Tingkat literasi di Indonesia semakin parah dari tahun ke tahun.
Minat baca masyarakat di negara maju sekitar 20-30 buku per tahun, sedangkan
minat baca masyarakat di Indonesia HANYA 3 buku tiap tahunnya.
Literasi (lit•er•ac•y) adalah kemampuan untuk memahami baca-tulis
dan ide-ide yang ada secara visual dalam kehidupan sehari-hari (Graff, 2006)
Faktanya : Dari 61 negara yang disurvey tentang literasi, Indonesia
ada di peringkat 2!! Tapi dari paling bawah, atau terburuk kedua..
Ini yang membuat Indonesia masih betah dengan status negara
"berkembang". Cuma sedikit orang yang mau dan mampu berkarya.
Di waktu teknologi seharusnya membantu malah membuntu.
Di waktu zaman buat jaya malah gaya.
Di waktu yang muda harusnya jadi menteri malah terus mikir materi.
Di waktu zaman buat jaya malah gaya.
Di waktu yang muda harusnya jadi menteri malah terus mikir materi.
Ir. Soekarno nggak bakal jadi pendiri bangsa kalo beliau nggak baca
Madilog-nya Tan Malaka.
R.A.Kartini nggak bakal jadi tokoh perempuan kalo beliau nggak baca Max Havelaar-nya Multatuli.
Bill Gates nggak bakal jadi milyuner kalo dia nggak baca The Catcher In The Rye-nya JD Sullinger.
R.A.Kartini nggak bakal jadi tokoh perempuan kalo beliau nggak baca Max Havelaar-nya Multatuli.
Bill Gates nggak bakal jadi milyuner kalo dia nggak baca The Catcher In The Rye-nya JD Sullinger.
Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, Bumi Manusia, Madilog, Anak Semua
Bangsa, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Ayat-Ayat Cinta, Rahvayana Aku lala padamu,
Sang Pemimpi, Hujan Bulan Juni, dan lain sebagainya.
Bukan tentang buku apa yang kita suka, tapi tentang nilai-nilai apa
yang bisa kita ambil hikmahnya.
Tidak melulu membaca genre yang kita suka, tapi bagaimana memilih bacaan apa yang bisa membuat kita berkembang darinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar