Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah kisah indah
tentang perjuangan sekelompok orang yang bersatu padu berjuang untuk melakukan
pembebasan diri dan pemenuhan kebutuhan mereka. Semangat dan kerja keras mereka
kemudian menciptakan “keajaiban”; sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi
mungkin dan nyata.
Di masa modern, secara lugas pemberdayaan
masyarakat kerap dimaknai sebagai cara untuk mencapai kekuatan bersama yang
berkelanjutan oleh elemen-elemen masyarakat dalam sebuah komunitas demi
mencapai kebutuhan bersama. Selain
hubungan antara masyarakat dan pemerintah, campur tangan mahasiswa sebagai agent
of change pun dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat desa yang mandiri.
Jika sudah menyelesaikan studi, mahasiswa pada akhirnya akan
kembali kepada masyarakat dan hal itu pasti akan menjadi tantangan tersendiri.
Sebagai mahasiswa pun kita tidak hanya dituntut
untuk mendalami dunia akademisi tapi
juga mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi. Tidak hanya
pendidikan dan penelitian, tapi juga pengabdian masyarakat.
Tidak banyak mahasiswa yang menyadari hal ini, tapi dalam
pemberdayaan masyarakat banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan. Selain
pengalaman berharga dalam proses pemberdayaan masyarakat, mahasiswa juga bisa
mendapatkan hal-hal penting lainnya yang tidak didapatkan di bangku kuliah.
Mahasiswa bisa belajar seni membagi waktu antara pendidikan formal dengan
organisasi ataupun komunitas. Kita pun bisa belajar bagaimana melakukan
pendekatan yang efektif kepada masyarakat. Kendala utama dari masyarakat desa
adalah sifat pemalu dan minim semangat sehingga mengharuskan para pengabdi
untuk semakin gencar menyebarkan semangat pantang menyerah selama proses
pemberdayaan.
Ditelaah dari dua kata yaitu “pemberdayaan” dan
“masyarakat”, maka bisa dipahami bahwa di dalam proses pemberdayaan masyarakat
terdapat aktivitas memberikan atau mentransfer pengetahuan, kekuatan dan
kemampuan kepada masyarakat agar mereka lebih berdaya. Lebih jauh juga bisa
dilakukan proses mendorong atau memotivasi masyarakat agar dapat menentukan dan
mengusahakan apa yang menjadi pilihan atau kebutuhan hidupnya. Bisa dibilang
bahwa pemberdayaan masyarakat sebenarnya merupakan sebuah perjuangan
mendapatkan kedaulatan diri. Proses pemberdayaan masyarakat yang menggunakan
pendekatan dialog juga merupakan sebuah cerminan humanisme yang tak lepas dari seni
berkomunikasi sebagai sarana berjuang.
Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan
melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan
melalui usaha mereka sendiri dengan akumulasi pengetahuan, keterampilan serta
sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan
dari hubungan eksternal. Konsep bekerja secara kolektif dan partisipatif dari
para warga menjadi patokan bergulirnya kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dengan
cara ini diharapkan masyarakat akan menjadi lebih paham secara pengetahuan,
memiliki sikap dan akhirnya mampu mandiri melakukan tindakan-tindakan yang bisa
memenuhi kebutuhannya. Dan bukanlah sebuah kebetulan jika sikap kolektif
sesungguhnya merupakan salah satu ciri kuat bangsa Indonesia yang bisa
menjadikan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat berjalan dengan baik.
Pada akhirnya, berjuang merebut kekuasaan memang berbeda dengan
berjuang merebut kedaulatan dan harga diri. “Berkuasa” atas orang lain jelas
berbeda dengan “berdaulat” atas diri sendiri. Penggalang pemberdayaan
masyarakat tetap menyadari keterbatasan pribadi. Pada saatnya, mereka pun akan
menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan mereka kepada rakyat. Rakyat didorong
untuk melanjutkan usaha yang telah mereka rintis. Mereka pun akhirnya memilih
kembali menjadi “orang biasa” atau memulai atau melanjutkan kerja yang sama di
tempat lain. Di teritori itulah mungkin seseorang baru bisa dibilang sukses
dalam mengisi dan memanfaatkan hidupnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar