Kamis, 22 Februari 2018

(Review) Film Guru Bangsa : Tjokroaminoto


Kangen sama film ini, tapi karena belum ada di toko kaset maupun Gan**l, jadi sembari menahan rindu aku memilih untuk kembali mengingat-ingat film tersebut dengan cara menyalin review yang aku buat (yang  aku posting di facebook), sesaat setelah nonton bareng adek beberapa waktu lalu. :)
Let's check this #Throwback out :

Barusan nonton film >> 'Guru Bangsa : Tjokroaminoto'

Sangking nungguin film ini, sampe akhirnya nonton hari pertama, pemutaran pertama, pembeli tiket pertama! *niat banget*

Film inspiratif, mendidik, dan tentunya jadi tambah cinta sama Indonesia. Banyak pelajaran baru yang bisa didapat dari film ini.

Ditambah detail dan keindahan film yang patut diacungi jempol (detail banget meeenn!). Mulai dari cara pengambilan gambar dan blocking pemain yang unik, halus, tidak mainstream, dan hidup; alur, setting, dialog serta scene yang apik, menarik dan tidak monoton (setting nya bikin pengen ke masa lalu buat liburan *eh); akting para pemain yang keren (jempol tangan, kaki, sampe pinjem punya orang sekampung); gimmick masing-masing tokoh pun khas dan berbeda satu sama lain; dan masih banyaaakkk lagiiii..

Semuanya terangkum dalam sinematografi yang memanjakan mata. Nggak kaget sih, sutradara filmnya aja Garin Nugroho, seorang idealis bertangan dingin yang terkenal dengan karya-karya berkualitasnya. Penggarapannya pun bener-bener maksimal. Penonton diajak ikut berimajinasi, ikut masuk dan merasakan secara langsung keadaan pada jaman itu.

Pemilihan cast nya josshh banget, aktor aktris kelas A semua, bener-bener dream team. Ada Reza Rahardian, Putri Ayudya, Christine Hakim, Chelsea Islan, Deva Mahenra, Tanta Ginting, Ade Firman Hakim, Ibnu Jamil, sampe Sudjiwo Tedjo (IDOLA GUE!!). Pemain pendukungnya aja keliatan kalo orang2 teater yang dipilih dengan hati-hati.

Scene favorit, pas Mbok Tun ngomel ke Cak Kartolo, "Mosok ngelukis istana 69 tahun gak mari-mari!"
Berasa nyentil keadaan negara sekarang ini, hahaha..

Gara-gara film ini, jadi langsung mikir dan bertanya ke diri sendiri.
"Saya ini siapa? Apa yang telah saya berikan untuk negara Indonesia ini? Saya gak ada apa-apanya sama Tjokroaminoto, Agus Salim, Kusno (Sukarno muda), Muso, bahkan dengan Semaun dan Kartosuwiryo sekalipun."
Di film ini ditunjukkan, bagaimana Tjokroaminoto sudah memiliki jiwa nasionalisme sejak kecil. Selain itu, ajaran agama Islam sangat dipegang teguh. Bisa dilihat bagaimana 'Nabi Muhammad SAW' sangat menginspirasi dan berpengaruh terhadap perjuangannya.

Beliau juga guru dari guru-guru bangsa. Guru dari 3 orang hebat dengan ideologi yang berbeda. Kusno (Sukarno muda), Semaun, serta Kartosuwiryo. Ini menunjukkan bahwa beliau orang yang demokratis. Tidak memaksakan muridnya untuk memiliki pemikiran yang sama seperti beliau. Tjokroaminoto membiarkan murid-muridnya tumbuh dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya sendiri, tumbuh sebagaimana mereka seharusnya tumbuh.

Pemikiran Tjokroaminoto yang pada saat itu melampaui jamannya, memang bikin kagum. Bahkan, 70 tahun kemudian, pada jaman sekarang ini, pemikirannya masih sangat penting dan dibutuhkan.

>> Dari 5 bintang, aku bakal ngasih nilai 4,5 <<
Dengan durasi cuma tiga jam, kekurangan dalam sisi feminisme yang seharusnya bisa agak lebih ditonjolkan, memang bisa dimaklumi. Jadi, secara keseluruhan, film ini nyaris sempurna. Film yang sarat akan pelajaran dan inspirasi, WAJIB DITONTON!

"Setinggi-tinggi Ilmu, Sepintar-pintar Siasat, dan Semurni-murni Tauhid. Hijrah, ke mana kau akan membawaku pergi?"- H.O.S Tjokroaminoto

N.B : Dari film ini juga, baru tau darimana nama 'Indonesia' mulai muncul dan digunakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar