Sastra dalam bahasa Indonesia biasa digunakan untuk merujuk kepada
"kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau
keindahan tertentu. Menurut Mursal Esten, Sastra
atau kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif
sebagai manifestasi kehidupan manusia (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai
medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan).
Sedangkan menurut Eagleton,
Sastra adalah karya tulisan yang halus (belle letters) adalah karya yang
mencatatkan bentuk bahasa. harian dalam berbagai cara dengan bahasa yang
dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan dan diterbalikkan,
dijadikan ganjil. Sastra dapat muncul sebagai bentuk kritikan terhadap gejala
sosial dan menjadi cermin dari suatu fenomena sosial bahkan budaya yang ada.
Selama ini perempuan kerap kali
dijadikan sebagai objek dari sebuah karya sastra. Perempuan sering menjadi sajian
maupun inspirasi dari lahirnya karya sastra. Dominasi karya sastra yang penuh
dengan tema-tema yang mengangkat tentang kisah perempuan, entah itu hanya sebagai
topik atau sekaligus pemeran didalamnya. Hampir semua tema pun seolah-olah bisa
dihubungkan dengan kehidupan perempuan. Mulai dari politik, salah satu contoh
dalam tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer; Agama dalam novel Ayat-Ayat Cinta,
Surga Yang Tak Dirindukan; hingga Budaya dalam karya sastra legendaris roman
Siti Nurbaya. Mengulas perempuan seakan tiada habisnya.
Meskipun penggambaran perempuan sebagai
objek dianggap mendominasi karya sastra, tidak sama hal nya ketika perempuan sebagai
penghasil sastra. Perempuan masih dianggap menempati urutan minoritas dibanding
laki-laki. Bisa dilihat salah satu contohnya dalam Buku Angkatan 2000 karya
Sastra Indonesia karya Korrie layun Rampan (Grasindo, 2000) yang menghimpun 78
nama pengarang, hanya mencantumkan 17 nama perempuan, dan selebihnya sebanyak
61 orang adalah nama lelaki.
Padahal banyak penulis perempuan di
balik karya sastra hebat. Sebut saja Jane Austen (Emma, Pride and Prejudice,
Persuasion); J.K Rowling (Seri Harry Potter); Nelle Haper Lee (To Kill a
Mockingbird); Jodi Picoult (My Sister’s Keeper, Tenth Circle) hingga dari dalam
negeri seperti Dewi lestari (Supernova, Perahu Kertas, Filosofi Kopi, Aroma
Karsa); Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang Saya Monyet, Saia); Asma Nadia (Surga
yang Tak Dirindukan, Assalamualaikum Beijing) serta Fira Basuki (Perempuan
Hujan, Brownies, Cinta dalam Sepotong Roti).
Kabar baiknya, akhir-akhir ini di
era globalisasi dengan kemajuan teknologinya, penulis perempuan semakin banyak
bermunculan dan diakui eksistensinya. Ditambah dengan semakin gencarnya seruan
emansipasi wanita, dimana perempuan mendapatkan hak untuk
memperoleh pendidikan, seluas-luasnya, setinggi-tingginya. Agar perempuan juga
di akui kecerdasannya dan diberi kesempatan yang sama untuk mengaplikasikan
keilmuan yang dimilikinya dan agar wanita tidak merendahkan dan di rendahkan
derajatnya di mata pria.
Semakin banyak yang tertarik untuk
terjun dalam dunia sastra. Banyak pula karya-karya yang dihasilkan oleh
perempuan. Mulai dari karya sastra berbentuk puisi, roman, novel, cerpen dan
lain sebagainya. Tidak sedikit karya yang dielu-elukan dan menjadi primadona,
tidak sedikit pula yang menuai kontroversi.
Salah satu karya yang menjadi sorotan
publik baru-baru ini adalah puisi kontroversial karya putri Ir. Soekarno,
Sukmawati Soekarnoputri berjudul Ibu Indonesia yang
dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week.
Pasalnya, puisi tersebut dianggap menista agama karena menyinggung azan dan
cadar. Syair pada puisi tersebut dinilai melecehkan dan menistakan
agama, khususnya agama Islam. Perbandingan yang digunakan Sukmawati dalam puisi
tersebut, seperti antara konde dengan cadar serta kidung dengan adzan, dianggap
merendahkan sayriat agama.
Berikut adalah bait yang dianggap kontroversial.
“Aku tak
tahu Syariat Islam
Yang
kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih
cantik dari cadar dirimu
....
Aku tak
tahu syariat Islam
Yang
kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih
merdu dari alunan azan mu”
Terlepas dari kontroversi puisi
karya Sukmawati Soekarnoputri, sebenarnya perhatian publik menunjukkan bahwa
karya sastra yang dihasilkan oleh kaum perempuan mulai mendapatkan pamor, mulai
diakui eksistensinya, meskipun kali ini menyebabkan kegaduhan diantara
masyarakat.
Pun untuk bereaksi terhadap
kontroversi ini, sebagai perempuan harusnya ikut bersuara dan mengembalikan
citra bahwa karya sastra perempuan tidak selalu menjadi kontroversi, tapi bisa
menjadi karya yang berkualitas.
Perempuan harus menulis karya
sastra, karena perempuan berhak mengungkapkan aspirasinya. Menyuarakan
opininya. Perempuan berhak menunjukkan eksistensinya sebagai manusia kreatif.
Perempuan sejatinya bisa menghasilkan karya sastra jenis apapun, tidak ada
batasan gender untuk berkarya.
Perempuan harus menulis karya
sastra, karena daya pikir dan daya imajinasi perempuan tidak kalah bebas dengan
kaum pria. Keberanian perempuan mengutarakan
perasaan secara bebas dan terbuka sudah tak lagi dijadikan masalah besar. Hak
perempuan dan laki-laki sudah setara dalam menyatakan pendapat di ruang publik.
Perempuan harus
menulis karya sastra. Menulis dan terus belajar. Bukan sekedar soal
menghasilkan karya, tapi bagaimana bisa berkarya yang berkualitas.
Dikutip dari tulisan Pramoedya Ananta Toer,
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah sebuah keberanian,
menulis adalah bekerja dalam keabadian.”
(Feature)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar