Keluarga adalah
sebuah institusi sosial yang ada dalam semua masyarakat yang mempersatukan
orang-orang dalam grup kooperarif yang saling manjaga satu sama lain, termasuk
anak-anaknya. Ikatan keluarga (kinship)
ialah ikatan sosial berdasarkan pada keturunan, pernikahan atau pengadobsian.
Pernikahan
adalah sebuhan hubungan legal, biasanya terkait dengan kooperasi ekonomi,
aktivitas seksual, dan meneruskan keturunan. Kepercayaan tradisional di AS
adalah orang sebaiknya menikah sebelum memiliki anak; ekspektasi ini dibentuk
atas dasar ikatan perkawinan (matrimony), di mana dalam bahasa Latin berarti “
the condition of motherhood”.
v
Keluarga :
Perbedaan-Perbedaan Global
Pada masyarakat
preindustri, orang biasanya mengenal extended family, yaitu sebuah kelarga yang
terdiri dari orang tua dan anak selayaknya keluarga lain. Grup ini termasuk
setiap orang dengan ikatan darah yag sama. Industrialisasi meningkatkan
mobilitas sosial dan migrasi memunculkan nuclear family, yaitu sebuah eluarga
terdiri dari ssatu atau dua orang tua dan anak-anak mereka.
Ø Pola-pola Pernikahan
Norma budaya dan
juga hukum, mengidentifikasi masyarakat sebagai pasangan suami-istri yang
pantas atau tidak pantas. Beberapa norma pernikahan menaikkan endogamy, yaitu
pernikahan antara orang-orang dengan
kategori sosial yang sama. Sebaliknya, exogamy, adalah pernikahan antara
orang-orang degan kategori sosial berbeda.
Dalam negara
berpendapatan tinggi, hukum mengizinkan monogamy, yaitupernikahan yang
mnyatukan dua partner. Banyak negara di Afrika dan Asia Tenggara mengizinkan
poligami, pernikahan yang menyatukan seseorang dengan dua atau lebih pasangan.
Poligami memiliki dua bantuk. Pertama, poligini yairu pernikahan yang
menyatukan satu laki-laki dengan dua atau lebih wanita. Kedua, poliandri yaitu pernikahan
yang menyatukan satu wanita dengan dua atau lebih laki-laki.
Ø Pola-pola Kediaman
Pada masyarakat
preindustri, banyak pengantin baru hidup dengan satu set orang tua yang saling
melindungi, mendukung, dan membantu. Yang paling biasa adalah norma
patrilocality, yaitu pola residensial dimana pasangan pernikahan hidup dengan
atau dekat keluarga suami. Aka tetapi beberapa masyarakat lebih memilih
matrilocality, yaitu pola residensial dimana pasngan pernikahan hidup dengan
atau dekat keluarga istri. Sekarang masyarakat menggunakan neolocality, yaitu
pola residensial dimana pasangan pernikahan hidup berpisah dari masing-masing
keluarga.
Ø Pola-pola Keturunan
Keturunan
mengarah pada sistem dimana anggota dari sebuah masyarakat membentuk kekeluargaan dari generasi ke
generasi. Keturunan patrilinial, adalah sebuah sistem membentuk keluarga
melalui laki-laki. Pada pola ini, anak dihubungkan dengan yang lain hanya
melalui ayah mereka. Membangun kekeluargaan melalui patrlinial menjamin bahwa
ayah meninggalkan properti pada anak-anaknya.
Pola yang tidak
biasa adalah keturunan matrilinial, yaitu sebuah sistem membentuk keluarga
melalui wanita. Masyarakat industri dengan perbedaan gender yang tinggi megenal
keturunan bilateral, sebuah sistem membentuk keluarga melalui keduanya,
laki-laki dan wanita.
v
Teori-teori
Keluarga
Ø Fungsi Keluarga : Teori Fungsional Struktural
1.
Sosialisasi
seperti yang dijelaskan di bagian 5 (“Sosialisasi”),keluarga adalah tempat pertama dan yang paling penting untuk membesarkan anak. Walau tentu saja,sosialisasi dalam keluarga akan berkembang ke lingkungan hidup.
seperti yang dijelaskan di bagian 5 (“Sosialisasi”),keluarga adalah tempat pertama dan yang paling penting untuk membesarkan anak. Walau tentu saja,sosialisasi dalam keluarga akan berkembang ke lingkungan hidup.
2. Kehidupanseksual
Setiap budaya selalu mengatur kehidupan seksual,agar tetap terjaganya keturunan. Yang menjadi tabu adalah bila hubungan seksual atau pernikahan yang terjadi ada di antara saudara.
Setiap budaya selalu mengatur kehidupan seksual,agar tetap terjaganya keturunan. Yang menjadi tabu adalah bila hubungan seksual atau pernikahan yang terjadi ada di antara saudara.
3. Penempatan
sosial
keluarga tidak diperlukan untuk orang-orang bereproduksi,tapi mereka tetap menurunkan identitas sosial –seperti etnis,agama,ras– kepada anak mereka sejak lahir.
keluarga tidak diperlukan untuk orang-orang bereproduksi,tapi mereka tetap menurunkan identitas sosial –seperti etnis,agama,ras– kepada anak mereka sejak lahir.
4. Pengamanan
Sosial dan Emosi
banyak orang melihat kalau keluarga adalah ‘tempat berlindung dari dunia yang tidak berperasaan’,karena keluarga mendukung perasaan,keuangan,dll. Mungkin ini kenapa orang-orang yang tinggal dalam keluarga cenderung lebih sehat,bahagia,dan makmur.
banyak orang melihat kalau keluarga adalah ‘tempat berlindung dari dunia yang tidak berperasaan’,karena keluarga mendukung perasaan,keuangan,dll. Mungkin ini kenapa orang-orang yang tinggal dalam keluarga cenderung lebih sehat,bahagia,dan makmur.
Ø Ketidaksamaan dan Keluarga : Teori Konfilk Sosial
dan Feminim
1. Properti
dan Warisan
Laki-laki atau pria harus mengidentifikasi kepemilikannya dengan jelas,agar dia bisa mewariskan propertinya ke anaknya.
Laki-laki atau pria harus mengidentifikasi kepemilikannya dengan jelas,agar dia bisa mewariskan propertinya ke anaknya.
2. Patriarki
untuk mengetahui ahli warisnya,laki-laki harus mengendalikan wanitanya atau istrinya. Karena itu wanita menjadi properti seks dan ekonomi bagi keluarga.
untuk mengetahui ahli warisnya,laki-laki harus mengendalikan wanitanya atau istrinya. Karena itu wanita menjadi properti seks dan ekonomi bagi keluarga.
3. Ras
dan etnis
ras dan etnis bertahan dari generasi ke generasi karena biasanya yang menikah akan mencari pasangan yang mirip dengan ras/enisnya.
ras dan etnis bertahan dari generasi ke generasi karena biasanya yang menikah akan mencari pasangan yang mirip dengan ras/enisnya.
Ø Konstruksi Kehidupan Keluarga : Teori Mikro Level
Micro level
menyelidiki bagaimana individu membentuk dan megalami kehidupan keluarga.
Ø Pendekatan Interaksi Simbolik
Kehidupan
keluarga menawarkan sebuah peluang untuk kerukunan, dalam bahasa Latin berarti
berbagi ketakutan. Anggota keluarga berbagi banyak aktivitas sepanjang waktu,
mereka menidentifikasi satu sama lain dan membangun emosi. Faktanya bahwa orang
tua bertindak sebagai figur otoritas yang sering membatasi kedekatan mereka
dengan anak terkecil. Tetapi sebagai anak yang mndekatai masa dewasa, ikatan
kekeluargaan biasanya membuka untuk berbagi kepercayaan dengan kerukukan yang
lebih.
Ø Pendekatan Pertukaran Sosial
Pada intinya,
analisa pertukaran menerangkan, orang “melihat-lihat” (mencari) pasangan untuk
membuat “kesepakatan” terbaik. Dalam masyarakat patriarchal, gender mengatur
elemen pertukaran : tradisioalnya, laki-laki memiliki kekayaan dan kekuatan
untuk dibawa ke “marriage marketplace” sedangkan wanita membawa kecantikan.
Ø Penggung Kehidupan Keluarga
Keluarga adalah
sebuah institusi yang dinamis. Bukan hanya keluarga itu sendiri yang berbubah,
tetapi juga cara kita mengalami perubahan keluarga seperti menjalani kehidupan.
Keluarga baru memulai dengan perkenalan dan berkembang sebagai pasangan baru
menuju kehidupan pernikahan yang sebenanrnya. Selanjutnya untuk kebanyakan
pasangan pada akhirnya, datang waktu untuk mengembangkan karier dan melahirkan
anak, tahun selanjutnya, anak sudah meninggalkan rumah untuk membentuk keluarga
sendiri.
v Stages of Family
Life
Keluarga
merupakan suatu lembaga social yang dinamis, berubah dari waktu ke waktu,
karena ada beberapa hal yang mengakibatkan keluarga mengalami perubahan seiring
“pergantian kehidupan”. Pasangan baru, memulainya dengan masa pengelanan
“pacaran” dan kemudian menikah. Selanjutnya , mereka dituntut untuk
mengembangkan karir mereka untuk dapat menghasilkan uang untuk membesarkan
anak-anak mereka dengan baik. Setelah anak-anak mereka dewasa, mereka akan
meninggalkan rumah untuk menata keluarga baru mereka sendiri.
1. Courtship
(masa pengenalan/pacaran)
Perjodohan
banyak dilakukan oleh orang tua zaman dahulu karena “pacaran” dianggap hal yang
tabu dilakukan anak-anak muda zaman dahulu. Perjodohan antar keluarga di zaman
dahulu juga bukan hanya mengenai pernikahan antar anak-anak mereka, tetapi juga
mengenai kekayaan (harta) dan status sosial. Perasaan bukan lah hal yang perlu
dipertimbangkan dalam memilih jodoh. Biasannya orang tua juga mereka
mengaturperjodohan selagi anak-anak mereka masih muda. Namun seiring perkembangan
IPTEK dan terjadinya revolusi industry mengakibatkan budaya perjodohan semakin
terkikis. Sekarang banyak anak muda yang mampu memikirkan masa depan mereka
sendiri dengan memeroleh pendidikan tinggi, membangun karir mereka sendiri yang
akan diperlukan mereka untuk bias hidup tanpa asuhan dari orang tua mereka
lagi. Mereka juga mulai mendapatkan pengalaman untuk bisa memilih pasangan
mereka sendiri tanpa perjodohan dari orang tua mereka.
2. Settling
In : Ideal and Real Marriage.
Seksualitas
memberikan gambaran nyata mengenai kebahagiaan pasangan yang abru menikah.
Namun seksualitas juga dapat menjadi sumber kekecewaan. Frekuensi seks dalam
pernikahan pasti akan mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Seks mungkkin
bukan satu-satunya kunci kebahagiaan dalam suatu hubungan namun percaya atau
tidak hhubungan seks yang baik dapat mempererat hubungan sepasang suami-istri.
3. Child
Rearing (membesarkan anak).
Meski
pun biaya yang diperlukan untuk membesarkan anak tidak sedikit namun
membesarkan anak merupakan salah satu kebahagiaan bagi orang tua. Dewasa ini,
sekitar 50% orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa 2 anak adalah
jumlah yang ideal dan sisanya ingin lebih dari tiga anak. setelah terjadi
revolusi industri di Amerika Serikat angka kelahiran menurun setiap tahunnya
dan lambat laun mereka mulai berpikir bahwa 2 anak sudah lebih dari cukup.
Bahkan banyak pasangan baru yang menunda kehamilan mereka. Pada tahun 1960 hampir 90% perempuan pada
usia 25-29 tahun yang telah menikah baru memiliki 1 anak. Hampir semua orang
tua sudah sangat peduli mengenai bagaimana cara membesarkan anak mereka dengan
baik, mereka lebih memikirkan bagaimana caranya meningkatkan kualitas daripada
kuantitas.
4.
Family in Later
Life.
Angka
harapan hidup yang tinggi di Amerika Serikat membuktikan bahwa mereka telah
berhasil meningkatkan kualitas hidup mereka sebagai manusia. Banyak orang tua
yang berusia 60 tahun yang sebagian besar dari mereka telah mampu membesarkan
anak mereka dengan baik. Anak-anak mereak pun telah siap untuk melanjutkan
kehidupannya untuk mencari pasangan dan membuat “sarang” baru untuk keluarga
barunya sendiri.
v U.S Families :
Class, Race, and Gender.
1. Social
Class.
Kelas
sosial sangat menentukan bagaimana kehidupan suatu keluarga. Kehidupan keluarga
kerajaan tentu saja berbeda dengan keluarga masyarakat miskin. Bagi anak yang
lahir di keluarga dengan kondisi ekonomi baik dan kelas sosial yang tinggi akan
memiliki peluang lebih besar untuk bisa memiliki banyak prestasi dibandingkan
anak yang lahir di keluarga yang kurang mampu. Namun hal itu tetap bukan lah
faktor utama yang menentukan masa depan seorang anak.
2. Ethnicity
and Race.
Keluarga
yang terbentuk dari sepasang kekasih yang berbeda latar belakang kebudayaan
akan menghasilkan pola kebisanaan/adat yang baru. Banyak orang dengan latar
belakang kebudayaan yang berbeda dating ke kota untuk mencari pekerjaan dan
banyak juga diantara mereka yang pada akhirnya sepakat untuk membangun sebuah
keluarga baru dari latar belakang yang berbeda. Itulah kenapa etnik dan ras
dapat memengaruhi kehidupan sebuah keluarga.
3. Gender.
Kebanyakan
wanita akan memilih seorang pria yang lebih dewasa dan tentunya lebih mapan
daripada si wanita dan tentunya dengan pekerjaan yang tetap. Kalau begitu
apakah hal tersebut juga berlaku bagi para pria? Apakah para pria diperbolehkan
memilih wanita yang lebih mapan dari dirinya baik dari segi finansial maupun
mnetal? Jika tidak apakah suatu pernikahan akan lebih menguntungkan wanita
daripada si pria?. Menurut Jessie Bernard(sociologist) wanita yang telah
menikah benar benar akan mempunyai kesehatan mental yang rendah, kurang
bahagia, dan memiliki sikap yang tertutup terhadap kehidupan luar di lingkunganya
daripada wanita lajang. Sebaliknya, seorang pria yang telah menikah umumnya
hidup dengan kesehatan mental yang baik daripada pria lajang. Perbedaan ini
menunjukan mengapa setelah perceraian pria lebih bersemangatn daripada wanita
untuk menemukan pasangan baru. Bernard menyimpulkan bahwa tidak ada jaminan
hidup yang lebih baik bagi wanita ataupun pria setelah pernikahan. Segalanya
tergantung pada pembagian tugas seorang pria sebagai seorang ayah dan wanita
sebagai seorang ibu rumah tangga dilaksanakan dengan baik atau tidak.
Maka,
pertanyaan apakah suatu pernikahan akan lebih menguntungkan wanita daripada
pria bukan lah hal yang sepenuhnya benar. Pernikahan akan menguntungkan kedua
belah pihak apabila keduannya mau melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan
baik.
Transisi dan masalah
dalam kehidupan berkeluarga
Berdasarkan
pendapat dari kolumnis surat kabar Ann Landers, bahwa pernikahan terbagi
menjadi beberapa masa; 5 tahun yang baik, 10 tahun yang penuh dengan toleran
dan sisanya yang tidak menyenangkan. Keluarga dapat menjadi sebuah kebahagiaan
namun disamping itu dapat segera berakhir.
Perceraian
Menjadi
masalah utama dalam sebuah pernikahan. Sebab sebabnya:
1.
Menjadi terlalu
individualis/independen
2.
Kehangatan yang
berkurang
3.
Perempuan kurang
bergantung kepada laki laki
4.
Pernikahan yang
terlalu mengakibatkan stress
5.
Perceraian
menjadi hal yang lumrah
6.
Perceraian mudah
didapat
Perceraian
dapat terjadi terhadap banyak pihak, terlebih kepada pasangan pasangan muda
yang dari segi emosional dan keuangannya sangat kurang. Juga terhadap pasangan
yang kesulitan dalam proses kehamilan, memiliki lata berlakang kekerasan dan
memiliki latar kedua orangtua yang bercerai. Pada akhirnnya, pasangan yang
dulunya pernah bercerai peluang untuk bercerai lagi dalam pernikahan
selanjutnya menjadi besar.
Perceraian dan Anak
Ketika
sebuah perceraian terjadi yang akan diperbincangkan adalah tentang tunjangan
secara finansial.
46%
tidak ada pengadilan memerintahkan pembayaran
22%
pembayaran penuh
14%
pembayaran sebagian
11%
tidak ada pembayaran
7%
pembayaran tidak tepat waktu
Pernikahan Kembali dan
Bergabungnya Lagi Keluarga
Terjadinya
pernikahan lagi tentunya akan melahirkan sebuah keluarga baru, adanya orangtua
tiri dan anak tiri. Hubungan baru yang terjalin akan melahirkan sebuah proses
yang berbeda beda bagi tiap individu.
Kekerasan Keluarga
Kekerasan
yang terjadi dalam rumah tangga seringkali terjadi karena tindak emosional yang
tidak terbendung. Mayoritas terjadi pada pihak wanita sebagai korban dan anak
anak. Kekerasan keluarga inilah menjadi faktor utama terjadinya perceraian.
Masalah yang seharusnya masih bisa untuk didiskusikan malah berakhir dengan
kekerasan, masalah tidak terselesaikan ditambah dengan sakit batin yang
mengakibatkan perceraian.
Alternetif pembentukan
keluarga
Keluarga satu orangtua
· Tiga
puluh persen keluarga di AS dengan anak-anak umur dibawah 18 tahun hanya
memiliki satu orangtua.
· Orangtua
tunggal meningkatkan risiko wanita terhadap kemiskinan karena memiliki
keterbatasan kemampuan untuk bekerja dan melanjutkan pendidikan
· Penelitian
menunjukan bahwa anak yang tumbuh bersama orangtua tunggal akan mengakibatkan
kerugian,karena ayah dan ibu memiliki kontribusi dalam dalam pengembangan
sosial anak.
Cohabitation
· Cohabitation ialah
berbagi satu rumah oleh pasangan yang belum nikah.
· Hampir
setengah orang yang berusia 25 sampai 44 telah mengalami kohabitasi
· Penelitian
menunjukan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan kohabitasi tidak ingin hidup
dengan orangtua kandungnya sampai umur 18 dibandingkan anak-anak yang lahir
dari pasangan yang sudah menikah
Pasangan gay dan lesbi
Pasangan
gay dan lesbi membentuk hubungan yang kekal,dan menjadi orangtua semakin
meningkat
Singlehood
Seperempat
rumah tangga saat ini masih berstatus single.Jumlah
wanita muda yang berstatus lajang meningkat secara dramatis,hasil dari wanita
yang lebih mengutamakn pekerjaan ketimbang kebutuhan dukungan pria.
Teknologi reproduksi
baru dan keluarga
Pada tahun 1978,Louise Brown menemukan
bayi tabung.Sejak saat itu,sepuluh dari seribu anak-anak lahir dari luar
Rahim.Bayi tabung merupakan produk fertilisasi in vitro,dimana dokter
menyatukan sel telur wanita dan sperma pria di dalam suatu “gelas”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar