REPUBLIKA.CO.ID, PADANG — Bupati Kepulauan Mentawai,
Sumatra Barat, Yudas Sibaggalet menyatakan pendapatan asli daerah (PAD) yang
diterima dari bidang pariwisata pada 2017 mencapai Rp 7,3 miliar. Pendapatan
ini belum termasuk Pajak Bumi Bangunan yang datang dari resort yang
ada di Mentawai yang diperkirakan sebesar Rp 4 miliar.
Menurut dia jumlah pendapatan yang datang dari Pajak Bumi
Bangunan resort mentawai pada 2017
sekitar Rp 4 miliar. Di Kabupaten Kepulauan Mentawai terdapat sekitar 23 resort,
tetapi hanya ada 10 yang memiliki skala besar.
Sebagian besar resort tersebut dikelola orang
warga negara asing melalui penanaman modal asing (PMA). Mereka menyewa lahan
masyarakat dan mendirikan resort di beberapa
wilayah. Selain itu, ada juga resort yang dikelola oleh
masyarakat setempat.
"WNA secara aturan hukum tidak memiliki lahan tapi mereka
hanya mengelola resort yang ada di sana. Resort itu
juga memberikan dampak ekonomi berupa tenaga kerja. Sekitar 90 persen pekerja
di resort adalah
orang Mentawai. Namun untuk level manejer belum ada karena keterbatasan sumber
daya manusia," kata dia didampingi Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan
Olahraga (Disparpora) Mentawai Desti Seminora di Padang, Ahad (18/3).
Pemkab Melawai mencatat ada sekitar 10.500 warga negara asing
yang mengunjungi Mentawai pada 2017, lebih dari 50 persen berasal dari
Australia, Amerika Serikat, Brazil, Jepang dan Spanyol. Selain itu untuk
menambah pendapatan daerah, setiap wisatawan luar negeri yang ingin berselancar
di Mentawai dikenakan biaya Rp 1 juta per orang.
Mereka yang telah membayar retribusi diberikan karcis dan gelang
sebagai tanda telah melakukan pembayaran. Ia mengatakan retribusi itu hanya
berlaku selama 15 hari.
"Apabila mereka menambah waktu kunjungan untuk berselancar
tentu harus membayar kembali sebesar Rp 1 juta. Uang retribusi itu langsung
masuk ke dalam kas daerah dari bidang pariwisata," kata dia.
Menurut dia hampir semua pulau yang ada di Mentawai menjadi
tujuan wisatawan. Namun, yang paling banyak dikejar adalah lokasi yang memiliki
ombak yang bagus untuk berselancar seperti di Pulau Siberut Barat Daya
memanjang hingga ke Sipora Selatan.
"Di sana banyak titik
yang digunakan untuk berselancar dan disukai oleh wisawatan asing,"
ujarnya.
Yudas mengatakan pihaknya akan menjadikan pariwisata sebagai
lokomotif untuk memajukan Kabupaten Kepulauan Mentawai terutama ketika akan
dibangunnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mentawai. "KEK Mentawai akan
dibangun di atas lahan seluas 2.600 hektare, keberhasilan pembangunan ini tentu
bukan hanya untuk Mentawai saja akan tetapi juga Sumatera Barat," kata dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar