Minggu, 18 Maret 2018

(REVIEW) RAHVAYANA : Aku Lala Padamu



"Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir.Kamu dapat berencana menikah dengan siapa, tapi tak bisa kamu rencanakan cintamu untuk siapa."-Sujiwo Tejo.

Rahwana memiliki cinta yang dahsyat dan tulus, tapi tidak pernah memaksa. Ia tak pernah menyentuh Sinta. Meskipun cukup mudah baginya bila ia menginginkan hal itu. Kalau pun saja ada yang salah dari cinta Rahwana itu karena Rahwana masih kurang sabaran dalam menggapai cintanya.
*****
Buku ini merupakan dwilogi pertama nada dan kisah Ramayana-Sinta-Rahvana. Sujiwo Tejo menggambarkan romantisme kerinduan Rahwana kepada Sinta, melalui kumpulan surat yang kadang berbalas kadang tidak.


"Aku akan tetap menulis surat kepadamu. Besok pagi kertas surat ini akan aku lipat-lipat, aku bikin menjadi kapal-kapalan. Akan aku layarkan di tepi kali hingga membesar, membesar, membesar, dan membesar sebesar perahu Nuh dan pasti akan sampai kepadamu selama manusia masih memerlukan sungai. Dan, aku yakin itu. Persetan!!!"


Ada rasa yang kuat pada surat-surat Rahwana untuk Sinta. Seperti makna Aku Lala Padamu. Kerinduaan yang amat dalam sampai tidak bisa diwakili oleh sebuah kata. Jadilah nada lala, jadilah Aku Lala Padamu.

"Aku tahu, tak selamanya cacat itu buruk. Cacat otot wajah, yaitu lesung pada pipimu, indah. Kopyor, cacat kelapa, enak. Aku dan kamu menyukainya di Borobudur itu. Carica, pepaya cacat dari pegunungan Dieng, aku setuju ketika kamu katakan, "Oh, lezatnya".
 Aku hanya masih ingin cintamu sempurna kepadaku, tak peduli apa komentar Napas, Tan Napas, Nupus, dan Tan Nupus. Love."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar