REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Polri
dan Badan Narkotika Nasional (BNN) belakangan ini kerap membendung upaya
penyelundupan narkotika jaringan internasional terutama dari Malaysia dan Cina
menuju Indonesia. Kejadian ini berulang kali terjadi, meskipun sudah ada
kerangka kerja sama internasional, misalnya Joint
Declaration of Drug Free Asean.
Koordinator Indonesia Narcotic Watch (INW) Josmar
Naibaho menilai, kerangka kerja sama semacam itu tidak menjamin terhentinya
arus narkoba dari jaringan internasional menuju Indonesia. "Sepanjang
permintaan tinggi dan margin keuntungan yang tinggi pula, maka upaya
penyelundupan selalu ada," kata dia pada Republika.co.id,
Ahad (18/2).
Josmar mencontohkan, harga segram sabu di luar negeri
hanya berkisar Rp 15 ribu. Saat sampai di Indonesia, harganya berada di kisaran
Rp 300 - 400 ribu. Josmar mengungkapkan, jalur laut akan menjadi jalur favorit
di seluruh perairan Indonesia. Bahkan, ia memprediksikan, ke depannya upaya
penyelundupan narkoba ke Indonesia 90 persen bakal melewati laut.
Jalur laut dipilih karena jalur udara, disamping
kuantitasnya kecil, sistem deteksinnya jauh lebih canggih. Sehingga lebih
rentan ketahuan. "Kalau laut kan bisa lewat pelabuhan kecil, bisa
disamarkan dengan peti kemas dan sebagainya," kata dia.
Sementara jalur laut, dengan perairan yang cukup
luas, dan titik-titik pelabuhan ilegal menjadi favorit para penyelundup. Hal
ini, kata dia, diperparah dengan fakta bahwa Indonesia menjadi tujuan akhir
penyelundupan narkoba, bukan sekedar transit. "Ke depan jangan heran ada
kapal selam kecil sampai Teluk Jakarta misalnya ternyata bawa narkoba dan itu
kita sulit melakukan pengawasan di seluruh titik," ucap dia.
Untuk itu, Josmar mengimbau, kerja sama dengan
interpol tetap ditingkatkan. Namun, dari dalam negaeri, mempercanggih sistem
deteksi juga diperlukan. Begitu pula penambahan personel yang menurut dia masih
kurang, terutama untuk BNN. "Mereka sudah kerja keras tetapi masih
kewalahan. Artinya, perbandingan personel dengan hal yang diawasi tidak
sebanding," kata dia.
Untuk Polri, lanjut Josmar, diharapkan unit anti
narkoba hingga unit terkecil dapat terus dimaksimalkan. "Polri maksimalkan
hingga unit paling kecil, kanmereka ada sampai ke
Polsek-polsek," kata dia.
Sementara, melihat kerawanan di perairan, Kepala Biro
Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Polisi Mohammad Iqbal mengatakan,
untuk wilayah perairan, Polri akan melakukan pengawasan yang dilakukan oleh Direktorat
Polisi Air (Ditpolair) Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri.
"Tentu dukungan-dukungan, upaya pemberantasan
narkoba jelas kita lakukan, dengan pelibatan seluruh satuan kewilayahan seperti
polda-polda, polres-polres hingga polsek-polsek se-Indonesia," kata Iqbal.
Selengkapnya baca di : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/02/18/p4clr1368-ini-penyebab-penyelundupan-narkoba-masih-marak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar