciptakan, mengkreasikan,
menuliskan, maupun membagikan konten yang kita mau. Kebebasan ini pun
seringkali memunculkan keinginan aktualisasi
diri dan kebutuhan untuk menciptakan personal branding. Barang-barang bagus, lokasi liburan mewah, hingga makanan mahal di
restoran eksklusif yang kerap di posting seseorang melalui media sosial yang
dianggap sebagai pelengkap kepribadian.
Sebagian orang menyebut kebiasaan senang posting kehidupan pribadi,
termasuk barang-barang yang kita punyai, sebagai perilaku pamer dan narsistik. Di
lain pihak, banyak juga orang yang menganggap sah-sah saja kita mengekspos
kehidupan pribadinya di akun miliknya.
Fenomena seperti ini ditangkap oleh dunia bisnis sebagai ladang
untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Para pelaku bisnis menawarkan
produk-produk yang dikemas dengan branding sebagai gaya hidup modern dan
kemudian melahirkan perilaku konsumtif dari para pengguna media sosial sebagai
sasarannya.
Padahal jika dicermati lebih jelas, terkadang aktualisasi diri dan
personal branding yang ingin kita ciptakan dan tunjukkan kepada publik
seringkali berlebihan. Banyak hal-hal yang tidak berfaedah dan tidak memiliki
manfaat skala panjang hanya untuk memuaskan kesenangan semata.
Seandainya kita mau melihat sekeliling, masih banyak orang-orang
yang lebih membutuhkan, dan cara kita menghamburkan uang hanya untuk mendapatkan
pengakuan dari orang lain adalah hal yang sia-sia.
Masih banyak orang-orang yang kelaparan di pinggir jalan. Mereka
yang bekerja seharian, tapi masih tidak ada uang untuk makan keesokan harinya.
Mereka yang tidak pernah libur membanting tulang karena khawatir tidak bisa
membiayai pendidikan anaknya. Mereka yang hanya bisa membeli barang-barang
bekas dan tidak layak untuk digunakan sehari-hari.
Seandainya kita bisa lebih melek terhadap keadaan sekitar, melihat
mereka yang kekurangan dan masih saja tidak lelah untuk bekerja demi bertahan
hidup. Mereka yang hidupnya tidak seberuntung kita.
Miris ketika mereka yang dalam keadaan susah melihat postingan yang
kita bagikan ketika menghambur-hamburkan uang di media sosial. Ketika kita
sibuk meng-aktualisasikan diri dan berusaha mengikuti gaya hidup ‘yang katanya’
modern. Padahal jika uang dan barang yang kita hamburkan bisa bernilai lebih
berharga jika digunakan oleh mereka.
Mulai dari sekarang hendaknya kita lebih berpikir serta bertindak
cermat dalam memposting atau membagikan konten di media sosial. Mengedepankan
empati, bukan sekedar gengsi.
Mencoba untuk menahan diri agar tidak terjebak dalam arus gaya
hidup kekinian. Mencoba untuk lebih peka terhadap sesama. Mencoba untuk melihat
realita di sekeliling kita. Masih banyak orang-orang yang membutuhkan bantuan
kita. Selain sebagai pengingat betapa beruntungnya nasib kita, sekaligus
menjadi langkah awal untuk rajin bersedekah.
Dimulai dari diri sendiri, menyisihkan sebagian rezeki dan berbagi.
Bukankah menyebarkan kebahagiaan kepada sesama terasa lebih indah daripada
hanya memuaskan nafsu semata?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar