Setelah cerita panjang lebar tentang dunia perwayangan, saya
menyinggung sedikit, "Pak, saya sekarang sedang tertarik dengan kisah
Ramayana. Lakon favorit saya sebetulnya malah Rahwana nya pak."
"Lha kok gitu nduk?", tanya bapak paruh baya itu
penasaran.
"Bagi saya, sebetulnya Rahwana adalah tokoh protagonis, yang
karena tuntutan sudut pandang cerita, akhirnya menjadi antagonis.
Rahwana adalah tokoh yang romantis. Meskipun dia mencintai Sinta,
tapi dia tidak pernah memaksa. Ia tidak pernah menyentuh Sinta."
Bapak nyanggujeng, sambil bilang, "Memang.. Rahwana itu tokoh
yang unik. Dia adalah makhluk yang romantis. Bagi saya pun, cara dia mencintai
Sinta tidak salah.
Karena cinta itu bukan dia yang menginginkan. Cinta itu datang,
karena Tuhan yang memunculkannya di dalam sukma Rahwana.
Kalau pun saja ada yang salah dari cinta Rahwana, itu karena
Rahwana masih kurang sabaran dalam menggapai hati Sinta."
Ternyata gelembung-gelembung Rahwana tidak hanya menjangkiti
kalangan anak muda seperti saya, tapi juga sudah menghinggapi bapak bapak
berumur sepuh seperti beliau tadi.
***
Ah, Rahwana.. Aku tau kau belum mati. Tubuhmu mungkin.. tapi tidak
jiwamu.
Jiwamu yang terus hidup dan berubah menjadi gelembung-gelembung
yang bisa menyentuh siapapun, tak terkecuali aku.
Seandainya gelembung-gelembung mu bisa berbicara langsung
kepadaku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar