Jumat, 04 Mei 2018

Perempuan Dalam Bumi Sastra



Sastra dalam bahasa Indonesia  biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Menurut Mursal Esten, Sastra atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).

Sedangkan menurut Eagleton, Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan, dijadikan ganjil. Sastra dapat muncul sebagai bentuk kritikan terhadap gejala sosial dan menjadi cermin dari suatu fenomena sosial bahkan budaya yang ada.

Selama ini perempuan kerap kali dijadikan sebagai objek dari sebuah karya sastra. Perempuan sering menjadi sajian maupun inspirasi dari lahirnya karya sastra. Dominasi karya sastra yang penuh dengan tema-tema yang mengangkat tentang kisah perempuan, entah itu hanya sebagai topik atau sekaligus pemeran didalamnya. Hampir semua tema pun seolah-olah bisa dihubungkan dengan kehidupan perempuan. Mulai dari politik, salah satu contoh dalam tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer; Agama dalam novel Ayat-Ayat Cinta, Surga Yang Tak Dirindukan; hingga Budaya dalam karya sastra legendaris roman Siti Nurbaya. Mengulas perempuan seakan tiada habisnya.

Meskipun penggambaran perempuan sebagai objek dianggap mendominasi karya sastra, tidak sama hal nya ketika perempuan sebagai penghasil sastra. Perempuan masih dianggap menempati urutan minoritas dibanding laki-laki. Bisa dilihat salah satu contohnya dalam Buku Angkatan 2000 karya Sastra Indonesia karya Korrie layun Rampan (Grasindo, 2000) yang menghimpun 78 nama pengarang, hanya mencantumkan 17 nama perempuan, dan selebihnya sebanyak 61 orang adalah nama lelaki.

Padahal banyak penulis perempuan di balik karya sastra hebat. Sebut saja Jane Austen (Emma, Pride and Prejudice, Persuasion); J.K Rowling (Seri Harry Potter); Nelle Haper Lee (To Kill a Mockingbird); Jodi Picoult (My Sister’s Keeper, Tenth Circle) hingga dari dalam negeri seperti Dewi lestari (Supernova, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Aroma Karsa); Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet, Saia); Asma Nadia (Surga yang Tak Dirindukan, Assalamualaikum Beijing) serta Fira Basuki (Perempuan Hujan, Brownies, Cinta dalam Sepotong Roti).

Kabar baiknya, akhir-akhir ini di era globalisasi dengan kemajuan teknologinya, penulis perempuan semakin banyak bermunculan dan diakui eksistensinya. Ditambah dengan semakin gencarnya seruan emansipasi wanita, dimana perempuan mendapatkan hak  untuk memperoleh pendidikan, seluas-luasnya, setinggi-tingginya. Agar perempuan juga di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan keilmuan yang dimilikinya dan agar wanita tidak merendahkan dan di rendahkan derajatnya di mata pria.

Semakin banyak yang tertarik untuk terjun dalam dunia sastra. Banyak pula karya-karya yang dihasilkan oleh perempuan. Mulai dari karya sastra berbentuk puisi, roman, novel, cerpen dan lain sebagainya. Tidak sedikit karya yang dielu-elukan dan menjadi primadona, tidak sedikit pula yang menuai kontroversi.

Salah satu karya yang menjadi sorotan publik baru-baru ini adalah puisi kontroversial karya putri Ir. Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri berjudul Ibu Indonesia yang dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week. Pasalnya, puisi tersebut dianggap menista agama karena menyinggung azan dan cadar. Syair pada puisi tersebut dinilai melecehkan dan menistakan agama, khususnya agama Islam. Perbandingan yang digunakan Sukmawati dalam puisi tersebut, seperti antara konde dengan cadar serta kidung dengan adzan, dianggap merendahkan sayriat agama. 

Berikut adalah bait yang dianggap kontroversial.

“Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
....
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu”

Terlepas dari kontroversi puisi karya Sukmawati Soekarnoputri, sebenarnya perhatian publik menunjukkan bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh kaum perempuan mulai mendapatkan pamor, mulai diakui eksistensinya, meskipun kali ini menyebabkan kegaduhan diantara masyarakat.
Pun untuk bereaksi terhadap kontroversi ini, sebagai perempuan harusnya ikut bersuara dan mengembalikan citra bahwa karya sastra perempuan tidak selalu menjadi kontroversi, tapi bisa menjadi karya yang berkualitas.

Perempuan harus menulis karya sastra, karena perempuan berhak mengungkapkan aspirasinya. Menyuarakan opininya. Perempuan berhak menunjukkan eksistensinya sebagai manusia kreatif. Perempuan sejatinya bisa menghasilkan karya sastra jenis apapun, tidak ada batasan gender untuk berkarya.

Perempuan harus menulis karya sastra, karena daya pikir dan daya imajinasi perempuan tidak kalah bebas dengan kaum pria. Keberanian perempuan mengutarakan perasaan secara bebas dan terbuka sudah tak lagi dijadikan masalah besar. Hak perempuan dan laki-laki sudah setara dalam menyatakan pendapat di ruang publik.

Perempuan harus menulis karya sastra. Menulis dan terus belajar. Bukan sekedar soal menghasilkan karya, tapi bagaimana bisa berkarya yang berkualitas.
 Dikutip dari tulisan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah sebuah keberanian, menulis adalah bekerja dalam keabadian.”

(Feature)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar