Pada waktu itu, salah satu dosen saya memberikan penjelasan dan
sikap beliau terhadap Feminisme. Beliau prihatin dengan permasalahan perempuan
yang menjadi korban industri kapitalisme, sehingga sering kali merasakan krisis
kepercayaan diri. Kemudian memunculkan standar-standar kecantikan (berlebihan)
yang mereka buat sendiri.
Peran dominan laki-laki sebagai 'pengamat' pun menjadi salah satu faktor.
Peran dominan laki-laki sebagai 'pengamat' pun menjadi salah satu faktor.
Beliau bertanya kepada mahasiswa laki-laki satu persatu. Cantik itu
gimana sih?
Jawaban mereka bervariasi, tapi memiliki garis besar yang hampir
sama. Harus putih, harus kurus, harus rambut panjang, harus berbibir tipis,
harus tidak terlalu tinggi, dan penilaian-penilaian yang lain.
Kemudian beliau bertanya lagi kepada masing-masing mahasiswa
perempuannya. Menurut kamu, kamu itu cantik nggak?
Hampir semua menjawab, "Tergantung cowok yang ngeliat."
Hanya dua orang yang dengan percaya diri mengatakan dirinya cantik.
Hanya dua orang yang dengan percaya diri mengatakan dirinya cantik.
Giliran saya yang ditanya, dengan tegas saya jawab,
"Tergantung emak saya ngeliatnya gimana." Hehehe
Penilaian ummi bagi saya sangatlah mutlak. Kalo mau pulang, takut
banget berat badan naik. Mau makan aja kayak ngerasa berdosa. Kalo pas di
rumah, nginguk dapur lebih dari tiga kali sehari, ummi bakalan sanjang,
"Udah, udah.. jangan makan lagi, nanti badan mengembang kayak poskamling.."
Sekian kekhawatiran saya akhir-akhir ini. Menuju momen pulang
kampung, sudah bingung ini berat badan naik apa kagak.. wkwkwkwk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar