Pride
and Prejudice merupakan karya sastra yang memberikan gambaran kehidupan
masyarakat di Inggris sekitar abad ke-19. Mr dan Mrs Bennet memiliki lima orang
putri yang terkenal cantik di wilayah Hertfordshire.
Suatu hari Mrs. Bennet
mendengar bahwa sebuah rumah mewah di wilayah itu baru saja dibeli oleh seorang
pemuda kaya. Terdorong oleh keinginannya menikahkan anaknya dan mengangkat
martabat keluarga, ia pun memaksa suaminya untuk mendatangi si orang asing dan
memperkenalkan putri-putrinya. Ia berharap, pemuda kaya itu akan memilih salah
satu dari mereka untuk dijadikan istri.
Pertemuan pun terjadi dan tak perlu
disangkal bahwa si pemuda kaya yang bernama Mr. Bingley segera jatuh cinta pada
anak tertua keluarga Bennet, Jane Bennet. Mr. Bingley ternyata tidak datang
sendirian, ia membawa sahabatnya Mr. Darcy dan adik perempuannya Miss Bingley.
Mr. Darcy langsung dikenal sebagai pria angkuh dan tak seorang pun menyukainya.
Seperti kebanyakan orang lainnya, Elizabeth Bennet pun memiliki kesan yang sama
terhadap pria ini, namun perbedaannya, Elizabeth mampu melemparkan argumentasi
tajam kepada Mr. Darcy yang membuat pria itu justru mulai mengagguminya.
Kisah happy ever after memang tak lekang oleh
waktu. Lihat saja kisah-kisah dongeng putri salju atau si cantik dan si buruk
rupa. Kisah-kisah yang penuh imajinasi dan memuat hal positif untuk disampaikan
berulang kali kepada siapa pun pendengarnya.
Aku melihat hal serupa pada karya
Austen ini, kisah romantisme sederhana yang selalu bisa menyesuaikan pada
setiap zaman yang dimasukinya. Menurutku ini menjadi salah satu kekuatan Pride
and Prejudice untuk terus bertahan sebagai novel populer yang terus diceritakan
dari masa ke masa.
Selain itu, para wanita biasanya selalu memiliki impian
menikahi seorang pria seperti Mr. Darcy. Seperti Austen sendiri, aku pun sangat
menyukai karakter Elizabeth Bennet, seorang wanita tangguh yang mampu
menyampaikan pendapat pribadinya serta tidak mengikuti tuntutan masyarakat pada
masa itu.
Masyarakat Inggris pada masa itu menganggap pernikahan adalah jalan
keluar terbaik bagi seorang wanita, siapapun pasangannya asalkan dapat
memberikan status sosial yang lebih baik. Tidak ada cinta, bukan masalah. Elizabeth
tidak peduli dengan aturan masa itu, she’s not going to settle for
anything less than what she wants, that’s the best part of her.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar