
DALAM DOAKU
dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak
memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang
melengkung hening karena akan menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku
kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
perlahan dari nun di sana, bersejingkat di jalan kecil itu, menyusup di
celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di
rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan
sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang tak
putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
aku mencintaimu, itu sebab nya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu
(1989)
***
Sapardi Djoko Damono, penyair kawakan favorit saya yang terkenal
dengan karya yang sederhana namun sarat akan makna. Dalam tulisannya, bukan
lagi nafsu yang menjelma menjadi kata, tapi suara hati yang senantiasa
terangkai menjadi sajak. Mengalir dengan lembut, indah nan sederhana.
Salah satu sajak kesukaan saya yang lain, berjudul Hujan Bulan
Juni. Pesan apa yang tersirat di dalamnya? Sangat menarik untuk ditelaah lebih
lanjut. Terlebih jika melihat konteks waktu puisi yang ditulis pada tahun 1989,
dimana ketika itu bulan Juni memasuki musim kemarau, dan kemungkinan turun
hujan sangat mustahil. Hujan yang turun di bulan Juni ibarat paradoks. Sehingga
hujan bulan Juni digambarkan sebagai sosok yang lebih tabah, bijak dan arif
dibanding dengan hujan di bulan lainnya pada musim penghujan.
Hujan bulan Juni merupakan metafora yang cerdas, hujan adalah
kata yang pas mewakili seorang pecinta, sedang pohon berbunga simbol dari yang
dicinta. Hujan bulan Juni terkesan sebuah puisi yang sederhana, namun
sesesungguhnya maknanya tidak sesederhana itu, ada pesan yang mendalam tentang
perasaan yang entah, tentang rindu, ataukah cinta yang tak terkatakan? seperti
yang tersurat dalam larik sajaknya bahwasannya hujan bulan juni dengan tabah
merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga, dan membiarkan yang tak
terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Dalam menerjemahkan makna sebuah puisi, setiap orang akan
memiliki pemahamannya masing-masing. Dan pada karya SDD (Sapardi Djoko Damono),
penggunaan diksi yang sederhana ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan
ketika kita mencoba menangkap maksud tersirat didalamnya. Seorang Sapardi
benar-benar piawai memilih kata, merangkainya dalam kalimat, menjadikan
puisinya terkesan sederhana, indah, namun sesungguhnya penuh makna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar