Leli Pajriah, gadis bungsu dari 3 bersaudara asal Subang yang
merantau ke Semarang, tepatnya di Universitas Diponegoro untuk menyelesaikan
studinya sekaligus mengejar cita-citanya sebagai pengabdi masyarakat.
Sudah 2 tahun terakhir ini Leli memutuskan untuk ikut dalam
kegiatan pemberdayaan masyarakat BEM Undip yang berfokus di desa Kajar, Kecamatan
Dawe, Kabupaten Kudus. Alasan yang ia ungkapkan karena sebagai mahasiswa tidak
hanya dituntut untuk mendalami dunia akademisi, tapi juga harus mampu melayani
masyarakat. Jika sudah menyelesaikan studi, mahasiswa pada akhirnya akan
kembali kepada masyarakat dan hal itu pasti akan menjadi tantangan tersendiri.
Pun untuk mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi. Tidak hanya
pendidikan dan penelitian, tapi juga pengabdian masyarakat.
Leli pun tidak menyangkal banyak sekali suka duka yang ia rasakan selama
berkecimpung di dunia pengabdian masyarakat. Kejadian-kejadian diluar perkiraan
sering kali terjadi, mulai dari ban kendaraan bocor, barang jatuh, hingga
menenteng pisang tanduk (hasil utama pertanian masyarakat desa Kajar) dari
Kudus sampai Semarang dengan menggunakan motor.
Tidak hanya itu, Leli juga merasakan banyak manfaat dan pengalaman
pembelajaran sekaligus momen-momen menyenangkan. Dalam pemberdayaan masyarakat
ini, dia bisa belajar seni membagi waktu. Karena tentu saja belajar adalah
tujuan utamanya sebagai mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro. Dia juga belajar bagaimana melakukan pendekatan yang efektif kepada
masyarakat Kajar. Bagaimanapun juga, terkadang kendala utama dari masyarakat
desa adalah sifat pemalu dan minim semangat sehingga mengharuskan para pengabdi
untuk semakin gencar menyebarkan semangat pantang menyerah selama proses pemberdayaan.
Alasan ia memilih Kajar sebagai tempat pengabdiannya karena desa
Kajar punya potensi perekonomian mandiri yang sangat besar, hanya saja masyaraktnya
masih belum bisa memaksimalkan. Oleh karena ini ia tergerak untuk membantu
memberdayakan masyarakat Kajar, sehingga kedepannya desa Kajar bisa menjadi
desa mandiri. Tidak hanya dalam mengolah potensi pisang tanduk yang melimpah
menjadi berbagai produk seperti keripik, nugget, tepung maupun kopi, Leli pun
harus memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kemauan serta etos kerja
mereka. Inipun menjadi kendala tersendiri karena beberapa kali Leli merasakan sedikit
kesulitan ketika ia harus membangun dan mengobarkan semangat kepada masyarakat
Kajar selama proses jatuh bangun pendirian desa mandiri.
Meskipun begitu Leli tidak pernah ingin berhenti berkecimpung dalam
dunia pemberdayaan masyarakat. Ia berpikir, momen ketika ia bisa membagikan dan
menerapkan ilmunya kepada masyarakat adalah hal yang membahagiakan dan menjadi
suntikan semangat bagi dirinya untuk terus mengabdi.
Di akhir, dia bercerita bahwa ada satu kalimat yang ia terus pegang
sampai saat ini. “Melihat orang lain bahagia karena kita, sudah cukup untuk
membuat saya bahagia.”. Satu hal
yang sangat menginspirasi dari gadis inspiratif ini, yaitu akan sifat pantang
menyerahnyan yang kuat dan pemikiranya yang panjang dan dewasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar