Senin, 19 Maret 2018

(REVIEW) FIHI MA FIHI, Karya Sang Maestro Sufi Rumi



Kata – kata merangsangmu untuk senatiasa mencari, tetapi sasaran atas pencarianmu tidak akan tercapai melalui kata – kata. Sebab apabila sasaran itu dapat diapai dengan kata – kata, tidak ada artinya usaha keras dan pemusnahan diri dalam Tuhan.Kata – kata ibarat gerakan benda di kejauhan. Karena melihat gerakan itu, engkau ingin melihat benda apa yang seungguhnya. Gerakan benda itulah yang merangsang engkau menyaksikan benda itu.



Buku ini adalah karya Jalaludin Rumi, Sufi terbesar dunia yang memiliki pengaruh sangat besar dalam dunia sastra dan pemikiran para sufi. Buku ini sesungguhnya merupakan catatan yang ditulis oleh murid-murid Rumi saat mengikuti sesi pembelajaran di kelas.

Rumi adalah tokoh sufi yang hidup antara tahun. Awalnya ia adalah seorang pencari kebenaran dalam arti pencari kebenaran intelektual lewat buku-buku literasi ilmiah yang bertumpuk dan seorang pengajar dalam sebuah majelis-majelis ilmu. 

Dalam perjalanannnya menuju pencarian itu ia bertemu dengan seorang yang secara tiba-tiba masuk dalam ruang pembelajarannya dan membakar buku-buku Rumi yang dipakai dalam pembelajaran itu. Tentu saja Rumi sangat kaget dengan kelakuan yang dilakukan orang yang baru datang di majelisnya itu.


Inilah sesungguhnya peristiwa maha penting dalam spiritualitas Rumi tentang bagaimana cara berpikirnya tentang kehidupan mengalami perubahan. Kejadian itu adalah awal baginya untuk memaknai apa yang sesungguhnya. Bahwa apa yang ada dalam kehidupan ini sesungguhnya adalah pencarian dan upaya untuk menggapai cinta yang hakiki. 

Sosok laki-laki yang datang dalam majelis Rumi saat itu adalah Syamsudin Tabrizi yang telah mengantarkan Rumi menjadi sufi besar sepanjang masa. Kedatangannya yang tiba-tiba telah menyentak alam berpikirnya bahwa tiada yang utama dan penting dalam pencarian hidup ini kecuali kedekatan pada Tuhan. 

Itulah makna pencarian yang sebenarnya dalam kehidupan. Sejak saat itu Rumi mulai menekuni dunia sufi dalam persekutuan abadi dan pencarian hakiki pada Tuhan. Kesedihannya adalah ketika Tuhan jauh dari hidupnya.

Fihi Ma Fihi atau inilah apa yang sesungguhnya yang diterjemahkan oleh A.J Arbery memaparkan dengan sangat elegan tentang perilaku kita dalam kehidupan. Apakah benar apa yang kita lakukan menuju pada gapaian yang abadi dan hakiki atau hanya mengikuti dorongan pandangan sesaat atau hawa nafsu semata. Atau kesombongan dan kebutaan intelektual dan melupakan hakekat yang sebenarnya dari perjalanan hidup kita yang sebenarnya. 

Fihi Ma Fihi adalah catatan yang dibuat oleh murid-murid Rumi saat mendengarkan kelasnya di sesi pembelajaran yang sangat agung dan penuh kecintaan pada Tuhan. Beragam wacana dimunculkan berbagai puisi dalam banyak tema dicipta dalam kalimat-kalimat yang mengalir bak air gunung yang mengalirkan kesejukan,dimana suara gemericik menentramkan Jiwa, percik air yang mengenai muka kita membuat kita bercahaya dalam cahaya Tuhan akhir dari pencarian dan tujuan utama kedamaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar