Distilasi Alkena adalah sebuah proses memisahkan dua hati yang pada dasarnya tak bisa dipisahkan karena suatu ikatan perasaan. Walaupun dalam perjalanannya, hati akan tumbuh untuk bisa merelakan. Karena cepat atau lambat, entah maut atau orang lain yang menyebabkan hubungan selanggeng apa pun akan dapat dipisahkan. Maka, yang terbaik adalah mencintai dalam keikhlasan.
Sebab, ribuan pelukan akan tetap menguap bila dihadapkan sebuah kepergian.
Jadi beberapa waktu yang lalu aku tertarik beli buku ini setelah
liat postingan salah satu saudara yang kuliah di Jerman. Nggak sia-sia buku ini
terbang melintasi samudra dan benua yang berbeda.
Pertama kali buka dan baca, buku ini punya keunikan tersendiri.
Biasanya cinta akan melekat dengan yang namanya hujan, sepi, malam, senja. Tapi
tidak dengan tulisan Wira, komika ini malah memilih mengungkapkan semua perasaannya, menganalogikan ke dalam bahasa kimiawi.
Itu pula yang menjadi alasan yang melatar belakangi pemilihan judul Distilasi
Alkena.
Dengan membaca tulisan-tulisan
Wira, kita dapat menemukan seberapa romantis sosok pria yang satu ini. Bahasa
yang digunakan dalam puisi ini sangatlah mudah dipahami dan juga diksi yang
beraneka ragam sangat mampu mebuat baik pembaca maupun pendengar tergugah
perasaannya.
Distilasi
Alkena
Karya : Wira
Nagara
Pernah bahagia kita merekah indah tanpa
sedikitpun gelisah
Saat lantunan rindu adalah alasan setiap
pertemuan
Saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan
Semurung mendung sederas hujan
Mimpiku memuai hebat pada ketiadaan
Aku tak pernah menyesal akan keputusanmu
memilihnya
Yang aku sesalkan adalah tiada sedikitpun
kesempatan
Bagiku membuatmu bahagia
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu
Waktu pun mengurai tetes hujan menjadi
bulir-bulir kenangan
Ia menelusup tanpa permisi membasahi nurani
merangkak naik menyusun kata yang dibicarakan
oleh pelupuk
Memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat
penuh derita
Degub jantung menyatu detik, meyuarakan
penyesalan yang runtuh menitik
Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian
tak pernah kau beri
Sadarlah!
Aku telah mencintaimu dengan terengah-engah
Mencibir ogsigen dengan menjadikanmu
satu-satunya udara yang aku izinkan
Mengisi setiap rongga
Menghempas darah dengan namamu yang mengalir
membuat jantungku tetap berirama
Padamu aku jatuh hati, bahkan sebelum Tuhan
merencanakan adam dan hawa diturunkan ke bumi
Kesalahanku, tak pernah mencintai selain kamu
Tingkat sepi yang paling mengerikan, adalah
sepi dalam keramaian
Mengulik rasa secara primitif dan tak
mengenali dunia telah jauh mengalami perubahan
Bagaimana mungkin, aku menjauh jika hanya
padamu keakuanku luluh?
Bagaimana mungkin, aku pergi jika bayanganmu
masih saja menghiasi mimpi?
Bagaimana mungkin, aku berpindah bila hanya
padamu hatiku bisa singgah?
Bagaimana mugkin?
Bagaimana mungkin?
Kau memilih orang lain?
Detik yang berbaris hanya membuat pengharapan
semakin miris
Kau tak bergeming, kau tak pernah menjawab
dengan alasan caraku mendambamu terlampau bising
Otakku terus meneriakan penyesalan sembari
bertanya tentang kenapa
Pada sikapmu yang terlalu membuat semesta
menerka-nerka
Tangkupan tanganku masih saja menggenggam
harap untukmu
Namun keegoisanmu membuatnya kosong laksana
harapan semu
Kesalahanku, Isi doaku tak pernah selain
namamu
Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi
cinta adalah tentang keikhlasan
Segala rela aku coba tumpahkan
Pada rajutan tinta yang menulis namaku dalam
undangan pernikahan
Paling tidak, aku pernah merasakan perihnya
ditolak tanpa penjelasan
Paling tidak, aku pernah menyadari sakitnya
mendamba tanpa balas peduli
Paling tidak, aku akhirnya bisa melihat sosok
terbaik yang akan mendampingimu
Memakaikan cincin di jemarimu, mencium
keningmu, dan bersanding bahagia berbagi senyuman dengan mu
Terima kasih atas segala rasa, pada hari itu
aku pun turut mengucap bahagia
Mencoba Ikhlas
Walau air mata pasti mengucur deras
Kesalahanku, adalah tak pernah merasa bahwa
untukku kau tak pernah punya cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar