
"Cerita, ...., selamanya tentang manusia, kehidupan-nya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit difahami daripada sang manusia.... jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar pengelihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput."-Pramoedya Ananta Toer
Roman Tetralogi Buru, bagian pertama; Bumi Manusia, sebagi
periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator
adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya
menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an
yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Mengambil latar belakang di awal abad ke-20, kita di ajak kembali di era
membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan
jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal
penyemaian bangunan nasional yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Pemilihan kata yang lugas, membuat saya jatuh hati dengan
buku ini. Saya tidak pernah bosan, bahkan begitu penasaran dan excited setiap
kali saya membalikkan kertas. Halaman demi halaman, lembaran demi lembaran, bab
demi bab. Seakan-akan saya dengan sukarela dan tanpa sadar masuk ke dimensi waktu
yang telah lalu, kemudian mengamati sendiri scene-scene yang di lakoni oleh
setiap tokoh. Bahkan terkadang emosi saya ikut terguncang, seakan ikut
mengalami kejadian-kejadian yang ada di dalam buku. RECOMMENDED!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar