
Kangen sama film ini, tapi karena belum ada di toko kaset
maupun Gan**l, jadi sembari menahan rindu aku memilih untuk kembali
mengingat-ingat film tersebut dengan cara menyalin review yang aku buat (yang
aku posting di facebook), sesaat setelah nonton bareng adek beberapa waktu
lalu. :)
Let's check this #Throwback out :
Let's check this #Throwback out :
Barusan nonton film >> 'Guru Bangsa : Tjokroaminoto'
Sangking nungguin film ini, sampe akhirnya nonton hari
pertama, pemutaran pertama, pembeli tiket pertama! *niat banget*
Film inspiratif, mendidik, dan tentunya jadi tambah cinta
sama Indonesia. Banyak pelajaran baru yang bisa didapat dari film ini.
Ditambah detail dan keindahan film yang
patut diacungi jempol (detail banget meeenn!). Mulai dari cara pengambilan
gambar dan blocking pemain yang unik, halus, tidak mainstream, dan hidup; alur,
setting, dialog serta scene yang apik, menarik dan tidak monoton (setting nya
bikin pengen ke masa lalu buat liburan *eh); akting para pemain yang keren
(jempol tangan, kaki, sampe pinjem punya orang sekampung); gimmick
masing-masing tokoh pun khas dan berbeda satu sama lain; dan masih banyaaakkk
lagiiii..
Semuanya terangkum dalam sinematografi yang memanjakan mata. Nggak kaget sih, sutradara filmnya aja Garin Nugroho,
seorang idealis bertangan dingin yang terkenal dengan karya-karya
berkualitasnya. Penggarapannya pun bener-bener maksimal. Penonton diajak ikut berimajinasi, ikut masuk dan merasakan secara langsung
keadaan pada jaman itu.
Pemilihan cast nya josshh banget, aktor aktris kelas A
semua, bener-bener dream team. Ada Reza Rahardian, Putri Ayudya, Christine
Hakim, Chelsea Islan, Deva Mahenra, Tanta Ginting, Ade Firman Hakim, Ibnu
Jamil, sampe Sudjiwo Tedjo (IDOLA GUE!!). Pemain pendukungnya aja keliatan kalo orang2 teater yang dipilih dengan
hati-hati.
Scene favorit, pas Mbok Tun ngomel ke Cak Kartolo,
"Mosok ngelukis istana 69 tahun gak mari-mari!"
Berasa nyentil keadaan negara sekarang ini, hahaha..
Berasa nyentil keadaan negara sekarang ini, hahaha..
Gara-gara film ini, jadi langsung mikir dan bertanya ke diri
sendiri.
"Saya ini siapa? Apa yang telah saya berikan untuk negara Indonesia ini? Saya gak ada apa-apanya sama Tjokroaminoto, Agus Salim, Kusno (Sukarno muda), Muso, bahkan dengan Semaun dan Kartosuwiryo sekalipun."
"Saya ini siapa? Apa yang telah saya berikan untuk negara Indonesia ini? Saya gak ada apa-apanya sama Tjokroaminoto, Agus Salim, Kusno (Sukarno muda), Muso, bahkan dengan Semaun dan Kartosuwiryo sekalipun."
Di film ini ditunjukkan, bagaimana Tjokroaminoto sudah
memiliki jiwa nasionalisme sejak kecil. Selain itu, ajaran agama Islam sangat
dipegang teguh. Bisa dilihat bagaimana 'Nabi Muhammad SAW' sangat menginspirasi
dan berpengaruh terhadap perjuangannya.
Beliau juga guru dari guru-guru bangsa. Guru dari 3 orang
hebat dengan ideologi yang berbeda. Kusno (Sukarno muda), Semaun, serta
Kartosuwiryo. Ini menunjukkan bahwa beliau orang yang demokratis. Tidak memaksakan muridnya
untuk memiliki pemikiran yang sama seperti beliau. Tjokroaminoto membiarkan
murid-muridnya tumbuh dengan ide-ide dan gagasan-gagasannya sendiri, tumbuh
sebagaimana mereka seharusnya tumbuh.
Pemikiran Tjokroaminoto yang pada saat itu melampaui
jamannya, memang bikin kagum. Bahkan, 70 tahun kemudian, pada jaman sekarang
ini, pemikirannya masih sangat penting dan dibutuhkan.
>> Dari 5 bintang, aku bakal ngasih nilai 4,5 <<
Dengan durasi cuma tiga jam, kekurangan dalam sisi feminisme yang seharusnya bisa agak lebih ditonjolkan, memang bisa dimaklumi. Jadi, secara keseluruhan, film ini nyaris sempurna. Film yang sarat akan pelajaran dan inspirasi, WAJIB DITONTON!
Dengan durasi cuma tiga jam, kekurangan dalam sisi feminisme yang seharusnya bisa agak lebih ditonjolkan, memang bisa dimaklumi. Jadi, secara keseluruhan, film ini nyaris sempurna. Film yang sarat akan pelajaran dan inspirasi, WAJIB DITONTON!
"Setinggi-tinggi Ilmu, Sepintar-pintar Siasat, dan Semurni-murni Tauhid. Hijrah, ke mana kau akan membawaku pergi?"- H.O.S Tjokroaminoto
N.B : Dari film ini juga, baru tau darimana nama 'Indonesia'
mulai muncul dan digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar