Kata – kata merangsangmu untuk senatiasa mencari, tetapi sasaran atas pencarianmu tidak akan tercapai melalui kata – kata. Sebab apabila sasaran itu dapat diapai dengan kata – kata, tidak ada artinya usaha keras dan pemusnahan diri dalam Tuhan.Kata – kata ibarat gerakan benda di kejauhan. Karena melihat gerakan itu, engkau ingin melihat benda apa yang seungguhnya. Gerakan benda itulah yang merangsang engkau menyaksikan benda itu.
Buku ini adalah karya
Jalaludin Rumi, Sufi terbesar dunia yang memiliki pengaruh sangat besar dalam dunia
sastra dan pemikiran para sufi. Buku ini sesungguhnya merupakan catatan yang
ditulis oleh murid-murid Rumi saat mengikuti sesi pembelajaran di kelas.
Rumi adalah tokoh sufi yang
hidup antara tahun. Awalnya ia adalah seorang pencari kebenaran dalam arti
pencari kebenaran intelektual lewat buku-buku literasi ilmiah yang bertumpuk
dan seorang pengajar dalam sebuah majelis-majelis ilmu.
Dalam perjalanannnya
menuju pencarian itu ia bertemu dengan seorang yang secara tiba-tiba masuk
dalam ruang pembelajarannya dan membakar buku-buku Rumi yang dipakai dalam
pembelajaran itu. Tentu saja Rumi sangat kaget dengan kelakuan yang dilakukan
orang yang baru datang di majelisnya itu.
Inilah sesungguhnya peristiwa
maha penting dalam spiritualitas Rumi tentang bagaimana cara berpikirnya
tentang kehidupan mengalami perubahan. Kejadian itu adalah awal baginya untuk
memaknai apa yang sesungguhnya. Bahwa apa yang ada dalam kehidupan ini
sesungguhnya adalah pencarian dan upaya untuk menggapai cinta yang hakiki.
Sosok laki-laki yang datang dalam majelis Rumi saat itu adalah Syamsudin
Tabrizi yang telah mengantarkan Rumi menjadi sufi besar sepanjang masa.
Kedatangannya yang tiba-tiba telah menyentak alam berpikirnya bahwa tiada yang
utama dan penting dalam pencarian hidup ini kecuali kedekatan pada Tuhan.
Itulah makna pencarian yang sebenarnya dalam kehidupan. Sejak saat itu Rumi
mulai menekuni dunia sufi dalam persekutuan abadi dan pencarian hakiki pada
Tuhan. Kesedihannya adalah ketika Tuhan jauh dari hidupnya.
Fihi Ma Fihi atau inilah apa
yang sesungguhnya yang diterjemahkan oleh A.J Arbery memaparkan dengan sangat
elegan tentang perilaku kita dalam kehidupan. Apakah benar apa yang kita
lakukan menuju pada gapaian yang abadi dan hakiki atau hanya mengikuti dorongan
pandangan sesaat atau hawa nafsu semata. Atau kesombongan dan kebutaan
intelektual dan melupakan hakekat yang sebenarnya dari perjalanan hidup kita
yang sebenarnya.
Fihi Ma Fihi adalah catatan yang dibuat oleh murid-murid Rumi
saat mendengarkan kelasnya di sesi pembelajaran yang sangat agung dan penuh
kecintaan pada Tuhan. Beragam wacana dimunculkan berbagai puisi dalam banyak
tema dicipta dalam kalimat-kalimat yang mengalir bak air gunung yang
mengalirkan kesejukan,dimana suara gemericik menentramkan Jiwa, percik air yang
mengenai muka kita membuat kita bercahaya dalam cahaya Tuhan akhir dari
pencarian dan tujuan utama kedamaian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar