Selasa, 29 Mei 2018

KELUARGA


Keluarga adalah sebuah institusi sosial yang ada dalam semua masyarakat yang mempersatukan orang-orang dalam grup kooperarif yang saling manjaga satu sama lain, termasuk anak-anaknya.  Ikatan keluarga (kinship) ialah ikatan sosial berdasarkan pada keturunan, pernikahan atau pengadobsian.
Pernikahan adalah sebuhan hubungan legal, biasanya terkait dengan kooperasi ekonomi, aktivitas seksual, dan meneruskan keturunan. Kepercayaan tradisional di AS adalah orang sebaiknya menikah sebelum memiliki anak; ekspektasi ini dibentuk atas dasar ikatan perkawinan (matrimony), di mana dalam bahasa Latin berarti “ the condition of motherhood”.

v    Keluarga : Perbedaan-Perbedaan Global
Pada masyarakat preindustri, orang biasanya mengenal extended family, yaitu sebuah kelarga yang terdiri dari orang tua dan anak selayaknya keluarga lain. Grup ini termasuk setiap orang dengan ikatan darah yag sama. Industrialisasi meningkatkan mobilitas sosial dan migrasi memunculkan nuclear family, yaitu sebuah eluarga terdiri dari ssatu atau dua orang tua dan anak-anak mereka.
Ø  Pola-pola Pernikahan
Norma budaya dan juga hukum, mengidentifikasi masyarakat sebagai pasangan suami-istri yang pantas atau tidak pantas. Beberapa norma pernikahan menaikkan endogamy, yaitu pernikahan  antara orang-orang dengan kategori sosial yang sama. Sebaliknya, exogamy, adalah pernikahan antara orang-orang degan kategori sosial berbeda.
Dalam negara berpendapatan tinggi, hukum mengizinkan monogamy, yaitupernikahan yang mnyatukan dua partner. Banyak negara di Afrika dan Asia Tenggara mengizinkan poligami, pernikahan yang menyatukan seseorang dengan dua atau lebih pasangan. Poligami memiliki dua bantuk. Pertama, poligini yairu pernikahan yang menyatukan satu laki-laki dengan dua atau lebih wanita. Kedua, poliandri yaitu pernikahan yang menyatukan satu wanita dengan dua atau lebih laki-laki.


Ø  Pola-pola Kediaman
Pada masyarakat preindustri, banyak pengantin baru hidup dengan satu set orang tua yang saling melindungi, mendukung, dan membantu. Yang paling biasa adalah norma patrilocality, yaitu pola residensial dimana pasangan pernikahan hidup dengan atau dekat keluarga suami. Aka tetapi beberapa masyarakat lebih memilih matrilocality, yaitu pola residensial dimana pasngan pernikahan hidup dengan atau dekat keluarga istri. Sekarang masyarakat menggunakan neolocality, yaitu pola residensial dimana pasangan pernikahan hidup berpisah dari masing-masing keluarga.
Ø  Pola-pola Keturunan
Keturunan mengarah pada sistem dimana anggota dari sebuah masyarakat  membentuk kekeluargaan dari generasi ke generasi. Keturunan patrilinial, adalah sebuah sistem membentuk keluarga melalui laki-laki. Pada pola ini, anak dihubungkan dengan yang lain hanya melalui ayah mereka. Membangun kekeluargaan melalui patrlinial menjamin bahwa ayah meninggalkan properti pada anak-anaknya.
Pola yang tidak biasa adalah keturunan matrilinial, yaitu sebuah sistem membentuk keluarga melalui wanita. Masyarakat industri dengan perbedaan gender yang tinggi megenal keturunan bilateral, sebuah sistem membentuk keluarga melalui keduanya, laki-laki dan wanita.
v   Teori-teori Keluarga
Ø  Fungsi Keluarga : Teori Fungsional Struktural
1.      Sosialisasi
seperti yang dijelaskan di bagian 5 (“Sosialisasi”),keluarga adalah tempat pertama dan yang paling penting untuk membesarkan anak. Walau tentu saja,sosialisasi dalam keluarga akan berkembang ke lingkungan hidup.
2.      Kehidupanseksual
Setiap budaya selalu mengatur kehidupan seksual,agar tetap terjaganya keturunan. Yang menjadi tabu adalah bila hubungan seksual atau pernikahan yang terjadi ada di antara saudara.
3.      Penempatan sosial
keluarga tidak diperlukan untuk orang-orang bereproduksi,tapi mereka tetap menurunkan identitas sosial –seperti etnis,agama,ras– kepada anak mereka sejak lahir.
4.      Pengamanan Sosial dan Emosi
banyak orang melihat kalau keluarga adalah ‘tempat berlindung dari dunia yang tidak berperasaan’,karena keluarga mendukung perasaan,keuangan,dll. Mungkin ini kenapa orang-orang yang tinggal dalam keluarga cenderung lebih sehat,bahagia,dan makmur.
Ø  Ketidaksamaan dan Keluarga : Teori Konfilk Sosial dan Feminim
1.      Properti dan Warisan
Laki-laki atau pria harus mengidentifikasi kepemilikannya dengan jelas,agar dia bisa mewariskan propertinya ke anaknya.
2.      Patriarki
untuk mengetahui ahli warisnya,laki-laki harus mengendalikan wanitanya atau istrinya. Karena itu wanita menjadi properti seks dan ekonomi bagi keluarga.
3.      Ras dan etnis
ras dan etnis bertahan dari generasi ke generasi karena biasanya yang menikah akan mencari pasangan yang mirip dengan ras/enisnya.
Ø  Konstruksi Kehidupan Keluarga : Teori Mikro Level
Micro level menyelidiki bagaimana individu membentuk dan megalami kehidupan keluarga.
Ø  Pendekatan Interaksi Simbolik
Kehidupan keluarga menawarkan sebuah peluang untuk kerukunan, dalam bahasa Latin berarti berbagi ketakutan. Anggota keluarga berbagi banyak aktivitas sepanjang waktu, mereka menidentifikasi satu sama lain dan membangun emosi. Faktanya bahwa orang tua bertindak sebagai figur otoritas yang sering membatasi kedekatan mereka dengan anak terkecil. Tetapi sebagai anak yang mndekatai masa dewasa, ikatan kekeluargaan biasanya membuka untuk berbagi kepercayaan dengan kerukukan yang lebih.
Ø  Pendekatan Pertukaran Sosial
Pada intinya, analisa pertukaran menerangkan, orang “melihat-lihat” (mencari) pasangan untuk membuat “kesepakatan” terbaik. Dalam masyarakat patriarchal, gender mengatur elemen pertukaran : tradisioalnya, laki-laki memiliki kekayaan dan kekuatan untuk dibawa ke “marriage marketplace” sedangkan wanita membawa kecantikan.
Ø  Penggung Kehidupan Keluarga
Keluarga adalah sebuah institusi yang dinamis. Bukan hanya keluarga itu sendiri yang berbubah, tetapi juga cara kita mengalami perubahan keluarga seperti menjalani kehidupan. Keluarga baru memulai dengan perkenalan dan berkembang sebagai pasangan baru menuju kehidupan pernikahan yang sebenanrnya. Selanjutnya untuk kebanyakan pasangan pada akhirnya, datang waktu untuk mengembangkan karier dan melahirkan anak, tahun selanjutnya, anak sudah meninggalkan rumah untuk membentuk keluarga sendiri.
v  Stages of Family Life
Keluarga merupakan suatu lembaga social yang dinamis, berubah dari waktu ke waktu, karena ada beberapa hal yang mengakibatkan keluarga mengalami perubahan seiring “pergantian kehidupan”. Pasangan baru, memulainya dengan masa pengelanan “pacaran” dan kemudian menikah. Selanjutnya , mereka dituntut untuk mengembangkan karir mereka untuk dapat menghasilkan uang untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Setelah anak-anak mereka dewasa, mereka akan meninggalkan rumah untuk menata keluarga baru mereka sendiri.
1.      Courtship (masa pengenalan/pacaran)
Perjodohan banyak dilakukan oleh orang tua zaman dahulu karena “pacaran” dianggap hal yang tabu dilakukan anak-anak muda zaman dahulu. Perjodohan antar keluarga di zaman dahulu juga bukan hanya mengenai pernikahan antar anak-anak mereka, tetapi juga mengenai kekayaan (harta) dan status sosial. Perasaan bukan lah hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jodoh. Biasannya orang tua juga mereka mengaturperjodohan selagi anak-anak mereka masih muda. Namun seiring perkembangan IPTEK dan terjadinya revolusi industry mengakibatkan budaya perjodohan semakin terkikis. Sekarang banyak anak muda yang mampu memikirkan masa depan mereka sendiri dengan memeroleh pendidikan tinggi, membangun karir mereka sendiri yang akan diperlukan mereka untuk bias hidup tanpa asuhan dari orang tua mereka lagi. Mereka juga mulai mendapatkan pengalaman untuk bisa memilih pasangan mereka sendiri tanpa perjodohan dari orang tua mereka.
2.      Settling In : Ideal and Real Marriage.
Seksualitas memberikan gambaran nyata mengenai kebahagiaan pasangan yang abru menikah. Namun seksualitas juga dapat menjadi sumber kekecewaan. Frekuensi seks dalam pernikahan pasti akan mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Seks mungkkin bukan satu-satunya kunci kebahagiaan dalam suatu hubungan namun percaya atau tidak hhubungan seks yang baik dapat mempererat hubungan sepasang suami-istri.



3.      Child Rearing (membesarkan anak).
Meski pun biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak tidak sedikit namun membesarkan anak merupakan salah satu kebahagiaan bagi orang tua. Dewasa ini, sekitar 50% orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa 2 anak adalah jumlah yang ideal dan sisanya ingin lebih dari tiga anak. setelah terjadi revolusi industri di Amerika Serikat angka kelahiran menurun setiap tahunnya dan lambat laun mereka mulai berpikir bahwa 2 anak sudah lebih dari cukup. Bahkan banyak pasangan baru yang menunda kehamilan mereka.  Pada tahun 1960 hampir 90% perempuan pada usia 25-29 tahun yang telah menikah baru memiliki 1 anak. Hampir semua orang tua sudah sangat peduli mengenai bagaimana cara membesarkan anak mereka dengan baik, mereka lebih memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kualitas daripada kuantitas.
4.      Family in Later Life.
Angka harapan hidup yang tinggi di Amerika Serikat membuktikan bahwa mereka telah berhasil meningkatkan kualitas hidup mereka sebagai manusia. Banyak orang tua yang berusia 60 tahun yang sebagian besar dari mereka telah mampu membesarkan anak mereka dengan baik. Anak-anak mereak pun telah siap untuk melanjutkan kehidupannya untuk mencari pasangan dan membuat “sarang” baru untuk keluarga barunya sendiri.
v  U.S Families : Class, Race, and Gender.
1.      Social Class.
Kelas sosial sangat menentukan bagaimana kehidupan suatu keluarga. Kehidupan keluarga kerajaan tentu saja berbeda dengan keluarga masyarakat miskin. Bagi anak yang lahir di keluarga dengan kondisi ekonomi baik dan kelas sosial yang tinggi akan memiliki peluang lebih besar untuk bisa memiliki banyak prestasi dibandingkan anak yang lahir di keluarga yang kurang mampu. Namun hal itu tetap bukan lah faktor utama yang menentukan masa depan seorang anak.
2.      Ethnicity and Race.
Keluarga yang terbentuk dari sepasang kekasih yang berbeda latar belakang kebudayaan akan menghasilkan pola kebisanaan/adat yang baru. Banyak orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda dating ke kota untuk mencari pekerjaan dan banyak juga diantara mereka yang pada akhirnya sepakat untuk membangun sebuah keluarga baru dari latar belakang yang berbeda. Itulah kenapa etnik dan ras dapat memengaruhi kehidupan sebuah keluarga.
3.      Gender.
Kebanyakan wanita akan memilih seorang pria yang lebih dewasa dan tentunya lebih mapan daripada si wanita dan tentunya dengan pekerjaan yang tetap. Kalau begitu apakah hal tersebut juga berlaku bagi para pria? Apakah para pria diperbolehkan memilih wanita yang lebih mapan dari dirinya baik dari segi finansial maupun mnetal? Jika tidak apakah suatu pernikahan akan lebih menguntungkan wanita daripada si pria?. Menurut Jessie Bernard(sociologist) wanita yang telah menikah benar benar akan mempunyai kesehatan mental yang rendah, kurang bahagia, dan memiliki sikap yang tertutup terhadap kehidupan luar di lingkunganya daripada wanita lajang. Sebaliknya, seorang pria yang telah menikah umumnya hidup dengan kesehatan mental yang baik daripada pria lajang. Perbedaan ini menunjukan mengapa setelah perceraian pria lebih bersemangatn daripada wanita untuk menemukan pasangan baru. Bernard menyimpulkan bahwa tidak ada jaminan hidup yang lebih baik bagi wanita ataupun pria setelah pernikahan. Segalanya tergantung pada pembagian tugas seorang pria sebagai seorang ayah dan wanita sebagai seorang ibu rumah tangga dilaksanakan dengan baik atau tidak.
Maka, pertanyaan apakah suatu pernikahan akan lebih menguntungkan wanita daripada pria bukan lah hal yang sepenuhnya benar. Pernikahan akan menguntungkan kedua belah pihak apabila keduannya mau melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan baik.
Transisi dan masalah dalam kehidupan berkeluarga
Berdasarkan pendapat dari kolumnis surat kabar Ann Landers, bahwa pernikahan terbagi menjadi beberapa masa; 5 tahun yang baik, 10 tahun yang penuh dengan toleran dan sisanya yang tidak menyenangkan. Keluarga dapat menjadi sebuah kebahagiaan namun disamping itu dapat segera berakhir.
Perceraian
Menjadi masalah utama dalam sebuah pernikahan. Sebab sebabnya:
1.         Menjadi terlalu individualis/independen
2.         Kehangatan yang berkurang
3.         Perempuan kurang bergantung kepada laki laki
4.         Pernikahan yang terlalu mengakibatkan stress
5.         Perceraian menjadi hal yang lumrah
6.         Perceraian mudah didapat
Perceraian dapat terjadi terhadap banyak pihak, terlebih kepada pasangan pasangan muda yang dari segi emosional dan keuangannya sangat kurang. Juga terhadap pasangan yang kesulitan dalam proses kehamilan, memiliki lata berlakang kekerasan dan memiliki latar kedua orangtua yang bercerai. Pada akhirnnya, pasangan yang dulunya pernah bercerai peluang untuk bercerai lagi dalam pernikahan selanjutnya menjadi besar.
Perceraian dan Anak
Ketika sebuah perceraian terjadi yang akan diperbincangkan adalah tentang tunjangan secara finansial.
46% tidak ada pengadilan memerintahkan pembayaran
22% pembayaran penuh
14% pembayaran sebagian
11% tidak ada pembayaran
7% pembayaran tidak tepat waktu
Pernikahan Kembali dan Bergabungnya Lagi Keluarga
Terjadinya pernikahan lagi tentunya akan melahirkan sebuah keluarga baru, adanya orangtua tiri dan anak tiri. Hubungan baru yang terjalin akan melahirkan sebuah proses yang berbeda beda bagi tiap individu.
Kekerasan Keluarga
Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga seringkali terjadi karena tindak emosional yang tidak terbendung. Mayoritas terjadi pada pihak wanita sebagai korban dan anak anak. Kekerasan keluarga inilah menjadi faktor utama terjadinya perceraian. Masalah yang seharusnya masih bisa untuk didiskusikan malah berakhir dengan kekerasan, masalah tidak terselesaikan ditambah dengan sakit batin yang mengakibatkan perceraian.
Alternetif pembentukan keluarga
Keluarga satu orangtua
·      Tiga puluh persen keluarga di AS dengan anak-anak umur dibawah 18 tahun hanya memiliki satu orangtua.
·      Orangtua tunggal meningkatkan risiko wanita terhadap kemiskinan karena memiliki keterbatasan kemampuan untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan
·      Penelitian menunjukan bahwa anak yang tumbuh bersama orangtua tunggal akan mengakibatkan kerugian,karena ayah dan ibu memiliki kontribusi dalam dalam pengembangan sosial anak.

Cohabitation
·      Cohabitation ialah berbagi satu rumah oleh pasangan yang belum nikah.
·      Hampir setengah orang yang berusia 25 sampai 44 telah mengalami kohabitasi
·      Penelitian menunjukan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan kohabitasi tidak ingin hidup dengan orangtua kandungnya sampai umur 18 dibandingkan anak-anak yang lahir dari pasangan yang sudah menikah
Pasangan gay dan lesbi
Pasangan gay dan lesbi membentuk hubungan yang kekal,dan menjadi orangtua semakin meningkat
Singlehood
Seperempat rumah tangga saat ini masih berstatus single.Jumlah wanita muda yang berstatus lajang meningkat secara dramatis,hasil dari wanita yang lebih mengutamakn pekerjaan ketimbang kebutuhan dukungan pria.
Teknologi reproduksi baru dan keluarga
       Pada tahun 1978,Louise Brown menemukan bayi tabung.Sejak saat itu,sepuluh dari seribu anak-anak lahir dari luar Rahim.Bayi tabung merupakan produk fertilisasi in vitro,dimana dokter menyatukan sel telur wanita dan sperma pria di dalam suatu “gelas”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar