Rabu, 09 Mei 2018

THE TECHNOLOGY AND THE SOCIETY (TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT)


Kita terbiasa dengan pernyataan-pernyataan umum tentang kemajuan teknologi yang mampu merubah dunia kita dan justru kita tidak paham dengan jelas apa makna spesifik yang sebenarnya. Ketika kita mendiskusikan efek dari beberapa teknologi terhadap perilaku sosial, kita cenderung menganggap begitu saja bahwa teknologi adalah penyebabnya. Untuk menghindari pengamatan yang dangkal, kita harus melihat gagasan sebab dan akibat antara teknologi dan masyarakat, teknologi dan budaya, teknologi dan psikologi.
Pertanyaan tentang sebab dan akibat antara masyarakat dan teknologi mungkin tampak sangat sulit, padahal sangatlah praktis. Tanpa itu semua tidak mungkin untuk menetapkan apakah teknologi adalah sebab atau akibatnya. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian penting dari argumen budaya kita.
 
A.    VERSI DARI SEBAB DAN AKIBAT DALAM TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT
Banyak orang memiliki pernyataan yang berbeda-beda terhadap televisi sebagai sebuah kemajuan teknologi. Tapi disini kita bisa mengklasifikasikanya menjadi dua perbedaan pendapat secara luas.
·         Televisi sebagai penemuan yang dibuat secara sengaja
Tidak ada alasan khusus kenapa teknologi ini ditemukan. Demikian juga konsekuensinya juga disengaja. Jika televisi belum ditemukan, perubahan budaya dan masyarakat tertentu pasti tidak akan terjadi.
Pendapat ini biasanya disebut sebagai technological deternism. Teknologi baru ditemukan dengan dasarnya penelitian proses internal dan pengembangan yang kemudian menetapkan kondisi perubahan sosial dan perkembangannya, yang ‘menciptakan dunia modern’. Penelitian dan perkembangan telah diasumsikan sebagai self-generating. Teknologi baru ditemukan sebagai sebuah bola independen yang kemudian menciptakan masyarakat dan kondisi manusia yang baru.

·         Televisi sebagai kecelakaan teknologi
Makna utamanya terletak pada kegunaannya, yang merupakan gejala dari beberapa orde masyarakat atau beberapa sifat manusia.
Orang-orang yang memiliki opini seperti ini cenderung berpendapat meskipun televisi tidak ditemukan, manusia masih bisa digerakkan atau terhibur tanpa henti, meskipun di beberapa sisi mungkin tidak sekuat seperti pengaruh televisi.
Bisa disebut sebagai social deternism. Kemudian symptomatic technology ini dianggap jika suatu kompleks teknologi adalah sebuah gejala dari perubahan lainnya. Melihat teknologi tertentu sebagai produk sampingan dari sebuah proses sosial yang ditentukan sebaliknya.
Perdebatan di antara dua pendapat umum ini menempati bagian yang lebih penting dari pemikiran kita tentang teknologi, keduanya membuat poin-poin penting meskipun pada akhirnya semuanya tidak memiliki titik temu, karena keduanya sama-sama mengabstraksikan teknologi dari masyarakat. Ini memungkinkan untuk menggaris bawahi perbedaan interpretasi yang membolehkan kita untuk tidak hanya melihat sejarahnya dengan cara yang lebih radikal, dengan memugar kembali maksud dari proses penelitian dan pengembangan. Teknologi adalah penelitian dan pengembangan dengan tujuan tertentu yang sudah ada dalam pikiran.

B.     SEJARAH SOSIAL DARI TELEVISI SEBAGAI SEBUAH TEKNOLOGI
Penemuan televisi bermula dari berkembangnya listrik, telegrafi, fotografi dan gambar bergerak, serta radio. Bisa dikatakan telah dipisahkan sebagai spesifik teknologi objektif pada periode 1875-1890, dan kemudian setelah sebuah hambatan, kemudian berkembang lagi dari 1920 sampai pada sistem televisi publik pertama pada 1930-an hingga menjadi teknologi canggih seperti sekarang ini.
Semua range teknologi ini dikembangkan selama beberapa abad sehubungan dengan dan sebagai tanggapan terhadap perubahan sosial dan ekonomi.

C.    SEJARAH SOSIAL DARI PENGGUNAAN TEKNOLOGI TELEVISI
Tidak seperti semua teknologi komunikasi sebelumnya, radio dan televisi adalah sistem yang dirancang untuk transmisi dan penerimaan sebagai proses abstrak, dengan sedikit atau bahkan tidak ada definisi dari konten sebelumnya.
Penyiaran adalah produk sosial dari kecenderungan mobilitas di satu tangan dan unit self-contained keluarga di sisi lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar