Kamis, 07 Juni 2018

(Editorial) ‘Agent of Change’ Pemberdayaan Masyarakat

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah kisah indah tentang perjuangan sekelompok orang yang bersatu padu berjuang untuk melakukan pembebasan diri dan pemenuhan kebutuhan mereka. Semangat dan kerja keras mereka kemudian menciptakan “keajaiban”; sesuatu yang semula tidak mungkin menjadi mungkin dan nyata.

Di masa modern, secara lugas pemberdayaan masyarakat kerap dimaknai sebagai cara untuk mencapai kekuatan bersama yang berkelanjutan oleh elemen-elemen masyarakat dalam sebuah komunitas demi mencapai kebutuhan bersama. Selain hubungan antara masyarakat dan pemerintah, campur tangan mahasiswa sebagai agent of change pun dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat desa yang mandiri.

Jika sudah menyelesaikan studi, mahasiswa pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat dan hal itu pasti akan menjadi tantangan tersendiri. Sebagai mahasiswa pun kita tidak hanya dituntut untuk mendalami dunia akademisi tapi  juga mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi. Tidak hanya pendidikan dan penelitian, tapi juga pengabdian masyarakat.

Tidak banyak mahasiswa yang menyadari hal ini, tapi dalam pemberdayaan masyarakat banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan. Selain pengalaman berharga dalam proses pemberdayaan masyarakat, mahasiswa juga bisa mendapatkan hal-hal penting lainnya yang tidak didapatkan di bangku kuliah. Mahasiswa bisa belajar seni membagi waktu antara pendidikan formal dengan organisasi ataupun komunitas. Kita pun bisa belajar bagaimana melakukan pendekatan yang efektif kepada masyarakat. Kendala utama dari masyarakat desa adalah sifat pemalu dan minim semangat sehingga mengharuskan para pengabdi untuk semakin gencar menyebarkan semangat pantang menyerah selama proses pemberdayaan.

Ditelaah dari dua kata yaitu “pemberdayaan” dan “masyarakat”, maka bisa dipahami bahwa di dalam proses pemberdayaan masyarakat terdapat aktivitas memberikan atau mentransfer pengetahuan, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat agar mereka lebih berdaya. Lebih jauh juga bisa dilakukan proses mendorong atau memotivasi masyarakat agar dapat menentukan dan mengusahakan apa yang menjadi pilihan atau kebutuhan hidupnya. Bisa dibilang bahwa pemberdayaan masyarakat sebenarnya merupakan sebuah perjuangan mendapatkan kedaulatan diri. Proses pemberdayaan masyarakat yang menggunakan pendekatan dialog juga merupakan sebuah cerminan humanisme yang tak lepas dari seni berkomunikasi sebagai sarana berjuang.

Orang-orang yang telah mencapai tujuan kolektif diberdayakan melalui kemandiriannya, bahkan merupakan “keharusan” untuk lebih diberdayakan melalui usaha mereka sendiri dengan akumulasi pengetahuan, keterampilan serta sumber lainnya dalam rangka mencapai tujuan tanpa tergantung pada pertolongan dari hubungan eksternal. Konsep bekerja secara kolektif dan partisipatif dari para warga menjadi patokan bergulirnya kegiatan pemberdayaan masyarakat. Dengan cara ini diharapkan masyarakat akan menjadi lebih paham secara pengetahuan, memiliki sikap dan akhirnya mampu mandiri melakukan tindakan-tindakan yang bisa memenuhi kebutuhannya. Dan bukanlah sebuah kebetulan jika sikap kolektif sesungguhnya merupakan salah satu ciri kuat bangsa Indonesia yang bisa menjadikan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat berjalan dengan baik.

Pada akhirnya, berjuang merebut kekuasaan memang berbeda dengan berjuang merebut kedaulatan dan harga diri. “Berkuasa” atas orang lain jelas berbeda dengan “berdaulat” atas diri sendiri. Penggalang pemberdayaan masyarakat tetap menyadari keterbatasan pribadi. Pada saatnya, mereka pun akan menyerahkan kekuasaan dan kepemimpinan mereka kepada rakyat. Rakyat didorong untuk melanjutkan usaha yang telah mereka rintis. Mereka pun akhirnya memilih kembali menjadi “orang biasa” atau memulai atau melanjutkan kerja yang sama di tempat lain. Di teritori itulah mungkin seseorang baru bisa dibilang sukses dalam mengisi dan memanfaatkan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar