Kamis, 07 Juni 2018

(Feature) Leli Pajriah, Pejuang Pemberdayaan Masyarakat Kajar


Leli Pajriah, gadis bungsu dari 3 bersaudara asal Subang yang merantau ke Semarang, tepatnya di Universitas Diponegoro untuk menyelesaikan studinya sekaligus mengejar cita-citanya sebagai pengabdi masyarakat.

Sudah 2 tahun terakhir ini Leli memutuskan untuk ikut dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat BEM Undip yang berfokus di desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Alasan yang ia ungkapkan karena sebagai mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mendalami dunia akademisi, tapi juga harus mampu melayani masyarakat. Jika sudah menyelesaikan studi, mahasiswa pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat dan hal itu pasti akan menjadi tantangan tersendiri. Pun untuk mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi. Tidak hanya pendidikan dan penelitian, tapi juga pengabdian masyarakat.

Leli pun tidak menyangkal banyak sekali suka duka yang ia rasakan selama berkecimpung di dunia pengabdian masyarakat. Kejadian-kejadian diluar perkiraan sering kali terjadi, mulai dari ban kendaraan bocor, barang jatuh, hingga menenteng pisang tanduk (hasil utama pertanian masyarakat desa Kajar) dari Kudus sampai Semarang dengan menggunakan motor.

Tidak hanya itu, Leli juga merasakan banyak manfaat dan pengalaman pembelajaran sekaligus momen-momen menyenangkan. Dalam pemberdayaan masyarakat ini, dia bisa belajar seni membagi waktu. Karena tentu saja belajar adalah tujuan utamanya sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro. Dia juga belajar bagaimana melakukan pendekatan yang efektif kepada masyarakat Kajar. Bagaimanapun juga, terkadang kendala utama dari masyarakat desa adalah sifat pemalu dan minim semangat sehingga mengharuskan para pengabdi untuk semakin gencar menyebarkan semangat pantang menyerah selama proses pemberdayaan.

Alasan ia memilih Kajar sebagai tempat pengabdiannya karena desa Kajar punya potensi perekonomian mandiri yang sangat besar, hanya saja masyaraktnya masih belum bisa memaksimalkan. Oleh karena ini ia tergerak untuk membantu memberdayakan masyarakat Kajar, sehingga kedepannya desa Kajar bisa menjadi desa mandiri. Tidak hanya dalam mengolah potensi pisang tanduk yang melimpah menjadi berbagai produk seperti keripik, nugget, tepung maupun kopi, Leli pun harus memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kemauan serta etos kerja mereka. Inipun menjadi kendala tersendiri karena beberapa kali Leli merasakan sedikit kesulitan ketika ia harus membangun dan mengobarkan semangat kepada masyarakat Kajar selama proses jatuh bangun pendirian desa mandiri.

Meskipun begitu Leli tidak pernah ingin berhenti berkecimpung dalam dunia pemberdayaan masyarakat. Ia berpikir, momen ketika ia bisa membagikan dan menerapkan ilmunya kepada masyarakat adalah hal yang membahagiakan dan menjadi suntikan semangat bagi dirinya untuk terus mengabdi.

Di akhir, dia bercerita bahwa ada satu kalimat yang ia terus pegang sampai saat ini. “Melihat orang lain bahagia karena kita, sudah cukup untuk membuat saya bahagia.”. Satu hal yang sangat menginspirasi dari gadis inspiratif ini, yaitu akan sifat pantang menyerahnyan yang kuat dan pemikiranya yang panjang dan dewasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar