Rabu, 21 Februari 2018

(Review) Hujan Bulan Juni, Sepilihan Sajak oleh Sapardi Djoko Damono

DALAM DOAKU
dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersejingkat di jalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
aku mencintaimu, itu sebab nya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
(1989)
***
Sapardi Djoko Damono, penyair kawakan favorit saya yang terkenal dengan karya yang sederhana namun sarat akan makna. Dalam tulisannya, bukan lagi nafsu yang menjelma menjadi kata, tapi suara hati yang senantiasa terangkai menjadi sajak. Mengalir dengan lembut, indah nan sederhana.
Salah satu sajak kesukaan saya yang lain, berjudul Hujan Bulan Juni. Pesan apa yang tersirat di dalamnya? Sangat menarik untuk ditelaah lebih lanjut. Terlebih jika melihat konteks waktu puisi yang ditulis pada tahun 1989, dimana ketika itu bulan Juni memasuki musim kemarau, dan kemungkinan turun hujan sangat mustahil. Hujan yang turun di bulan Juni ibarat paradoks. Sehingga hujan bulan Juni digambarkan sebagai sosok yang lebih tabah, bijak dan arif dibanding dengan hujan di bulan lainnya pada musim penghujan.
Hujan bulan Juni merupakan metafora yang cerdas, hujan adalah kata yang pas mewakili seorang pecinta, sedang pohon berbunga simbol dari yang dicinta. Hujan bulan Juni terkesan sebuah puisi yang sederhana, namun sesesungguhnya maknanya tidak sesederhana itu, ada pesan yang mendalam tentang perasaan yang entah, tentang rindu, ataukah cinta yang tak terkatakan? seperti yang tersurat dalam larik sajaknya bahwasannya hujan bulan juni dengan tabah merahasiakan rintik rindunya kepada pohon berbunga, dan membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Dalam menerjemahkan makna sebuah puisi, setiap orang akan memiliki pemahamannya masing-masing. Dan pada karya SDD (Sapardi Djoko Damono), penggunaan diksi yang sederhana ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan ketika kita mencoba menangkap maksud tersirat didalamnya. Seorang Sapardi benar-benar piawai memilih kata, merangkainya dalam kalimat, menjadikan puisinya terkesan sederhana, indah, namun sesungguhnya penuh makna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar