Selasa, 20 Maret 2018

(REVIEW) Pride and Prejudice, Novel Legendaris Jane Austen



Pride and Prejudice merupakan karya sastra yang memberikan gambaran kehidupan masyarakat di Inggris sekitar abad ke-19. Mr dan Mrs Bennet memiliki lima orang putri yang terkenal cantik di wilayah Hertfordshire. 

Suatu hari Mrs. Bennet mendengar bahwa sebuah rumah mewah di wilayah itu baru saja dibeli oleh seorang pemuda kaya. Terdorong oleh keinginannya menikahkan anaknya dan mengangkat martabat keluarga, ia pun memaksa suaminya untuk mendatangi si orang asing dan memperkenalkan putri-putrinya. Ia berharap, pemuda kaya itu akan memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan istri. 

Pertemuan pun terjadi dan tak perlu disangkal bahwa si pemuda kaya yang bernama Mr. Bingley segera jatuh cinta pada anak tertua keluarga Bennet, Jane Bennet. Mr. Bingley ternyata tidak datang sendirian, ia membawa sahabatnya Mr. Darcy dan adik perempuannya Miss Bingley. Mr. Darcy langsung dikenal sebagai pria angkuh dan tak seorang pun menyukainya. 

Seperti kebanyakan orang lainnya, Elizabeth Bennet pun memiliki kesan yang sama terhadap pria ini, namun perbedaannya, Elizabeth mampu melemparkan argumentasi tajam kepada Mr. Darcy yang membuat pria itu justru mulai mengagguminya. 

Kisah happy ever after memang tak lekang oleh waktu. Lihat saja kisah-kisah dongeng putri salju atau si cantik dan si buruk rupa. Kisah-kisah yang penuh imajinasi dan memuat hal positif untuk disampaikan berulang kali kepada siapa pun pendengarnya. 

Aku melihat hal serupa pada karya Austen ini, kisah romantisme sederhana yang selalu bisa menyesuaikan pada setiap zaman yang dimasukinya. Menurutku ini menjadi salah satu kekuatan Pride and Prejudice untuk terus bertahan sebagai novel populer yang terus diceritakan dari masa ke masa. 

Selain itu, para wanita biasanya selalu memiliki impian menikahi seorang pria seperti Mr. Darcy. Seperti Austen sendiri, aku pun sangat menyukai karakter Elizabeth Bennet, seorang wanita tangguh yang mampu menyampaikan pendapat pribadinya serta tidak mengikuti tuntutan masyarakat pada masa itu. 

Masyarakat Inggris pada masa itu menganggap pernikahan adalah jalan keluar terbaik bagi seorang wanita, siapapun pasangannya asalkan dapat memberikan status sosial yang lebih baik. Tidak ada cinta, bukan masalah. Elizabeth tidak peduli dengan aturan masa itu, she’s not going to settle for anything less than what she wants, that’s the best part of her.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar